30.5.26

Ujian Tengah Semester - Psikologi Inovasi - Esai 9 (UTS) - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Mei 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Psikologi Inovasi di Era AI dan Pembentukan Karakter Mahasiswa

Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) membawa banyak perubahan dalam dunia pendidikan, termasuk di lingkungan kampus. Saat ini mahasiswa dapat dengan mudah mencari jawaban, membuat tugas, bahkan menyusun essai hanya dengan bantuan AI. Di satu sisi AI memang membantu proses belajar menjadi lebih cepat dan praktis, tetapi di sisi lain kondisi ini dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa apabila digunakan secara berlebihan. Mahasiswa menjadi terbiasa menerima jawaban instan tanpa memahami proses berpikirnya. Oleh karena itu, mata kuliah Psikologi Inovasi menjadi penting karena mengajarkan mahasiswa untuk tetap kreatif, inovatif, berani berubah, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan nyata.

Menurut saya, apabila saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya tidak akan langsung melarang penggunaan AI sepenuhnya, tetapi akan mengarahkan mahasiswa agar menggunakan AI secara bijak sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai “otak utama”. Saya akan membuat sistem pembelajaran yang lebih menekankan pada proses berpikir, pengalaman nyata, diskusi kritis, dan praktik lapangan dibanding hanya sekadar hasil akhir tugas. Misalnya mahasiswa diminta melakukan observasi sosial, wawancara langsung, membuat komunitas kecil, atau menyelesaikan masalah nyata di lingkungan sekitar. Dengan begitu mahasiswa akan belajar berpikir kreatif dan memahami bahwa ilmu psikologi tidak hanya dipelajari secara teori tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, saya juga akan mendorong mahasiswa untuk berani mencoba hal baru dan tidak takut gagal. Pada materi Psikologi Inovasi dijelaskan bahwa salah satu penyebab pengangguran tinggi di Indonesia adalah rendahnya kemampuan berpikir kreatif dan kurangnya keberanian untuk berubah. Banyak lulusan sarjana yang hanya menunggu pekerjaan formal tanpa mencoba menggali potensi diri yang dimiliki. Oleh karena itu mahasiswa perlu dilatih memiliki coping behavior yang baik, mampu melihat peluang, dan berani meningkatkan kapasitas diri. Karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerja keras, serta kemampuan berpikir kritis juga perlu dibangun agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja dan perubahan zaman.

Film “Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week” juga sangat relevan dengan materi Psikologi Inovasi pertemuan 1 sampai 7. Pada kuliah pertama tentang inovasi dan kreativitas, film ini menunjukkan bahwa seseorang harus mampu berpikir kreatif ketika menghadapi keterbatasan. Ketiga anak tersebut dipaksa bertahan hidup dengan uang yang sangat sedikit sehingga mereka harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini menunjukkan pentingnya kemampuan inovatif dan tidak bergantung pada kenyamanan hidup.

Pada kuliah kedua mengenai coping behavior dan tidak takut gagal, film ini memperlihatkan bagaimana setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Ada yang mudah menyerah, ada yang bingung, dan ada yang mencoba mencari peluang untuk bertahan hidup. Dari sini terlihat bahwa kemampuan mengelola stres dan menghadapi kegagalan sangat penting untuk bertahan dalam kehidupan nyata.

Kuliah ketiga mengenai pengangguran dan kualitas SDM Indonesia juga dapat dikaitkan dengan film tersebut. Dalam film terlihat bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kekayaan keluarga, tetapi juga kemampuan diri dalam menghadapi tantangan. Hal ini relevan dengan kondisi Indonesia dimana banyak lulusan sarjana masih kurang siap menghadapi dunia kerja karena terlalu bergantung pada zona nyaman dan kurang memiliki keterampilan tambahan.

Pada kuliah keempat mengenai critical thinking dan menjual potensi diri, salah satu anak dalam film mampu berpikir lebih kritis dibanding yang lain. Ia mencoba memanfaatkan peluang kecil untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup. Ini menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif dan mau meningkatkan kapasitas diri akan lebih mudah bertahan dalam situasi sulit.

Kuliah kelima dan keenam tentang perubahan juga sangat terlihat dalam film. Ketiga anak tersebut dipaksa keluar dari kebiasaan nyaman dan belajar menghadapi realitas hidup. Tidak semua orang siap berubah, namun perubahan diperlukan agar seseorang mampu berkembang. Film ini mengajarkan bahwa kesediaan untuk belajar dan menghadapi tantangan dapat membentuk mental yang lebih kuat.

Sedangkan pada kuliah ketujuh mengenai Johari Window, SWOT, dan self serving bias, film ini menunjukkan bagaimana karakter seseorang mulai terlihat ketika menghadapi tekanan hidup. Ada yang terlalu percaya diri namun tidak mampu bertahan, ada yang menyalahkan keadaan, dan ada yang mampu mengenali kekuatan serta kelemahan dirinya sendiri. Dari sini terlihat bahwa mengenal diri sendiri merupakan langkah penting agar seseorang mampu berkembang dan tidak terjebak dalam pola pikir negatif.

Kesimpulannya, Psikologi Inovasi sangat penting dipelajari di era AI karena membantu mahasiswa membangun karakter yang lebih kuat, kreatif, dan mampu berpikir kritis. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia. Mahasiswa perlu dilatih untuk menghadapi tantangan nyata, berani berubah, serta mampu menggali potensi dirinya sendiri agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi masa depan.


Daftar Pustaka

Budiharto, S. (2019). Psikologi inovasi dan kreativitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kemendikbud RI. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Jakarta: Kemendikbud.

Luft, J., & Ingham, H. (1955). The Johari Window: A graphic model of interpersonal awareness. Proceedings of the Western Training Laboratory in Group Development, 246–255.

Santrock, J. W. (2018). Psikologi pendidikan (5th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.

Seligman, M. E. P. (2006). Learned optimism: How to change your mind and your life. New York: Vintage Books.



0 komentar:

Posting Komentar