The Long Journey Back to the Summit
Rahma Nur Al Amina
23310410066
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A
2026
Sebagian orang menganggap pencapaian besar berbentuk materi, namun menurut saya berhasil mendapatkan kembali kepercayaan orang tua setelah pernah mengalami sakit infeksi darah itu juga sebuah pencapaian besar.
Sejak kecil saya merupakan pribadi yang aktif. Saya senang mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari lomba olahraga, pramuka, hingga aktivitas di alam. Hingga sekarang, saya masih menyukai traveling, hiking, running, dan berbagai aktivitas fisik lainnya.
Namun, saat duduk di bangku SMP, saya sering jatuh sakit setiap selesai mengikuti pertandingan bola voli. Bahkan beberapa kali saya harus menjalani perawatan di rumah sakit. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, saya didiagnosis mengalami infeksi darah. Kondisi tersebut membuat saya sering demam, mudah lelah, dan harus menjalani pengobatan selama sekitar sembilan bulan.
Setelah dinyatakan sembuh, orang tua menjadi sangat protektif. Mereka melarang saya melakukan aktivitas berat, terutama mendaki gunung. Saya memahami alasan mereka, tetapi di sisi lain saya merasa sedih karena mendaki gunung merupakan salah satu impian saya.
Saya memilih untuk tidak memaksa, melainkan membuktikan bahwa saya mampu menjaga kesehatan. Saya mulai memperbaiki pola hidup dengan rutin berolahraga minimal tiga puluh menit, mengonsumsi makanan yang lebih sehat, termasuk belajar menyukai sayur, serta menjaga kondisi tubuh sebaik mungkin.
Kesempatan pertama datang ketika saya mendaki Bukit Mongkrang di Magetan. Sayangnya, setelah pulang saya sempat mengalami demam. Saat itu saya sangat takut jika orang tua kembali melarang saya mendaki. Namun, saya tidak menyerah. Beberapa bulan kemudian saya kembali meminta izin untuk mendaki Gunung Andong. Pendakian tersebut berjalan lancar dan saya berhasil pulang dalam keadaan sehat.
Tantangan berikutnya adalah melakukan pendakian tektok Gunung Lawu. Awalnya saya ragu meminta izin, bahkan pasangan saya membantu meyakinkan orang tua. Pendakian itu berhasil saya selesaikan dengan baik. Sejak saat itu, orang tua mulai kembali mempercayai bahwa saya mampu menjaga diri dan kesehatan selama beraktivitas.
Bagi saya, pencapaian terbesar bukanlah berhasil mencapai puncak gunung, melainkan berhasil bangkit dari masa sulit dan mendapatkan kembali kepercayaan orang tua. Penantian itu berlangsung cukup lama, sejak tahun 2018 hingga akhirnya terwujud pada tahun 2025.
Kini saya semakin aktif menjalani berbagai aktivitas seperti running, trail running, hiking, dan kegiatan olahraga lainnya. Pengalaman ini mengajarkan bahwa pencapaian terbesar tidak selalu diukur dari trofi atau penghargaan, tetapi dari keberanian untuk bangkit, berproses, dan membuktikan kepada orang-orang yang kita sayangi bahwa kita mampu menjadi pribadi yang lebih kuat.
Daftar Pustaka
Zulfikar, M., Hasmyati, Anwar, N. I. A., & Listiandi, A. D. (2024). Keyakinan terhadap keterlibatan pada aktivitas fisik: Studi self-efficacy mahasiswa. Indonesian Journal of Physical Activity, 4(2), 209–216.
Putri, I. G. A. W. D., Wijaya, I. P. A., & Putra, P. W. K. (2024). Hubungan self efficacy dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan aktivitas fisik DM tipe II. Jurnal Keperawatan BSI, 12(1), 8–15.

0 komentar:
Posting Komentar