Peran Need for Achievement dalam Membangun Jiwa Entrepreneur: Antara Motivasi, Tantangan, dan Etika
Nama : Ainun Awanda Frisca
NIM : 24310430013
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Kelas Karyawan
Esai 10
UAS ( Ujian Akhir Semester)
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A
Di dunia kewirausahaan, keberhasilan seorang entrepreneur tidak hanya ditentukan oleh modal, kemampuan mengelola bisnis, atau kemampuan melihat peluang, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dalam diri seseorang. Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan karakter entrepreneur adalah need for achievement (nAch), yaitu dorongan seseorang untuk mencapai prestasi dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Individu yang memiliki nAch tinggi biasanya memiliki motivasi untuk mencapai tujuan, berani menghadapi tantangan, serta berusaha memperbaiki kemampuan dirinya.
Konsep nAch menjelaskan bahwa seorang entrepreneur cenderung memilih tujuan yang menantang tetapi masih dapat dicapai. Tujuan yang terlalu mudah tidak memberikan dorongan untuk berkembang, sedangkan tujuan yang terlalu sulit dapat membuat seseorang kehilangan motivasi karena merasa tidak mampu mencapainya. Oleh karena itu, seorang entrepreneur perlu memiliki kemampuan untuk menentukan target yang realistis sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang dimiliki.
Namun, dalam penerapan konsep ini terdapat beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan. Permasalahan pertama adalah anggapan bahwa keberhasilan entrepreneur hanya bergantung pada tingginya tingkat nAch. Padahal, seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi belum tentu berhasil dalam bisnis apabila tidak memiliki kemampuan manajemen, pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi. Dunia usaha memiliki banyak faktor yang tidak dapat dikendalikan, seperti perubahan pasar, kondisi ekonomi, dan persaingan bisnis.
Permasalahan kedua berkaitan dengan cara mengukur dan mengembangkan nAch seseorang. Salah satu metode yang sering digunakan dalam penelitian psikologi adalah Thematic Apperception Test (TAT). TAT merupakan metode yang menggunakan gambar tertentu kemudian meminta seseorang membuat cerita berdasarkan gambar tersebut. Cerita yang dibuat dapat memberikan gambaran mengenai motivasi, cara berpikir, serta dorongan seseorang dalam mencapai tujuan. Melalui metode ini, peneliti dapat melihat kecenderungan seseorang dalam menghadapi tantangan dan menyelesaikan masalah.
Walaupun TAT memiliki manfaat dalam memahami motivasi seseorang, metode ini juga memiliki keterbatasan. Hasil cerita seseorang dapat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, kondisi emosi, dan cara individu memahami gambar yang diberikan. Oleh karena itu, TAT sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya alat untuk menentukan apakah seseorang memiliki potensi menjadi entrepreneur atau tidak. Penilaian terhadap kemampuan kewirausahaan perlu melihat berbagai aspek lain, seperti keterampilan, pengalaman, dan perilaku nyata seseorang.
Permasalahan lain dapat ditemukan dalam kasus Ruben dan Lorena pada cerita The Crocodile River. Dalam cerita tersebut, Ruben digambarkan sebagai seseorang yang mampu melihat masalah sebagai peluang untuk belajar dan mengembangkan usahanya. Sikap Ruben menunjukkan karakter entrepreneur yang positif karena ia mampu menghadapi kesulitan dan mencari solusi. Namun, penilaian terhadap Lorena yang dianggap memiliki nAch rendah perlu dilihat secara lebih hati-hati. Menurut saya, menilai motivasi dan kemampuan seseorang hanya berdasarkan satu tindakan atau kondisi hidup tertentu dapat menghasilkan kesimpulan yang kurang tepat. Setiap individu memiliki latar belakang dan alasan yang berbeda dalam mengambil keputusan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, solusi yang dapat dilakukan adalah memahami bahwa keberhasilan entrepreneur membutuhkan kombinasi antara motivasi berprestasi, kemampuan, dan nilai etika. Seseorang dengan nAch tinggi perlu mengembangkan kemampuan lain seperti pengelolaan keuangan, komunikasi, kepemimpinan, serta kemampuan mengambil keputusan. Pendidikan kewirausahaan juga dapat menjadi salah satu cara untuk melatih pola pikir berprestasi melalui kegiatan seperti membuat rencana bisnis, menyelesaikan masalah, melakukan evaluasi diri, dan belajar dari pengalaman.
Selain itu, pengembangan nAch dapat dilakukan dengan membangun kebiasaan positif. Seseorang dapat mulai dengan menetapkan tujuan yang jelas, membuat langkah-langkah kecil untuk mencapainya, serta mengevaluasi hasil yang diperoleh. Dengan cara tersebut, individu dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan dalam menghadapi tantangan. Motivasi berprestasi juga harus disertai dengan nilai moral agar seseorang tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Konsep keberuntungan yang dijelaskan oleh Robert Wiseman juga dapat dikaitkan dengan karakter entrepreneur. Keberuntungan tidak selalu muncul karena kebetulan, tetapi sering kali berasal dari kesiapan seseorang dalam melihat peluang. Orang yang aktif membangun hubungan, meningkatkan keterampilan, dan berpikir terbuka akan lebih mudah menemukan kesempatan dalam berbagai situasi. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan seorang entrepreneur bukan hanya hasil dari keberuntungan, tetapi juga hasil dari usaha dan kemampuan dalam memanfaatkan peluang.
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa need for achievement merupakan salah satu karakter penting dalam membangun jiwa entrepreneur. Dorongan untuk berprestasi dapat membantu seseorang menetapkan tujuan, menghadapi tantangan, dan terus berkembang. Namun, nAch bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan. Seorang entrepreneur juga membutuhkan kemampuan, pengalaman, kreativitas, serta etika dalam menjalankan usaha. Dengan mengembangkan motivasi berprestasi secara seimbang, seseorang tidak hanya mampu mencapai keberhasilan bisnis, tetapi juga dapat menciptakan dampak positif bagi masyarakat.
Daftar Pustaka
McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: D. Van Nostrand Company.
McClelland, D. C. (1987). Human Motivation. Cambridge: Cambridge University Press.
Rauch, A., & Frese, M. (2007). Let's put the person back into entrepreneurship research: A meta-analysis on the relationship between business owners' personality traits and business creation and success. European Journal of Work and Organizational Psychology, 16(4), 353–385.
Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Century.
Hisrich, R. D., Peters, M. P., & Shepherd, D. A. (2020). Entrepreneurship. New York: McGraw-Hill Education.

0 komentar:
Posting Komentar