Need for
Achievement dan Keberuntungan: Apakah Kesuksesan Hanya Ditentukan oleh Cara
Berpikir Positif?
Itsnaini Latifatur
Rohmah
(24310440001)
Fakultas Psikologi
Proklamasi 45
Yogyakarta
Setiap
orang tentu memiliki keinginan untuk berhasil dalam hidupnya. Namun, tidak
semua orang memiliki dorongan berprestasi atau need for achievement (nAff)
yang sama. Menurut Douglas McGregor (1960), seorang entrepreneur memiliki
karakteristik utama berupa semangat untuk mencapai prestasi melalui tujuan yang
menantang tetapi masih realistis untuk dicapai. Saya setuju bahwa motivasi
berprestasi merupakan salah satu modal penting dalam membangun usaha maupun
mengembangkan diri. Akan tetapi, menurut saya keberhasilan seseorang tidak
hanya ditentukan oleh tingginya motivasi berprestasi, melainkan juga
dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti lingkungan, kesempatan, kondisi
ekonomi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Salah
satu hal yang menarik dari teori McGregor adalah pendapat bahwa need for
achievement dapat dilatih, misalnya melalui kebiasaan menulis hal-hal
positif atau membuat cerita yang menyentuh emosi seperti pada Thematic
Apperception Test (TAT). Menurut saya, cara tersebut memang dapat membantu
seseorang menjadi lebih optimis dan lebih mengenal dirinya sendiri. Ketika
seseorang terbiasa menuliskan pengalaman positif atau merefleksikan
perasaannya, ia akan lebih mudah melihat kekuatan yang dimiliki daripada terus
berfokus pada kelemahan. Namun demikian, saya kurang sependapat apabila cara
tersebut dianggap cukup untuk meningkatkan motivasi berprestasi. Dalam
kehidupan nyata, seseorang yang memiliki motivasi tinggi pun tetap dapat
mengalami kegagalan apabila tidak didukung oleh keterampilan, pengalaman,
kesempatan, maupun lingkungan yang mendukung.
Permasalahan
lain yang saya temukan dalam bacaan ini adalah kecenderungan untuk mengaitkan
keberhasilan hanya dengan pola pikir positif dan karakter individu. Padahal,
setiap orang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Ada individu yang
harus menghadapi keterbatasan ekonomi, tanggung jawab keluarga, bahkan
lingkungan yang kurang mendukung untuk berkembang. Oleh karena itu, menurut
saya motivasi berprestasi memang penting, tetapi tidak dapat berdiri sendiri
sebagai penentu keberhasilan seseorang.
Hal
lain yang menarik adalah penjelasan Robert Wiseman (2003) mengenai empat faktor
yang membuat seseorang menjadi lebih beruntung. Saya setuju bahwa bergaul
dengan orang-orang yang memiliki semangat berkembang dapat memberikan pengaruh
positif terhadap cara berpikir dan perilaku seseorang. Lingkungan yang baik
dapat menjadi sumber inspirasi, dukungan, dan kesempatan untuk belajar. Akan
tetapi, saya kurang setuju dengan pernyataan bahwa orang yang memiliki masalah,
seperti Lorena dalam kasus The Crocodile River, sebaiknya dijauhi karena
dianggap tidak memiliki potensi untuk maju. Menurut saya, penilaian tersebut
terlalu sederhana dan kurang mempertimbangkan kondisi yang melatarbelakangi
seseorang. Bisa saja Lorena berada pada situasi yang sulit sehingga mengambil
keputusan yang keliru karena keterpaksaan, bukan karena ia tidak memiliki
kemampuan atau potensi.
Selain
itu, saya juga setuju bahwa seseorang perlu terus mengasah keterampilan dan
melihat setiap tantangan sebagai kesempatan untuk belajar, seperti yang
dilakukan Ruben dalam mengembangkan usaha persewaan sampannya. Sikap tersebut
menunjukkan bahwa masalah tidak selalu menjadi penghambat, tetapi dapat menjadi
sarana untuk meningkatkan kemampuan diri. Begitu pula ketika seseorang
mengalami kegagalan, akan lebih baik jika kegagalan tersebut dijadikan bahan
evaluasi daripada alasan untuk menyerah. Menurut saya, inilah salah satu bentuk
berpikir positif yang realistis, yaitu tetap mengakui adanya kesulitan, tetapi
berusaha menemukan pelajaran di balik pengalaman tersebut.
Faktor
terakhir yang dikemukakan Wiseman adalah kemampuan melihat makna di balik
setiap peristiwa. Saya setuju bahwa refleksi diri dapat membantu seseorang
mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Namun, saya tidak sepenuhnya setuju
apabila semua peristiwa dianggap selalu memiliki makna yang dapat langsung
dipahami. Dalam beberapa kondisi, seseorang membutuhkan waktu untuk menerima
kegagalan atau musibah sebelum akhirnya mampu menemukan hikmah di balik
pengalaman tersebut. Oleh karena itu, proses refleksi perlu dilakukan secara
bertahap sesuai kesiapan masing-masing individu.
Menurut
saya, solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan need for achievement
bukan hanya berpikir positif atau menuliskan pengalaman yang menyenangkan,
tetapi juga menetapkan tujuan yang bertahap, meningkatkan kompetensi diri,
membangun lingkungan yang suportif, serta berani mengevaluasi diri ketika
mengalami kegagalan. Selain itu, penting bagi seseorang untuk tetap memegang
nilai moral dalam mencapai keberhasilan. Kesuksesan yang diperoleh dengan
mengorbankan integritas pada akhirnya tidak akan memberikan kepuasan yang
bermakna.
Sebagai
penutup, saya berpendapat bahwa teori McGregor dan Wiseman memberikan banyak
pelajaran mengenai pentingnya motivasi berprestasi, optimisme, dan kemampuan
memaknai pengalaman hidup. Namun, teori tersebut tidak boleh dipahami secara
mutlak bahwa keberhasilan hanya bergantung pada pola pikir positif atau
keberuntungan. Menurut saya, kesuksesan merupakan hasil dari perpaduan antara
motivasi, usaha yang konsisten, keterampilan, dukungan lingkungan, kesempatan,
serta kemampuan seseorang untuk terus belajar dari setiap pengalaman. Dengan
demikian, berpikir positif seharusnya menjadi kekuatan untuk bertindak, bukan
sekadar menjadi nasihat yang terdengar baik tetapi sulit diterapkan dalam
kehidupan nyata.
Daftar Pustaka
Harper, M. (1984). Entrepreneurship for the Poor.
London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ.
McGregor, D. (1960). The Human Side of Enterprise.
New York: McGraw-Hill.
Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Four Essential
Principles. New York: Hyperion.
0 komentar:
Posting Komentar