Psikologi
Inovasi di Era AI dan Pembentukan Karakter Mahasiswa
Itsnaini
Latifatur Rohmah (24310440001)
Fakultas
Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta
Perkembangan
teknologi Artificial Intelligence (AI) membawa banyak perubahan dalam dunia pendidikan,
termasuk di lingkungan kampus. Saat ini mahasiswa dapat dengan mudah mencari
jawaban, membuat tugas, bahkan menyusun essai hanya dengan bantuan AI. Di satu
sisi AI memang membantu proses belajar menjadi lebih cepat dan praktis, tetapi
di sisi lain kondisi ini dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa
apabila digunakan secara berlebihan. Mahasiswa menjadi terbiasa menerima
jawaban instan tanpa memahami proses berpikirnya. Oleh karena itu, mata kuliah
Psikologi Inovasi menjadi penting karena mengajarkan mahasiswa untuk tetap
kreatif, inovatif, berani berubah, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan
nyata.
Menurut
saya, apabila saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya tidak akan langsung
melarang penggunaan AI sepenuhnya, tetapi akan mengarahkan mahasiswa agar
menggunakan AI secara bijak sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai “otak
utama”. Saya akan membuat sistem pembelajaran yang lebih menekankan pada proses
berpikir, pengalaman nyata, diskusi kritis, dan praktik lapangan dibanding
hanya sekadar hasil akhir tugas. Misalnya mahasiswa diminta melakukan observasi
sosial, wawancara langsung, membuat komunitas kecil, atau menyelesaikan masalah
nyata di lingkungan sekitar. Dengan begitu mahasiswa akan belajar berpikir
kreatif dan memahami bahwa ilmu psikologi tidak hanya dipelajari secara teori
tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain
itu, saya juga akan mendorong mahasiswa untuk berani mencoba hal baru dan tidak
takut gagal. Pada materi Psikologi Inovasi dijelaskan bahwa salah satu penyebab
pengangguran tinggi di Indonesia adalah rendahnya kemampuan berpikir kreatif
dan kurangnya keberanian untuk berubah. Banyak lulusan sarjana yang hanya
menunggu pekerjaan formal tanpa mencoba menggali potensi diri yang dimiliki.
Oleh karena itu mahasiswa perlu dilatih memiliki coping behavior yang baik,
mampu melihat peluang, dan berani meningkatkan kapasitas diri. Karakter seperti
disiplin, tanggung jawab, kerja keras, serta kemampuan berpikir kritis juga
perlu dibangun agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja dan perubahan zaman.
Film
“Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week” juga sangat relevan
dengan materi Psikologi Inovasi pertemuan 1 sampai 7. Pada kuliah pertama
tentang inovasi dan kreativitas, film ini menunjukkan bahwa seseorang harus
mampu berpikir kreatif ketika menghadapi keterbatasan. Ketiga anak tersebut
dipaksa bertahan hidup dengan uang yang sangat sedikit sehingga mereka harus
mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini menunjukkan pentingnya
kemampuan inovatif dan tidak bergantung pada kenyamanan hidup.
Pada
kuliah kedua mengenai coping behavior dan tidak takut gagal, film ini
memperlihatkan bagaimana setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi
tekanan. Ada yang mudah menyerah, ada yang bingung, dan ada yang mencoba
mencari peluang untuk bertahan hidup. Dari sini terlihat bahwa kemampuan
mengelola stres dan menghadapi kegagalan sangat penting untuk bertahan dalam
kehidupan nyata.
Kuliah
ketiga mengenai pengangguran dan kualitas SDM Indonesia juga dapat dikaitkan
dengan film tersebut. Dalam film terlihat bahwa keberhasilan seseorang tidak
hanya ditentukan oleh kekayaan keluarga, tetapi juga kemampuan diri dalam
menghadapi tantangan. Hal ini relevan dengan kondisi Indonesia dimana banyak
lulusan sarjana masih kurang siap menghadapi dunia kerja karena terlalu
bergantung pada zona nyaman dan kurang memiliki keterampilan tambahan.
Pada
kuliah keempat mengenai critical thinking dan menjual potensi diri, salah satu
anak dalam film mampu berpikir lebih kritis dibanding yang lain. Ia mencoba
memanfaatkan peluang kecil untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup. Ini
menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif dan mau
meningkatkan kapasitas diri akan lebih mudah bertahan dalam situasi sulit.
Kuliah
kelima dan keenam tentang perubahan juga sangat terlihat dalam film. Ketiga
anak tersebut dipaksa keluar dari kebiasaan nyaman dan belajar menghadapi
realitas hidup. Tidak semua orang siap berubah, namun perubahan diperlukan agar
seseorang mampu berkembang. Film ini mengajarkan bahwa kesediaan untuk belajar
dan menghadapi tantangan dapat membentuk mental yang lebih kuat.
Sedangkan
pada kuliah ketujuh mengenai Johari Window, SWOT, dan self serving bias, film
ini menunjukkan bagaimana karakter seseorang mulai terlihat ketika menghadapi
tekanan hidup. Ada yang terlalu percaya diri namun tidak mampu bertahan, ada
yang menyalahkan keadaan, dan ada yang mampu mengenali kekuatan serta kelemahan
dirinya sendiri. Dari sini terlihat bahwa mengenal diri sendiri merupakan
langkah penting agar seseorang mampu berkembang dan tidak terjebak dalam pola
pikir negatif.
Kesimpulannya,
Psikologi Inovasi sangat penting dipelajari di era AI karena membantu mahasiswa
membangun karakter yang lebih kuat, kreatif, dan mampu berpikir kritis. AI
seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia.
Mahasiswa perlu dilatih untuk menghadapi tantangan nyata, berani berubah, serta
mampu menggali potensi dirinya sendiri agar tidak mudah menyerah dalam
menghadapi masa depan.
Daftar
Pustaka
Budiharto, S. (2019). Psikologi inovasi
dan kreativitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kemendikbud RI. (2018). Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018
tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.
Jakarta: Kemendikbud.
Luft, J., & Ingham, H. (1955). The
Johari Window: A graphic model of interpersonal awareness. Proceedings of
the Western Training Laboratory in Group Development, 246–255.
Santrock, J. W. (2018). Psikologi
pendidikan (5th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.
Seligman, M. E. P. (2006). Learned
optimism: How to change your mind and your life. New York: Vintage Books.
0 komentar:
Posting Komentar