16.7.26

Esai 8 My Most Admirable Accomplishment - Psikologi Inovasi - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Juli 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Pencapaian Diri yang Paling Berkesan Melalui Keberanian

Melawan Rasa Takut


Itsnaini Latifatur Rohmah

(24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Bagi saya, pencapaian yang paling berkesan bukanlah ketika memperoleh piala atau penghargaan, melainkan ketika berhasil melawan ketakutan terbesar dalam diri sendiri. Sejak kecil saya memiliki kesulitan saat berbicara. Saya sering berbicara dengan terbata-bata, suara pelan, dan terlalu cepat sehingga orang lain sulit memahami apa yang saya sampaikan. Saya juga sering menerima komentar seperti, "Kalau ngomong yang jelas," atau "Jangan cepat-cepat, suaranya dikeraskan." Meskipun mungkin terdengar sederhana, komentar-komentar tersebut membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan takut berbicara di depan banyak orang. Video di TikTok 

YouTube Ketika memasuki masa kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), rasa takut tersebut masih saya rasakan. Setiap kali diminta menyampaikan pendapat di depan kelas, tubuh saya gemetar, jantung berdebar sangat kencang, suara menjadi tidak jelas, bahkan terkadang saya lupa dengan apa yang ingin saya sampaikan. Saat presentasi kelompok pun saya pernah mengalami blank meskipun materi presentasi saya sendiri yang menyusunnya. Akibatnya, saya hanya membaca isi slide tanpa mampu menjelaskan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat saya kecewa pada diri sendiri karena merasa tidak mampu mengungkapkan pikiran yang sebenarnya saya miliki.

Suatu hari saat mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia, dosen pengampu yang juga merupakan pembina tim debat UAD memperkenalkan berbagai prestasi mahasiswa dalam kompetisi debat tingkat nasional. Beliau menampilkan foto-foto para juara dan penerima penghargaan Best Speaker. Saat itulah saya membuat keputusan yang menurut saya sangat nekat. Setelah perkuliahan selesai, saya langsung menemui dosen tersebut dan mendaftarkan diri sebagai anggota tim debat, meskipun saya sadar bahwa berbicara di depan umum masih menjadi kelemahan terbesar saya.

Perjalanan mengikuti berbagai perlombaan tidak berjalan mudah. Setiap kali akan bertanding saya selalu merasa mual, sakit perut, berkeringat dingin, dan sangat gugup. Bahkan beberapa kali tim kami harus menerima kekalahan. Namun saya memilih untuk tetap berlatih dan terus mengikuti berbagai kompetisi sebagai bentuk latihan menghadapi rasa takut tersebut. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika tim saya berhasil meraih Juara 1 Lomba Debat Nasional Sharia Economic Festival (SEF) dengan tema Islamic Banking and Millennial Generation in Industry 4.0 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 18 November 2018.

Pengalaman yang paling tidak terlupakan terjadi ketika mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa dan Pelajar Lomba Debat Nasional bertema Menumbuhkan Generasi 4C (Creative, Critical Thinking, Collaboration, Communicative) di Era Revolusi Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 2 Oktober 2019. Saat itu tim saya tidak berhasil menjadi juara. Karena merasa sangat gugup selama perlombaan, saya bahkan tidak menyangka ketika diumumkan sebagai Best Speaker. Ketika nama saya dipanggil, saya sedang berada di kamar mandi karena mual. Setelah kembali ke ruangan, teman-teman memberikan ucapan selamat sambil menyerahkan piala dan sertifikat penghargaan. Saya sempat tidak percaya hingga melihat sendiri nama saya tertulis pada piagam penghargaan tersebut.

Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum mungkin merupakan hal yang biasa. Namun bagi saya, pencapaian ini menjadi bukti bahwa rasa takut dapat diatasi apabila seseorang berani keluar dari zona nyaman dan terus berlatih. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang memenangkan perlombaan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengalahkan keterbatasan diri sendiri. Transformasi inilah yang menjadi pencapaian paling bermakna dalam hidup saya hingga saat ini.

Video di Tiktok
Video di YouTube

0 komentar:

Posting Komentar