21.6.26

ESSAI PRESTASI - ALIFA MAURA BUNGA HERINA

 

ESSAY PRESTASI

MEMBENTUK KARAKTER MELALUI SENI BELA DIRI : PENGABDIAN SUKARELA DI DOJO KLERO PRAMBANAN

 

   

 

 

Alifa Maura Bunga Herina

24310430041

Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Juni 2026

 

 

     Sejak tahun 2017, saya telah mendedikasikan diri sebagai asisten pelatih karate di Dojo Klero Prambanan. Berawal ketika masih duduk di bangku SMA hingga sekarang, kegiatan ini menjadi ruang bagi saya untuk tumbuh sekaligus berkontribusi nyata bagi komunitas sekitar. Setiap Hari Sabtu dan Minggu pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, saya hadir dan belajar dengan para siswa/kohe berusia 8 hingga 15 tahun untuk berlatih teknik, disiplin, dan mental seorang karateka sejati. Latihan saya lakukan secara sukarela, tanpa imbalan finansial apa pun.

     Keputusan untuk terlibat dalam kegiatan ini bukan semata dorongan nostalgia terhadap olahraga bela diri yang saya tekuni. Lebih dari itu, ada kesadaran bahwa banyak teman di lingkungan Prambanan yang membutuhkan ruang aman untuk berkembang  dan menyalurkan bakat baik secara fisik maupun psikologis. Ditengah kesibukan berkuliah dan bekerja, saya meluangkan waktu untuk berinteraksi disana. Di sinilah saya menemukan makna terdalam dari pelayanan masyarakat, bukan sekadar mengajarkan teknik kuda-kuda atau pukulan, melainkan membimbing karakter generasi muda agar tumbuh dengan rasa percaya diri, disiplin, tanggung jawab, dan hormat kepada sesama.

      Dalam peran sebagai asisten pelatih, saya belajar bahwa mendidik anak-anak usia 8 hingga 15 tahun menuntut pendekatan yang inovatif dan adaptif. Setiap anak membawa latar belakang emosi dan kemampuan yang berbeda. Ada yang hadir dengan semangat membara, namun ada pula yang datang dengan rasa minder atau takut gagal. Saya berupaya menerapkan pendekatan psikologi positif merayakan kemajuan kecil, memberikan umpan balik yang membangun, serta menciptakan suasana latihan yang menyenangkan namun tetap disiplin. Inovasi dalam metode pengajaran menjadi keharusan ketika rutinitas bisa berubah menjadi kebosanan, dan kebosanan adalah musuh terbesar bagi anak-anak. Setiap sore selalu ada variasi latihan yang berbeda seperti kumite, fisik, kata, dan jalan santai.

       Lebih dari sekadar teknik bela diri, dojo menjadi laboratorium sosial. Saya menyaksikan bagaimana anak yang awalnya pemalu perlahan berani tampil di depan umum, atau pertikaian kecil antar siswa yang terselesaikan melalui nilai-nilai sportivitas yang tertanam dalam setiap sesi latihan. Bahkan beberapa diantaranya berani untuk mengikuti berbagai perlombaan. Perubahan ini tidak tampak dalam piagam atau medali saja, tetapi terasa nyata dalam cara mereka berinteraksi, berbicara, dan menghadapi suatu tantangan.

      Pengalaman bertahun-tahun ini mengajarkan saya bahwa inovasi tidak selalu lahir dari ruang kelas universitas. Kadang, inovasi tumbuh dari dojo sederhana di Klero Prambanan dari seorang asisten pelatih muda yang percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan bimbingan terbaik, tanpa memandang latar belakang ekonomi mereka.

 

 

 

 

Lampiran

Foto 1. Dokumentasi saat pemanasan sebelum latihan

Foto 2. Dokumentasi saat kegiatan jalan santai ke Rumah Dome

Foto 3. Dokumentasi Tradisi setelah Ujian Kenaikan Tingkat

Foto 4. Dokumentasi saat persiapan latihan kumite

 

 

    

 

 

0 komentar:

Posting Komentar