MY
BEST COPING BEHAVIOR
Itsnaini
Latifatur Rohmah (24310440001)
Fakultas
Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta
Salah
satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup yang sampai sekarang masih saya
ingat terjadi sekitar bulan Juni 2012. Setelah lulus SMK, saya memutuskan masuk
ke Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Jepang untuk mempersiapkan diri bekerja dan
magang di Jepang. Selama kurang lebih enam bulan saya belajar bahasa dan budaya
Jepang dari awal, meskipun sebelumnya sudah memiliki dasar bahasa Jepang dari
sekolah. Di LPK kami dilatih berbicara sehari-hari menggunakan bahasa Jepang,
memahami budaya kerja, kedisiplinan, hingga mempersiapkan diri menghadapi
wawancara perusahaan Jepang.
Namun
ternyata proses tersebut tidak semudah yang saya bayangkan. Selain harus
berjuang melawan rasa takut dan tekanan dalam belajar, saya juga menghadapi
lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Saya memiliki salah satu saudara
yang sangat toxic dan sering meremehkan kemampuan saya. Ketika saya gagal
wawancara perusahaan sebanyak tiga kali, saya selalu dihina dan dijadikan bahan
pembicaraan di depan keluarga besar. Saya dianggap bodoh dan tidak mampu
berhasil seperti orang lain. Bahkan ketika saya gagal ujian kenaikan level
bahasa Jepang karena selisih nilai yang sedikit, sesampainya di rumah saya
dimarahi dan dianggap mempermalukan keluarga. Padahal setiap hari saya sudah
berusaha belajar dengan keras, mengerjakan tugas sampai larut malam, dan terus
mengejar target dari LPK.
Hal
yang paling membuat saya terluka adalah ketika saya akhirnya berhasil lolos dan
mendapatkan pekerjaan ke Jepang, saya tetap disalahkan. Saudara saya marah dan
mengatakan bahwa saya merepotkan keluarga karena biaya keberangkatan,
pengurusan dokumen, dan tiket pesawat membutuhkan uang yang tidak sedikit. Dari
situ saya mulai sadar bahwa masalahnya bukan tentang gagal atau berhasil,
tetapi memang ada rasa tidak suka terhadap saya. Ketika gagal saya dihina, dan
ketika berhasil pun saya tetap dicari kekurangannya. Ucapan-ucapan tersebut
sempat membuat saya stres berat dan mengalami trauma. Saya sering merasa tidak
percaya diri dan takut gagal lagi.
Namun
dari pengalaman itu saya belajar tentang coping behavior atau cara bertahan
menghadapi tekanan hidup. Saya memilih untuk tidak terus terpuruk dalam
perkataan negatif orang lain. Saya mulai fokus pada pengembangan diri dan
menjadikan rasa sakit tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan kemampuan
saya. Selama berada di Jepang, saya terus meningkatkan kemampuan bahasa Jepang,
mengikuti program magang dengan disiplin, dan berusaha menjaga perilaku dengan
baik. Saya juga belajar untuk tidak terlalu bergantung pada validasi orang
lain, karena tidak semua orang akan memahami perjuangan yang kita jalani.
Perjuangan
tersebut akhirnya membuahkan hasil. Selama di Jepang saya mendapatkan
penghargaan dari pihak Jepang karena dinilai memiliki perilaku yang baik dan
terus meningkatkan kemampuan bahasa Jepang. Setelah pulang ke Indonesia, saya
langsung ditawari bekerja oleh LPK sebagai pendamping siswa yang berada di
Jepang. Pengalaman tersebut membuka banyak peluang kerja bagi saya di bidang
lembaga pelatihan kerja Jepang hingga saat ini.
Dari
pengalaman tersebut saya belajar bahwa coping behavior terbaik bagi diri saya
adalah tetap fokus bertumbuh meskipun berada di lingkungan yang toxic. Saya
percaya bahwa luka dan kegagalan dapat menjadi kekuatan ketika kita memilih
untuk terus berkembang dan tidak menyerah pada keadaan.
0 komentar:
Posting Komentar