PSIKOLOGI INOVASI
ESAI 7 – Melakukan Perubahan Diri
MENUMBUHKAN KEBIASAAN JALAN KAKI SEBAGAI
BENTUK TANTANGAN PENGUBAHAN DIRI
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A
Nama: Gunarti
NIM: 23310410118
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
JUNI, 2026
Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, mahasiswa diajak
untuk melakukan perubahan diri secara nyata, terukur, dan berkelanjutan.
Perubahan tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat
dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Pada
tugas ini, saya memilih untuk melakukan perubahan diri melalui kegiatan jalan
kaki selama sepuluh minggu berturut-turut.
Awalnya saya tidak memiliki tujuan khusus seperti
menurunkan berat badan atau meningkatkan performa olahraga. Saya hanya ingin
menantang diri sendiri untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin dan
mempertahankannya dalam jangka waktu tertentu. Saya memilih jalan kaki karena
olahraga ini mudah dilakukan, tidak membutuhkan biaya, serta dapat dilakukan
secara mandiri sesuai dengan kondisi dan waktu yang saya miliki.
Ketertarikan saya terhadap jalan kaki juga dipengaruhi
oleh beberapa informasi kesehatan yang saya lihat dari akun Instagram dr. Adam
Prabata. Salah satu informasi yang menarik perhatian saya adalah bahwa berjalan
sekitar 4.000 langkah per hari dapat membantu menurunkan risiko demensia atau
kepikunan pada usia lanjut. Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa kebiasaan
berjalan pada pagi hari dapat memberikan manfaat bagi kesehatan secara umum,
seperti membantu memperbaiki lingkar pinggang, indeks massa tubuh (IMT),
tekanan darah, dan frekuensi nadi saat istirahat. Informasi tersebut membuat
saya semakin termotivasi untuk menjadikan jalan kaki sebagai kebiasaan positif
yang dilakukan secara rutin.
Program perubahan diri ini saya lakukan selama sepuluh
minggu, mulai tanggal 11 April 2026 sampai 13 Juni 2026. Kegiatan dilakukan di
beberapa lokasi seperti Embung Mranggen, jalan desa, dan Lapangan Desa Gunung
Pring. Setiap minggu saya berjalan kaki minimal satu jam dan berusaha
meningkatkan jarak tempuh sebagai bentuk nilai tambah yang dapat diukur.
Tabel 1. Laporan kemajuan kegiatan jalan cepat
|
M |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
|
W |
60 |
65 |
72 |
65 |
68 |
70 |
65 |
65 |
60 |
60 |
|
J |
3,2 |
3,3 |
3,4 |
3,6 |
3,89 |
4,08 |
5 |
5,2 |
5,3 |
5 |
Grafik 1. Laporan kemajuan kegiatan jalan
cepat
Berdasarkan Tabel 1 dan Grafik 1 terlihat
adanya peningkatan kemampuan berjalan kaki selama program berlangsung. Pada
minggu pertama saya menempuh jarak 3,2 km dalam waktu 60 menit. Jarak tersebut
meningkat secara bertahap hingga mencapai 5,3 km pada minggu kesembilan. Hal
ini menunjukkan adanya perkembangan kemampuan fisik meskipun durasi olahraga
relatif tetap. Pada minggu kesepuluh terjadi sedikit penurunan menjadi 5 km
karena kondisi jempol kaki yang terasa pegal dan kurang nyaman saat digunakan
berjalan.
Selama menjalankan program ini, tantangan
terbesar yang saya hadapi adalah rasa malas untuk memulai aktivitas, terutama
ketika harus bangun pagi. Terkadang muncul keinginan untuk menunda jadwal jalan
kaki karena cuaca dingin atau merasa lelah setelah menjalani aktivitas kuliah.
Namun saya berusaha mengingat tujuan awal bahwa kegiatan ini merupakan bentuk
komitmen terhadap tugas perubahan diri yang diberikan dalam mata kuliah
Psikologi Inovasi.
Tantangan berikutnya adalah munculnya
keinginan untuk mengurangi jarak tempuh ketika tubuh mulai terasa lelah. Akan
tetapi, saya berusaha tetap mempertahankan target yang telah ditetapkan. Saya
juga mencoba melihat perkembangan setiap minggu agar lebih termotivasi untuk
terus melanjutkan program. Pada minggu terakhir, saya mengalami rasa pegal dan
sedikit nyeri pada jempol kaki sehingga aktivitas berjalan terasa kurang nyaman
dibandingkan biasanya. Meskipun demikian, saya tetap menyelesaikan program
sampai minggu kesepuluh sebagai bentuk komitmen terhadap perubahan yang telah
saya mulai.
Selain berbagai tantangan tersebut, saya juga
merasakan banyak manfaat positif. Tubuh terasa lebih segar, daya tahan fisik
meningkat, dan saya menjadi lebih terbiasa melakukan aktivitas fisik secara
rutin. Jalan kaki juga menjadi waktu bagi saya untuk menikmati suasana pagi dan
melepaskan kejenuhan setelah mengerjakan tugas kuliah. Saya merasa lebih
percaya diri karena mampu mempertahankan kebiasaan baru selama sepuluh minggu
tanpa terputus.
Kegiatan ini memiliki hubungan yang erat
dengan Psikologi Inovasi karena menunjukkan adanya proses perubahan diri yang
dilakukan secara sadar, terukur, dan berkelanjutan. Dalam Psikologi Inovasi,
kemampuan untuk beradaptasi dan membangun kebiasaan baru merupakan salah satu
bentuk inovasi pada diri sendiri. Perubahan yang dilakukan tidak harus bersifat
besar atau drastis. Justru perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten
sering kali lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang dan memberikan
dampak yang nyata.
Berdasarkan program yang telah dijalankan
selama sepuluh minggu, saya berhasil meningkatkan jarak tempuh jalan kaki dari
3,2 km menjadi 5,3 km sebelum mengalami sedikit penurunan pada minggu terakhir
karena kondisi fisik. Kegiatan ini memberikan pengalaman bahwa perubahan diri
dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Saya
berharap kebiasaan jalan kaki ini dapat terus dipertahankan sebagai bagian dari
gaya hidup sehat di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Lee, M., et al. (2024). Daily Steps and
Incident Dementia Among Older Adults. JAMA Neurology.
Prabata, A. (2025). Informasi manfaat berjalan
4.000 langkah per hari terhadap risiko demensia. Instagram. Diakses dari https://www.instagram.com/p/DPLpJIpj2L2/
Prabata, A. (2025). Informasi manfaat jalan
pagi terhadap kesehatan tubuh. Instagram. Diakses dari https://www.instagram.com/p/DSL9aesDzSz/
Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations
(5th ed.). New York: Free Press.
0 komentar:
Posting Komentar