23.7.26

UAS Psikolog Inovasi Juli 2026_Nunung Setyowati (24310430208)

 

MEMBANGUN KEBERUNTUNGAN MELALUI SEMANGAT BERPRESTASI: ANALISIS PSIKOLOGIS NEED FOR ACHIEVEMENT DAN TEORI KEBERUNTUNGAN DALAM KEWIRAUSAHAAN

 



Nama : Nunung Setyowati

NIM : 24310430208

Program Studi : Psikologi

Universitas : Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Arundati Shinta


Pendahuluan: Antara Usaha dan Keberuntungan

Dalam dunia kewirausahaan, sering kali kita mendengar kisah sukses yang dikaitkan dengan keberuntungan. Namun, benarkah keberuntungan hanya faktor kebetulan? Psikologi inovasi menawarkan perspektif berbeda, bahwa di balik keberuntungan terdapat konstruksi psikologis yang dapat dipahami, diukur, bahkan dilatih. Kisah Ruben dalam The Crocodile River (Harper, 1984) memberikan ilustrasi yang kuat tentang bagaimana seorang individu dapat menciptakan "keberuntungan"-nya sendiri.

Ruben, seorang pengusaha persewaan sampan di sungai yang penuh buaya, tidak hanya bertahan tetapi juga berhasil mengembangkan usahanya. Apa yang membedakan Ruben dari orang lain yang mungkin gagal di situasi serupa? Jawabannya terletak pada dorongan psikologis yang disebut need for achievement (nAff) dan penerapan prinsip-prinsip psikologi positif dalam memaknai setiap peristiwa hidup.

 

Memahami Need for Achievement (nAff)

Karakteristik paling menonjol dari seorang entrepreneur adalah semangatnya untuk berprestasi atau need for achievement (nAff). Konsep ini, yang dipopulerkan oleh Douglas McGregor dari Harvard University dalam karyanya The Human Side of Enterprise (1960), merujuk pada dorongan individu untuk berbuat sebaik mungkin, bahkan lebih baik dari orang lain, demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Tujuan tersebut harus realistis namun sekaligus menantang kemampuannya. Jika tujuan terlalu mudah, individu akan kehilangan semangat karena tidak ada tantangan. Sebaliknya, jika tujuan dirasakan terlalu sulit dan tidak realistis, individu akan putus asa sebelum memulai. McGregor juga meyakini bahwa nAff dapat dilatih melalui latihan menulis hal-hal positif dan pembuatan cerita emosional pada kartu TAT (Thematic Apperception Test). Kartu TAT, seperti yang digambarkan dalam soal, adalah tentang sepasang kekasih yang sedang bersitegang. Kartu ini merupakan alat proyektif yang dapat mengungkap motif, konflik, dan dinamika psikologis seseorang.

 

Ruben dan Empat Prinsip Keberuntungan Wiseman

Kisah Ruben dalam The Crocodile River (Harper, 1984) menunjukkan bagaimana nAff yang tinggi dapat menuntun seseorang pada "keberuntungan". Perilaku Ruben selaras dengan teori keberuntungan dari Robert Wiseman (2003) yang menyatakan bahwa keberuntungan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pola pikir serta perilaku tertentu. Wiseman mengidentifikasi empat prinsip utama yang membedakan orang-orang yang beruntung.

1. Individu yang beruntung sering bergaul dengan orang-orang sukses dan menghindari orang yang bermasalah. Ruben memilih untuk fokus pada persoalannya sendiri dan menjauhi Lorena, yang dinilai bermoral buruk karena bersedia menjual dirinya demi uang. Keputusan ini menunjukkan bahwa Ruben tidak membiarkan pengaruh negatif menghambat kemajuannya. 

2. Individu yang beruntung rajin berlatih keterampilan sendiri. Ruben terus memperbaiki kemampuannya dalam membangun usaha persewaan sampan, bahkan melihat sungai buaya sebagai wahana untuk mengasah keterampilannya menciptakan sampan yang aman. 

3. Individu yang beruntung mampu melihat sisi positif dari musibah. Perseteruan Ruben dengan Lorena justru menyelamatkannya dari penyimpangan moral, menjadikannya tidak terpengaruh pada upaya-upaya menjual diri demi kemajuan perusahaan. 

4. Individu yang beruntung melatih kejelian dalam membuat keputusan yang tepat. Ruben sering bermeditasi pada tengah malam untuk mengasah kepekaannya melihat jalan hidup, meyakini bahwa tidak ada kebetulan dan segala sesuatu memiliki makna yang membuatnya lebih baik.

 

Masalah: Ketimpangan antara Motivasi dan Realitas Struktural

Meskipun teori nAff dan prinsip Wiseman tampak kuat dalam menjelaskan kesuksesan individu, terdapat masalah kritis yang perlu diangkat. Banyak calon entrepreneur di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, gagal bukan karena kurangnya semangat berprestasi, melainkan karena hambatan struktural seperti akses modal yang terbatas. Kasus Ruben, yang digambarkan dalam konteks yang relatif sederhana, mungkin terlalu naif jika diterapkan pada realitas UMKM di Indonesia yang kompleks.

Selain itu, pengabaian terhadap faktor eksternal seperti diskriminasi struktural dan dukungan sosial menjadi kelemahan teori ini. Lorena, yang digambarkan sebagai tokoh bermasalah dengan nAff rendah, mungkin juga merupakan korban dari sistem yang tidak mendukungnya. Apakah adil menyimpulkan bahwa Lorena "tidak punya potensi untuk maju" hanya karena pilihan moralnya? Pertanyaan ini mengajak kita untuk berpikir kritis tentang determinisme psikologis versus pengaruh lingkungan.

 

Solusi: Integrasi Dorongan Internal dan Dukungan Eksternal

Solusi dari permasalahan ini bukanlah meninggalkan teori nAff, melainkan mengintegrasikannya dengan kesadaran akan faktor eksternal. Pertama, pelatihan nAff melalui menulis esai positif dan latihan TAT tetap relevan untuk membangun ketahanan mental. Namun, pelatihan ini harus dibarengi dengan penguatan ekosistem kewirausahaan yang inklusif, seperti akses permodalan, pendampingan bisnis, dan jaringan profesional. Kedua, individu perlu belajar dari Ruben dalam hal fokus dan kejelian, tetapi juga harus kritis terhadap narasi "keberuntungan" yang mengabaikan privilese. Keberuntungan bukanlah alasan untuk mengabaikan mereka yang kurang beruntung secara struktural. Ketiga, konsep "menjauhi orang bermasalah" seperti Lorena perlu ditafsirkan ulang.

Dalam konteks nyata, membangun relasi yang sehat tidak berarti mengisolasi diri dari mereka yang sedang berjuang, melainkan belajar untuk menetapkan batas yang sehat tanpa kehilangan empati. Dengan demikian, semangat berprestasi (nAff) dan prinsip keberuntungan Wiseman dapat menjadi alat yang kuat, bukan untuk menyalahkan mereka yang gagal, tetapi untuk memberdayakan mereka yang ingin bangkit.

 

Penutup: Keberuntungan sebagai Konstruksi Psikologis

Kisah Ruben dalam The Crocodile River dan teori McGregor serta Wiseman mengajarkan kita bahwa keberuntungan bukanlah takdir buta, melainkan hasil dari dorongan internal, pola pikir, dan tindakan. Namun, sebagai mahasiswa psikologi, kita juga dituntut untuk tidak terjebak dalam individualisme sempit. Keberuntungan adalah konstruksi psikologis yang dipengaruhi oleh faktor personal dan kontekstual.

Dengan memahami kedua sisi ini, kita dapat merancang intervensi yang lebih holistik untuk mengembangkan entrepreneur yang tangguh, tidak hanya secara psikologis tetapi juga didukung oleh lingkungan yang memungkinkan mereka untuk berkembang. Pada akhirnya, pertanyaan yang diajukan dalam soal bukan sekadar ajakan untuk mengulang teori, melainkan undangan untuk berpikir kritis, berempati, dan berkontribusi pada ekosistem kewirausahaan yang lebih adil dan manusiawi.

 

Daftar Pustaka

Harper, M. (1984). Entrepreneurship for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).

McGregor, D. (1960). The human side of enterprise. New York: McGraw-Hill.

Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

 

0 komentar:

Posting Komentar