30.5.26

Psikologi Inovasi - Esai 4 – My Best Coping Behavior - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Mei 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

MY BEST COPING BEHAVIOR

Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup yang sampai sekarang masih saya ingat terjadi sekitar bulan Juni 2012. Setelah lulus SMK, saya memutuskan masuk ke Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Jepang untuk mempersiapkan diri bekerja dan magang di Jepang. Selama kurang lebih enam bulan saya belajar bahasa dan budaya Jepang dari awal, meskipun sebelumnya sudah memiliki dasar bahasa Jepang dari sekolah. Di LPK kami dilatih berbicara sehari-hari menggunakan bahasa Jepang, memahami budaya kerja, kedisiplinan, hingga mempersiapkan diri menghadapi wawancara perusahaan Jepang.

Namun ternyata proses tersebut tidak semudah yang saya bayangkan. Selain harus berjuang melawan rasa takut dan tekanan dalam belajar, saya juga menghadapi lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Saya memiliki salah satu saudara yang sangat toxic dan sering meremehkan kemampuan saya. Ketika saya gagal wawancara perusahaan sebanyak tiga kali, saya selalu dihina dan dijadikan bahan pembicaraan di depan keluarga besar. Saya dianggap bodoh dan tidak mampu berhasil seperti orang lain. Bahkan ketika saya gagal ujian kenaikan level bahasa Jepang karena selisih nilai yang sedikit, sesampainya di rumah saya dimarahi dan dianggap mempermalukan keluarga. Padahal setiap hari saya sudah berusaha belajar dengan keras, mengerjakan tugas sampai larut malam, dan terus mengejar target dari LPK.

Hal yang paling membuat saya terluka adalah ketika saya akhirnya berhasil lolos dan mendapatkan pekerjaan ke Jepang, saya tetap disalahkan. Saudara saya marah dan mengatakan bahwa saya merepotkan keluarga karena biaya keberangkatan, pengurusan dokumen, dan tiket pesawat membutuhkan uang yang tidak sedikit. Dari situ saya mulai sadar bahwa masalahnya bukan tentang gagal atau berhasil, tetapi memang ada rasa tidak suka terhadap saya. Ketika gagal saya dihina, dan ketika berhasil pun saya tetap dicari kekurangannya. Ucapan-ucapan tersebut sempat membuat saya stres berat dan mengalami trauma. Saya sering merasa tidak percaya diri dan takut gagal lagi.

Namun dari pengalaman itu saya belajar tentang coping behavior atau cara bertahan menghadapi tekanan hidup. Saya memilih untuk tidak terus terpuruk dalam perkataan negatif orang lain. Saya mulai fokus pada pengembangan diri dan menjadikan rasa sakit tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan kemampuan saya. Selama berada di Jepang, saya terus meningkatkan kemampuan bahasa Jepang, mengikuti program magang dengan disiplin, dan berusaha menjaga perilaku dengan baik. Saya juga belajar untuk tidak terlalu bergantung pada validasi orang lain, karena tidak semua orang akan memahami perjuangan yang kita jalani.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Selama di Jepang saya mendapatkan penghargaan dari pihak Jepang karena dinilai memiliki perilaku yang baik dan terus meningkatkan kemampuan bahasa Jepang. Setelah pulang ke Indonesia, saya langsung ditawari bekerja oleh LPK sebagai pendamping siswa yang berada di Jepang. Pengalaman tersebut membuka banyak peluang kerja bagi saya di bidang lembaga pelatihan kerja Jepang hingga saat ini.

Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa coping behavior terbaik bagi diri saya adalah tetap fokus bertumbuh meskipun berada di lingkungan yang toxic. Saya percaya bahwa luka dan kegagalan dapat menjadi kekuatan ketika kita memilih untuk terus berkembang dan tidak menyerah pada keadaan.



0 komentar:

Posting Komentar