Esai 9
Psikologi Inovasi – Ujian Tengah Semester (UTS)
Dosen
Pengampu : Dr.
Dra. Arundati Shinta, M.A.
Oleh: Nariswari Salsabiela (NIM 23310410107)
Soal 1 : Esai Pendidikan Karakter
Kelas “Menjadi Manusia”: Pembentukan
Karakter Mahasiswa di Era AI
Perkembangan Artificial
Intelligence membuat dunia pendidikan berada pada situasi yang paradoks.
Mahasiswa semakin mudah memperoleh jawaban, tetapi semakin sulit membangun
proses berpikir yang mendalam. Banyak tugas kuliah akhirnya hanya menjadi hasil
copy-paste AI tanpa refleksi pribadi. Jika kondisi ini dibiarkan,
mahasiswa memang terlihat cerdas secara akademik, tetapi miskin pengalaman
manusiawi, empati, dan daya kritis. Padahal, Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 menegaskan bahwa pendidik
harus berperan sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi
yang bersifat mendidik (Kemendikbud, 2018).
Jika saya menjadi dosen Psikologi
Inovasi, saya tidak akan melarang mahasiswa menggunakan AI. Justru, saya akan
mengubah model pembelajaran agar mahasiswa tidak bisa sepenuhnya bergantung
pada AI. Salah satu cara yang akan saya lakukan adalah meminta mahasiswa selalu
melibatkan pengalaman ‘manusiawi’ mereka dalam setiap tugas. Misalnya, ketika
membahas resiliensi, mahasiswa harus bisa mengintegrasikan teori dan cerita pengalaman
gagal, kecewa, atau bangkit dalam hidupnya sendiri. AI mungkin mampu menyusun
teori dengan rapi, tetapi tidak mampu menggantikan emosi, konflik batin, dan
pengalaman personal manusia.
Pendekatan tersebut sesuai dengan
teori konstruktivisme Piaget yang menjelaskan bahwa pengetahuan berkembang
melalui pengalaman dan proses aktif individu dalam membangun makna (Piaget,
1972). Karena itu, kelas harus menjadi ruang mahasiswa ‘menjadi manusia’, bukan
sekadar tempat mengumpulkan tugas formalitas. Saya ingin mahasiswa merasa bahwa
pendapat dan pengalaman mereka dihargai, bahkan ketika berbeda. Pendekatan
humanistik Rogers menyebutkan bahwa lingkungan yang suportif akan membantu
individu berkembang lebih autentik dan terbuka terhadap perubahan (Rogers,
1961).
Selain itu, saya akan konsisten memberikan
challenge studi kasus sehari-hari. Konsistensi jawaban mahasiswa dapat
menunjukkan kemampuan kognitifnya. Mahasiswa yang hanya bergantung pada AI
cenderung memberikan jawaban dangkal dan tidak konsisten. Sedangkan mahasiswa
yang benar-benar melakukan refleksi diri dan berpikir kritis sebelum memberikan
jawaban cenderung konsisten dalam memberikan jawaban yang komprehensif dengan
menyelipkan pengalaman atau sudut pandang pribadinya. Menurut teori metakognisi
Flavell, kesadaran terhadap proses berpikir membuat individu lebih mampu
mengevaluasi kualitas pemahamannya sendiri (Flavell, 1979).
Bagi saya, pembentukan karakter di
era AI bukan tentang membatasi mahasiswa memakai teknologi, melainkan membangun
kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Karakter, empati, integritas,
dan keberanian berpikir, tetap harus tumbuh dari pengalaman manusia yang nyata.
Disitulah Psikologi Inovasi menjadi penting, karena inovasi lahir dari manusia
yang mampu berpikir kritis tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya. Mahasiswa
akhirnya belajar bahwa kedewasaan intelektual tidak dapat digantikan oleh mesin
sepenuhnya.
Daftar Pustaka
Flavell, J. H. (1979).
Metacognition and cognitive monitoring: A new area of cognitive-developmental
inquiry. American Psychologist, 34(10), 906–911.
Kemendikbud. (2018). Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018
tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.
Piaget, J. (1972). The
psychology of the child. Basic Books.
Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist’s view of psychotherapy. Houghton Mifflin.
Soal 2 - Relevansi Isi Film dengan Materi
Perkuliahan
Kuliah ke-1
Bagian film yang relevan adalah
ketika ayah ketiga tokoh meminta anak-anaknya bertahan hidup hanya dengan uang 50
dolar. Alasannya, situasi tersebut menggambarkan bahwa perubahan, kreativitas,
dan keberanian mengambil risiko menjadi syarat utama untuk bertahan hidup. Anak
yang berhasil justru mampu berpikir berbeda, tidak pasif, dan berani keluar
dari zona nyaman.
Kuliah ke-2
Bagian film yang relevan adalah
saat masing-masing anak menunjukkan respons berbeda terhadap tekanan ekonomi. Materi
kuliah ke-2 membahas kesiapan menghadapi perubahan, coping behavior,
serta kemampuan tetap kreatif dalam situasi tidak menyenangkan. Tokoh yang
bertahan memperlihatkan motivasi internal kuat dan tidak takut gagal ketika
usahanya beberapa kali ditolak.
Kuliah ke-3
Bagian film yang relevan adalah
ketika tokoh utama mulai mencari peluang kerja kecil, membangun relasi, dan
memanfaatkan kemampuan komunikasi untuk mendapatkan uang. Materi ke-3 membahas
tentang pengangguran, menekankan pentingnya kualitas SDM, fleksibilitas,
keberanian mencoba pekerjaan baru, dan kemampuan membaca peluang dalam kondisi
sulit.
Kuliah ke-4
Bagian film yang relevan adalah
ketika tokoh utama mampu “menjual diri” secara positif melalui kepercayaan
diri, sikap sopan, dan kemampuan membangun kesan baik kepada orang lain. Materi
ke-4 menjelaskan bahwa potensi diri harus diperlihatkan secara kreatif agar
membuka peluang sosial maupun ekonomi.
Kuliah ke-5
Menurut saya, materi ke-5 kurang muncul
dalam film. Secara keseluruhan, film tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak
selalu lahir dari teknologi canggih, tetapi dari kemampuan manusia menghadapi
keterbatasan, mengelola tekanan, serta mengubah kesulitan menjadi kesempatan
untuk berkembang secara mental, sosial, dan ekonomi.
Kuliah ke-6
Bagian film yang relevan adalah
ketika satu anak mampu bertahan hidup dengan memanfaatkan uang 50 dolar secara
kreatif, sedangkan saudara lainnya menyerah pada keadaan. Materi ke-6 membahas
kesediaan berubah, resilience, self-leadership, serta keberanian
keluar dari zona nyaman demi bertahan menghadapi tekanan hidup yang keras
Kuliah ke-7
Bagian film yang relevan adalah ketika anak ketiga memanfaatkan uang terbatas secara kreatif demi bertahan hidup. Ia menunjukkan optimisme realistis, kemampuan membaca peluang, serta menghindari self-serving bias. Film juga menggambarkan konsep Back to The Future dan Johari Window karena karakter belajar memahami kekuatan, kelemahan, sekaligus pandangan lain terhadap dirinya.

0 komentar:
Posting Komentar