Bayu Prasetya Restu Aji
23310410087
UTS PSI. INOVASI
1. Jika saya menjadi dosen mata kuliah Psikologi Inovasi di era AI saat ini, maka saya tidak akan memusuhi AI, tetapi akan mendidik mahasiswa agar mampu menggunakan AI dengan baik, etis, dan bertanggung jawab. Fokus utama pendidikan bukan hanya menghasilkan tugas yang selesai, melainkan membentuk karakter, daya pikir, dan kreativitas mahasiswa sebagai calon intelektual dan pemimpin bangsa. Prinsip ini sejalan dengan tujuan “Penguatan Pendidikan Karakter” dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018.
Sebagai dosen, saya akan menjalankan empat peran utama yaitu sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi yang mendidik.
Pertama, sebagai inovator, saya akan mengubah sistem pembelajaran agar tidak hanya berorientasi pada hasil akhir tugas, tetapi juga pada proses berpikir mahasiswa. Misalnya, tugas tidak hanya berupa makalah, tetapi juga jurnal, diskusi, presentasi , studi kasus nyata, dan observasi lapangan. Mahasiswa boleh menggunakan AI, tetapi mereka harus bisa menjelaskan bagaimana AI itu digunakan, bagian mana yang merupakan hasil pemikiran
pribadi, dan bagaimana mereka menunjukkan kebenaran informasi tersebut. Maka, dengan begitu, AI bisa menjadi alat bantu berpikir, bukan untuk pengganti cara kita untuk berpikir.
Selain itu, saya akan menggunakan metode pembelajaran berbasis problem solving dan critical inquiry. Mahasiswa tidak hanya diminta mencari jawaban, tetapi juga mengkritisi jawaban tersebut. Mahasiswa diminta untuk bisa membandingkan hasil analisis AI dengan teori dalam psikologi dan kondisi sosial masyarakat. Hal ini akan melatih kemampuan analisa, evaluasi dan kreativitas mereka.
Kedua, sebagai motivator, saya akan membangun kesadaran bahwa kejujuran adalah perbuatan yang mulia. Mahasiswa perlu memahami bahwa ketergantungan penuh pada AI mungkin akan memberikan keuntungan, tetapi dapat melemahkan kemampuan dalam berpikir, rasa percaya diri dalam jangka panjang. Saya akan menanamkan bahwa proses belajar adalah proses pembentukan diri, bukan hanya untuk memperoleh nilai.
Saya akan memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang menunjukkan gagasan yang sebenarnya, keberanian dalam bertanya, kemampuan berpikir yang mendalam, dan usaha belajar yang sungguh-sungguh. Lingkungan belajar yang suportif akan membuat mahasiswa lebih termotivasi untuk berkembang.
Ketiga, sebagai kolaborator, saya akan menciptakan sistem akademik yang baik. Mahasiswa diajak berdiskusi mengenai etika penggunaan AI, tantangan pendidikan modern, serta dampak teknologi terhadap psikologi manusia. Dosen bukan hanya pengontrol, tetapi juga sarana belajar yang membantu mahasiswa berkembang. Kolaborasi juga dapat dilakukan melalui kerja kelompok, proyek bersama dengan masyarakat, dan penelitian kecil yang melatih empati, komunikasi, dan tanggung jawab sosial mahasiswa.
Keempat, sebagai pemberi sanksi yang bersifat mendidik, saya tidak akan langsung menghukum mahasiswa secara represif ketika terbukti menyerahkan tugas sepenuhnya kepada AI. Saya akan menggunakan pendekatan edukatif. Misalnya, mahasiswa diminta melakukan revisi dengan presentasi secara lisan tanpa bantuan. Tujuan sanksi bukan mempermalukan mahasiswa, tetapi membangun kesadaran dan tanggung jawab pribadi.
Menurut saya, tantangan terbesar pendidikan di abad AI bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan bagaimana menjaga agar manusia tetap memiliki hati nurani,
kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan karakter yang baik. AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan nilai-nilai seperti kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Sebagai dosen Psikologi Inovasi, saya ingin membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga cerdas secara moral, mampu berpikir mandiri, bijak menggunakan teknologi, serta memiliki integritas dalam kehidupan akademik maupun sosial. Dengan demikian, AI tidak akan melemahkan kualitas manusia, tetapi justru menjadi sarana untuk mengembangkan potensi manusia secara lebih maksimal.
2. Film ‘’ Billionaire Told His 3 Son To Live on $50 for A week. Only One Survived. Here’s What He Did With It ‘’menceritakan tentang cara menghadapi keterbatasan dan kreativitas untuk bertahan, film ini relevan dengan film pada pertemuan ke -4 yang berjudul “ Good Boy – He Scored “D” For Exams. Is He not A Good Child?”, dimana menceritakan tentang bahwa nilai baik memang penting tetapi menolong orang lain itu lebih penting.
Kalau dilihat dari psikologi inovasi, film ini menunjukkan beberapa hal, yaitu :
1. Creative Problem Solving
Anak yang berhasil bukan hanya hemat uang, tapi mampu berpikir kreatif mencari peluang dari keterbatasan. Dalam psikologi inovasi, hal ini disebut kemampuan menemukan solusi baru terhadap masalah.
2. Growth Mindset
Tokoh yang sukses memiliki pola pikir berkembang yang menganggap kesulitan sebagai tantangan untuk belajar, bukan alasan untuk menyerah.
3. Resiliensi
Mereka diuji secara mental, tetapi memiliki cara bagaimana tetap bisa tenang, beradaptasi, dan bangkit saat kondisi sulit. Resiliensi penting dalam inovasi karena ide baru sering muncul saat tertekan.
4. Entrepreneurial Mindset
Film ini juga menunjukkan jiwa entrepreneur itu bisa melihat peluang kecil, mengambil keputusan cepat, dan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar.
5. Perbedaan Pola Pikir Konsumtif vs Produktif
Ada yang memakai uang hanya untuk bertahan sementara, ada yang memutar uang menjadi peluang. Secara psikologi inovasi, individu inovatif cenderung berpikir produktif dan berpikir untuk jangka panjang.
Jadi, inti psikologi inovasi dalam film ini adalah bahwa orang yang mampu berpikir kreatif dan bisa melihat peluang dalam keterbatasan akan lebih mudah bertahan dan berkembang dibanding orang yang hanya mengandalkan kenyamanan.
DAFTAR PUSTAKA :
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Jakarta: Kemendikbud.
Azwar, S. (2022). Metode Penelitian Psikologi (Edisi II). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Lickona, T. (2013). Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media.
Maslow, Maslow. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review.
Goleman, Daniel. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
Bandura, Albert. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: Freeman

0 komentar:
Posting Komentar