14.10.26

Dilema Antara Pikiran dan Tindakan - Essay 2

Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | Psikologi Inovasi | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A

 

Disonansi kognitif adalah teori klasik yang dicetuskan oleh Festinger pada 1957 (Alfitman, 2017). Makna dari disonansi kognitif adalah memiliki keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan pada psikologis individu yang memiliki dua nilai, sikap, dan keyakinan yang bertentangan pada periode waktu bersamaan (Dhanda, 2020). Pada dasarnya hampir setiap individu mengalami disonansi kognitif hanya saja ranahnya berbeda-beda. Kesimpulannya disonansi kognitif merupakan sikap pada individu yang tidak selalu merugikan orang sekitar tapi merugikan diri sendiri. Beberapa disonansi yang sering terjadi dimasyarakat, yaitu meyakini bahwa rokok membahayakan bagi kesehatan tubuh namun masih tetap merokok. Makanan dipinggir jalan yang terpapar debu dan tidak ada penghalangnya berisiko tinggi jika dikonsumsi namun masih saja jajan dan beli makanan dipinggir jalan.

            Saya melakukan wawancara dengan subjek berinisial “R” pada 12 Oktober 2026. Pada sesi wawancara saya mendalami terlebih dahulu kesibukan dan aktivitas sehari-hari serta kesehatan dirinya. Hal tersebut dilakukan agar mengetahui apakah ada sikap yang menunjukkan disonansi kognitif pada subjek. Setelah saya gali lebih dalam, ia sangat suka sekali mencoba berbagai makanan yang ada dipinggir jalan. Dia menyadari dan mengetahui bahwa yang dilakukannya dapat membahayakan pada kesehatan serta imun tubuh, namun tetap membeli jajanan jika melihat makanan yang unik dan menarik. Hal tersebut berulang kali dilakukan, sebenarnya dia berupaya untuk berhenti atau mengurangi jajanan yang ada dipinggir jalan namun ia mudah tergiur dengan makanan sehingga sulit untuk menghentikannya.

            Wawancara pun semakin mengalir dan rupanya saya menemukan sikap disonansi kognitif kedua yang beriringan dengan jajan. Perilaku yang dia lakukan adalah membuang sampah sembarangan di jalanan atau melempar bungkus jajanan ke selokan. Beberapa kali dia memang sering ditegur oleh temannya, namun ia tetap melakukannya. Motif dari perbuatan yang dia lakukan katanya lebih praktis buang dimana saja. Dia juga menyadari tindakan yang dilakukannya salah namun berulang kali tetap dilakukan. Setiap dia ditegur oleh temannya terkadang ia merasa malu, mengikuti instruksinya untuk membuang ketika ada tong sampah, dan terkadang juga dia abaikan.

            Kesimpulannya adalah disonansi kognitif hampir dilakukan oleh setiap orang. Disonansi kognitif akan sulit untuk dihentikan sepenuhnya oleh individu. Jadi alih-alih berusaha untuk berhenti dan berusaha menghindari disonansi kognitif, lebih baik jika perlahan dikurangi. Hal utama yang perlu dilakukan oleh individu adalah berusaha menyelaraskan apa yang disadari dan diketahui dengan kehidupan sehari-hari.

 

Referensi:

Alfitman. (2017). Konstruk disonansi kognitif dalam penelitian perilaku konsumen: apakah. KONSTRUK DISONANSI KOGNITIF DALAM PENELITIAN PERILAKU KONSUMEN: APAKAH POPULARITASNYA MEMANG SUDAH MEREDUP?, 22, 44–57.

Dhanda, B. (2020). Cognitive Dissonance , Attitude Change and Ways to Reduce Cognitive Dissonance : A Review Study. 33(6), 48–54. https://doi.org/10.9734/JESBS/2020/v33i630236

 

0 komentar:

Posting Komentar