29.5.26

UTS - Rahma Nur Al Amina

 

Essay 9 - Ujian Tengah Semester


Psikologi Inovasi

Dr. Arundhati Shinta, M.A


Rahma Nur Al Amina

23310410066



Fakultas Psikologi 

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026


Soal 1 - Integritas Karakter dan Mentalitas Inovator dalam Menghadapi Era Kecerdasan Buatan

Permasalahan: Degradasi Kognitif di Era Artificial Intelligence (AI)

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) di dunia akademik bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, AI menawarkan efisiens. Di sisi lain, ia mengancam integritas karakter dan perkembangan kognitif mahasiswa. Permasalahan utama yang muncul adalah kecenderungan mahasiswa untuk menyerahkan seluruh tugasnya kepada AI, hal tersebut berisiko mematikan kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas. Jika proses berpikir digantikan oleh mesin, karakter mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dipertaruhkan karena hilangnya proses perjuangan intelektual yang membentuk ketangguhan mental.

Solusi - Peran Dosen sebagai Inovator dan Motivator Karakter

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 20 Tahun 2018, seorang pendidik di satuan pendidikan yang secara kontekstual juga berlaku di universitas memiliki peran strategis sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi yang mendidik. Jika saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, langkah-langkah untuk membangun karakter mahasiswa adalah sebagai berikut:

Pertama, sebagai inovator saya akan merancang metode evaluasi yang "tahan AI". Alih-alih hanya tugas esai tertulis yang mudah diproduksi oleh mesin, saya akan menerapkan Project-Based Learning (PjBL) yang mewajibkan mahasiswa terjun ke lapangan untuk memecahkan masalah sosial nyata. Inovasi dalam pembelajaran ini memaksa mahasiswa menggunakan kemampuan kognitif tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills). Sejalan dengan penelitian dari Chan (2023) dalam jurnal Higher Education, literasi AI bukan sekadar kemampuan menggunakan alat, melainkan kemampuan mengevaluasi secara kritis output AI agar tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan etika.

Kedua, sebagai motivator, saya akan menekankan bahwa "proses lebih berharga daripada hasil akhir". Mahasiswa perlu dimotivasi untuk melihat tantangan sebagai sarana pengembangan diri, bukan sekadar beban nilai.

Ketiga, sebagai kolaborator, saya akan memposisikan diri sebagai mitra diskusi, sehingga mahasiswa merasa dihargai gagasan orisinalnya. 

Keempat, sebagai orang pemberi sanksi, sanksi yang mendidik tetap diperlukan. Jika terdeteksi penyalahgunaan AI tanpa sitasi yang benar, sanksi tidak hanya berupa pengurangan nilai, tetapi kewajiban untuk melakukan refleksi mendalam dan presentasi lisan guna membuktikan pemahaman materi secara mandiri.

 

Soal 2 - Analisis Film "Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week" dalam Perspektif Psikologi Inovasi


Film tersebut menggambarkan sebuah eksperimen sosial tentang daya tahan dan kreativitas dalam keterbatasan. Jika dihubungkan dengan materi kuliah Psikologi Inovasi pertemuan ke-1 hingga ke-7, terdapat beberapa keterkaitan yang signifikan:

Kuliah ke-1: Konsep Dasar Inovasi dan Mindset. Bagian film yang relevan adalah saat anak-anak miliarder tersebut harus menerima kenyataan hidup hanya dengan $50. Alasannya: Inovasi bermula dari disruption atau gangguan terhadap zona nyaman. Tanpa adanya tekanan atau kebutuhan (necessity), dorongan untuk berinovasi tidak akan muncul. Inovasi sering kali lahir dari keterbatasan sumber daya (frugal innovation).

Kuliah ke-2: Berfikir analitis, kreativitas, sebagai pemecah masalah. Bagian yang relevan adalah ketika salah satu anak berhasil bertahan dengan mencari cara-cara tidak biasa untuk mendapatkan uang atau menghemat biaya. Alasannya: Kreativitas adalah inti dari psikologi inovasi. Kemampuan untuk melihat peluang di tengah krisis merupakan kompetensi kognitif yang ingin dibangun melalui mata kuliah ini.

Kuliah ke-6: Kesediaan berubah dan kesibukan bekerja/belajar. Hanya satu anak yang bertahan. Alasannya: Dalam psikologi inovasi, ide cemerlang saja tidak cukup. Dibutuhkan ketekunan untuk mengeksekusi ide tersebut hingga berhasil. Hal ini sejalan dengan studi dari Dwivedi et al. (2024) yang menyatakan bahwa di era AI, nilai manusia yang paling tidak bisa digantikan adalah "kehendak" dan "ketangguhan mental" dalam menghadapi ketidakpastian.

 

Kesimpulan

Menghadapi abad AI, mahasiswa Psikologi UP45 tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi yang pasif. Dengan mengadopsi peran-peran dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2018, dosen dapat menuntun mahasiswa menjadi pribadi yang berpikir kritis dan berkarakter terpuji. Film tentang anak miliarder tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi sejati muncul dari karakter yang kuat dan kemampuan beradaptasi di tengah kesulitan. Sinergi antara kecanggihan teknologi dan integritas karakter adalah kunci untuk melahirkan inovator masa depan yang tetap memegang teguh nilai kemanusiaan.

 

 

Daftar Pustaka

Sumber Utama:

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.

Film: Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week. Only One Survived. (Analisis Materi Psikologi Inovasi).

 

Jurnal Penelitian:

Chan, C. K. (2023). A comprehensive framework for AI literacy for a sustainable future: The critical role of higher education. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 20(1), 1-21.

Dwivedi, Y. K., et al. (2024). "So what if ChatGPT wrote it?" Multidisciplinary perspectives on creative writing and AI in education. *International Journal of Information Management, 74, 102710.

Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO Publishing.

 


0 komentar:

Posting Komentar