23.7.26

ESSAY UAS Psikologi Inovasi - Fairus Adhytia S (23310410112)

Fairus Adhytia Setiawan

23310410112 (Kelas Karyawan)

Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.

Juli 2026


Need for Achievement dan Keberuntungan: Refleksi atas Semangat Berprestasi sebagai Fondasi Inovasi Diri

Salah satu konsep penting dalam psikologi adalah Need for Achievement (nAch) yang menjelaskan dorongan seseorang untuk mencapai prestasi terbaik melalui usaha yang sungguh-sungguh. Konsep ini dikemukakan oleh Douglas McGregor dari Harvard University ketika ia sedang melakukan penelitian untuk disertasinya di India (McGregor, 1960). Individu dengan nAch tinggi cenderung menetapkan tujuan yang menantang namun tetap realistis, sehingga memiliki motivasi untuk terus berkembang. Dalam dunia kewirausahaan, karakter ini sangat penting karena seorang entrepreneur harus mampu menghadapi ketidakpastian, mengambil keputusan, serta terus belajar dari berbagai pengalaman. Oleh karena itu, saya sependapat bahwa semangat berprestasi bukan merupakan sifat bawaan semata, melainkan dapat dikembangkan melalui latihan berpikir positif, refleksi diri, dan pengalaman hidup yang bermakna.

Permasalahan yang sering muncul adalah banyak individu menetapkan tujuan yang tidak sesuai dengan kapasitas dirinya. Sebagian orang memasang target yang terlalu rendah sehingga tidak terdorong untuk berkembang, sedangkan sebagian lainnya menetapkan target yang terlalu tinggi hingga merasa gagal sebelum memulai. Kondisi ini mengakibatkan menurunnya motivasi, rasa percaya diri, dan munculnya kecenderungan untuk menyerah ketika menghadapi hambatan. Selain itu, lingkungan sosial juga berpengaruh besar terhadap pembentukan motivasi berprestasi. Bergaul dengan individu yang pesimis, tidak disiplin, atau memiliki perilaku tidak bermoral dapat menghambat perkembangan potensi seseorang (McGregor, 1960).

McGregor (1960) menegaskan bahwa dorongan berprestasi dapat dilatih melalui pembiasaan berpikir positif dan latihan yang menyentuh aspek emosional, seperti penulisan cerita reflektif atau penggunaan instrumen proyektif seperti Thematic Apperception Test (TAT). Menurut saya, pendekatan ini masih relevan hingga saat ini karena kebiasaan berpikir positif mampu membentuk keyakinan bahwa tantangan dapat dihadapi melalui usaha yang konsisten. Namun, berpikir positif saja tidak cukup apabila tidak diikuti tindakan nyata. Seorang entrepreneur tetap harus memiliki disiplin, kemampuan mengevaluasi diri, keberanian mengambil risiko yang terukur, dan kemauan belajar dari kegagalan.

Kasus Ruben dalam The Crocodile River (Harper, 1984) memberikan gambaran bahwa keberuntungan sebenarnya tidak muncul secara kebetulan. Ruben memilih tetap berpegang pada prinsip moral, fokus mengembangkan usaha persewaan sampan, dan tidak tergoda oleh jalan pintas yang ditawarkan Lorena. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh integritas dan konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai yang diyakini. Saya melihat Ruben sebagai sosok yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas dirinya maupun usahanya, sebuah pola yang sejalan dengan ciri individu ber-nAch tinggi menurut McGregor (1960).

Meskipun demikian, saya kurang sependapat apabila karakter Lorena langsung disimpulkan sebagai pribadi yang tidak memiliki potensi untuk maju hanya karena mengambil keputusan yang keliru secara moral. Perilaku seseorang sering kali dipengaruhi oleh tekanan ekonomi, lingkungan sosial, maupun kondisi psikologis yang kompleks. Tindakan Lorena memang tidak dapat dibenarkan dari sisi moral, tetapi bukan berarti ia kehilangan kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam perspektif psikologi inovasi, setiap individu memiliki peluang melakukan perubahan apabila memperoleh dukungan, pembelajaran, dan motivasi yang tepat. Oleh karena itu, penilaian terhadap seseorang sebaiknya dilakukan secara lebih objektif dan tidak hanya berdasarkan satu tindakan.

Teori keberuntungan dari Wiseman (2003) juga memberikan sudut pandang yang menarik. Empat faktor yang dikemukakan, yaitu membangun relasi dengan orang-orang positif, terus mengasah keterampilan, melihat sisi baik dari setiap kesulitan, serta mampu mengambil keputusan secara bijaksana, merupakan kebiasaan yang secara langsung mencerminkan karakter individu ber-nAch tinggi. Ruben menjalankan keempat faktor ini secara nyata: ia menjaga jarak dari pengaruh destruktif Lorena, terus menyempurnakan desain sampannya di sungai buaya, memaknai konflik sebagai pelajaran moral, dan melatih kepekaan keputusan melalui refleksi diri di tengah malam. Saya menilai bahwa konsep keberuntungan dalam teori Wiseman sebenarnya lebih dekat dengan kesiapan individu dalam memanfaatkan kesempatan daripada sekadar nasib baik.

Solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan nAch adalah menetapkan tujuan yang spesifik, realistis, dan bertahap seperti yang dilakukan Ruben yang memulai dari usaha sampan kecil sebelum berkembang lebih besar. Selain itu, penting untuk melakukan evaluasi diri secara rutin agar dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Lingkungan pergaulan juga perlu diperhatikan dengan memilih orang-orang yang mampu memberikan inspirasi dan kritik yang membangun (Wiseman, 2003). Di sisi lain, kemampuan mengelola kegagalan juga harus dilatih. Setiap kegagalan sebaiknya dipandang sebagai sumber pembelajaran, bukan sebagai bukti bahwa seseorang tidak mampu mencapai kesuksesan (McGregor, 1960).

Kesimpulannya, sebagai mahasiswa saya setuju bahwa need for achievement merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun jiwa entrepreneur. Dorongan berprestasi yang tinggi akan membantu seseorang tetap berusaha meskipun menghadapi berbagai rintangan. Namun, keberhasilan tidak cukup hanya mengandalkan motivasi atau berpikir positif. Keberhasilan juga memerlukan tindakan nyata, disiplin, integritas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian belajar dari pengalaman. Kisah Ruben mengajarkan bahwa keberuntungan sering kali merupakan hasil dari keputusan yang bijaksana, kerja keras, dan kemampuan menemukan makna positif di balik setiap tantangan hidup (Harper, 1984). Dengan demikian, psikologi inovasi mengajarkan bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dimulai dari cara berpikir, diwujudkan melalui tindakan, dan dipertahankan dengan komitmen yang konsisten.


DAFTAR PUSTAKA

Harper, S. C. (1984). The Crocodile River. McGraw-Hill.

McGregor, D. (1960). The human side of enterprise. McGraw-Hill.

Wiseman, R. (2003). The luck factor: The scientific study of the lucky mind. Arrow Books.

0 komentar:

Posting Komentar