Dorongan Berprestasi dan Memahami Makna Hidup Sebagai Kunci Menuju Keberhasilan
Nama: Diah Nurul Khazanah
NIM: 23310410105
Program Studi: Psikologi
Kelas: Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta. M.A.
Menjadi seorang pengusaha atau inovator tidak hanya bergantung pada modal materi atau kesempatan yang datang, melainkan pada dorongan dalam diri yang kuat untuk berbuat lebih baik dan mencapai tujuan yang berarti. Douglas McGregor (1960) menegaskan bahwa ciri paling menonjol dari seorang wirausaha adalah need for achievement (nAff) atau kebutuhan akan berprestasi. Dorongan ini membuat seseorang terus berusaha melampaui kemampuan dirinya sendiri maupun orang lain, namun tetap membutuhkan pengalaman yang menantang namun masih dalam batas kemampuan yang kita punya. Jika kita memiliki tujuan terlalu mudah, semangat seringkali akan memudar dan jika kita bergerak terlalu jauh di atas kemampuan, harapan runtuh sebelum memulai. Lebih dari dorongan alami,tetapi nAff ternyata dapat dibentuk dan dilatih melalui membiaskaan berpikir positif, menggali makna emosional, serta memaknai dalam menempuh perjalanan hidup. Fenomena ini terlihat jelas dalam kisah Ruben pada kasus Sungai Buaya, yang perilakunya selaras dengan teori keberuntungan Wiseman (2003), membuktikan bahwa "keberuntungan" sejati adalah hasil dari sikap dan langkah yang tepat.
Banyak orang beranggapan bahwa keberhasilan atau keberuntungan adalah hal yang datang secara kebetulan, bakat bawaan sejak lahir, atau bahkan dianggap sebagai nasib. Hal ini menimbulkan pandangan keliru pertama, bahwa dorongan berprestasi tidak bisa dibentuk pada orang yang merasa dirinya "biasa saja".
Kedua, bergaul dengan siapa saja atau mengabaikan nilai moral tidak berpengaruh pada kemajuan usaha.
ketiga, kesulitan atau bertemu dengan orang yang berbeda hanya sebagai beban dan gangguan, bukan dijadikan pelajaran berharga. Seperti terlihat pada karakter Lorena, seseorang yang kehilangan arah justru memilih jalan yang melanggar nilai diri demi tujuan sesaat, yang menunjukkan rendahnya nAff karena ia tidak berusaha mengembangkan kemampuan dirinya sendiri melainkan mengandalkan cara yang tidak bertanggung jawab. Di sisi lain, banyak orang yang memiliki potensi justru ragu melangkah karena takut kesulitan, atau terjebak dalam urusan orang lain sehingga lupa mengasah kemampuan diri sendiri. Padahal, tantangan dan perbedaan pengalaman justru menjadi sarana untuk menguatkan nAff dan membuka jalan menuju keberhasilan. Dengan demikian dapat kita simpulkan solusi yang kita ambil adalah
Pertama, kita harus memahami bahwa nAff bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan keterampilan mental yang bisa dilatih. McGregor (1960) menjelaskan bahwa cara melatihnya antara lain dengan rutin menuliskan hal-hal positif, menyusun cerita yang menyentuh nilai terdalam diri, serta latihan memproyeksikan diri melalui alat seperti Tes Apersepsi Tematik (TAT). Hal ini membuat kita tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses perbaikan diri yang terus berjalan. Dorongan ini kemudian terhubung erat dengan cara kita memandang kehidupan, sebagaimana dijelaskan Wiseman (2003) melalui empat faktor keberuntungan yang sebenarnya adalah langkah nyata membangun kesuksesan.
Faktor pertama adalah membangun lingkungan pergaulan yang mendukung kemajuan diri. Menjauhi pengaruh yang bertentangan dengan nilai diri bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan menjaga fokus agar energi tidak terbuang untuk hal yang menghambat kemajuan. Seperti Ruben yang tidak tergoda tawaran Lorena, kita harus memilah mana yang mendukung integritas dan tujuan jangka panjang, karena keberhasilan yang dibangun di atas jalan yang tidak benar tidak akan bertahan lama.
Kedua, fokus mengasah kemampuan diri sendiri secara berkelanjutan. Ruben menjadikan tantangan sungai berbahaya sebagai sarana untuk menciptakan sampan yang lebih aman dan handal, bukan sebagai alasan berhenti berusaha. Bagi seorang inovator, setiap kesulitan adalah kesempatan untuk belajar hal baru, memperbaiki cara kerja, dan menciptakan solusi yang lebih baik. Inilah bentuk nyata dari nAff yaitu berusaha melampaui batas kemampuan yang dimiliki seseorang saat ini.
Ketiga, mampu melihat sisi positif dan makna dari setiap kejadian. Pertemuan dan perselisihan dengan orang yang memiliki pandangan berbeda bukanlah kemalangan, melainkan cermin untuk mempertegas nilai diri kita sendiri. Ruben justru semakin yakin menjaga kebersihan moral usahanya setelah melihat pilihan hidup Lorena, sehingga ia terhindar dari risiko yang bisa merusak nama baik usahanya di masa depan. Setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, memiliki makna yang bisa membuat kita lebih bijak.
Keempat, melatih kepekaan dan ketenangan dalam mengambil keputusan. Ruben merenung di waktu hening untuk memahami arah langkahnya, karena keputusan yang tepat tidak lahir dari kepanikan, melainkan dari pemahaman yang mendalam atas situasi dan tujuan hidupnya. Tidak ada kejadian yang benar-benar kebetulan,semua hal yang kita alami adalah bagian dari proses untuk menjadi pribadi yang lebih matang dan berdaya cipta.
Kesimpulannya
Dorongan berprestasi (nAff) adalah fondasi jiwa inovator yang bisa kita bentuk dan latih setiap hari. Keberhasilan dan keberuntungan bukanlah nasib yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari langkah yang kita pilih: memilih lingkungan yang mendukung, fokus mengasah kemampuan diri, mengambil hikmah dari setiap pengalaman, dan mengambil keputusan dengan bijak serta berpegang pada nilai diri. Kisah Ruben mengajarkan kita bahwa tantangan seberapapun beratnya, serta pertemuan dengan berbagai macam orang, adalah sarana untuk menyempurnakan diri. Bagi kita yang ingin menjadi inovator dan pengusaha yang bermanfaat, mari kita bangun dorongan berprestasi dalam diri, dan jadikan setiap langkah sebagai proses menciptakan kesuksesan yang bermakna bagi diri sendiri dan orang lain.
Daftar Pustaka
Harper, M. (1984). Entrepreneurship for the poor. London: Intermediate Technology Publications in association with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).
McGregor, D. (1960). The human side of enterprise. New York: McGraw-Hill.
Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:
Posting Komentar