29.5.26

Esai 9 - Ujian Tengah Semester (UTS) - Nariswari Salsabiela (23310410107)

Esai 9 Psikologi Inovasi – Ujian Tengah Semester (UTS)

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.

 


Oleh: Nariswari Salsabiela (NIM 23310410107)

 

 Soal 1 : Esai Pendidikan Karakter

Kelas “Menjadi Manusia”: Pembentukan Karakter Mahasiswa di Era AI

Perkembangan Artificial Intelligence membuat dunia pendidikan berada pada situasi yang paradoks. Mahasiswa semakin mudah memperoleh jawaban, tetapi semakin sulit membangun proses berpikir yang mendalam. Banyak tugas kuliah akhirnya hanya menjadi hasil copy-paste AI tanpa refleksi pribadi. Jika kondisi ini dibiarkan, mahasiswa memang terlihat cerdas secara akademik, tetapi miskin pengalaman manusiawi, empati, dan daya kritis. Padahal, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 menegaskan bahwa pendidik harus berperan sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi yang bersifat mendidik (Kemendikbud, 2018).

Jika saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya tidak akan melarang mahasiswa menggunakan AI. Justru, saya akan mengubah model pembelajaran agar mahasiswa tidak bisa sepenuhnya bergantung pada AI. Salah satu cara yang akan saya lakukan adalah meminta mahasiswa selalu melibatkan pengalaman ‘manusiawi’ mereka dalam setiap tugas. Misalnya, ketika membahas resiliensi, mahasiswa harus bisa mengintegrasikan teori dan cerita pengalaman gagal, kecewa, atau bangkit dalam hidupnya sendiri. AI mungkin mampu menyusun teori dengan rapi, tetapi tidak mampu menggantikan emosi, konflik batin, dan pengalaman personal manusia.

Pendekatan tersebut sesuai dengan teori konstruktivisme Piaget yang menjelaskan bahwa pengetahuan berkembang melalui pengalaman dan proses aktif individu dalam membangun makna (Piaget, 1972). Karena itu, kelas harus menjadi ruang mahasiswa ‘menjadi manusia’, bukan sekadar tempat mengumpulkan tugas formalitas. Saya ingin mahasiswa merasa bahwa pendapat dan pengalaman mereka dihargai, bahkan ketika berbeda. Pendekatan humanistik Rogers menyebutkan bahwa lingkungan yang suportif akan membantu individu berkembang lebih autentik dan terbuka terhadap perubahan (Rogers, 1961).

Selain itu, saya akan konsisten memberikan challenge studi kasus sehari-hari. Konsistensi jawaban mahasiswa dapat menunjukkan kemampuan kognitifnya. Mahasiswa yang hanya bergantung pada AI cenderung memberikan jawaban dangkal dan tidak konsisten. Sedangkan mahasiswa yang benar-benar melakukan refleksi diri dan berpikir kritis sebelum memberikan jawaban cenderung konsisten dalam memberikan jawaban yang komprehensif dengan menyelipkan pengalaman atau sudut pandang pribadinya. Menurut teori metakognisi Flavell, kesadaran terhadap proses berpikir membuat individu lebih mampu mengevaluasi kualitas pemahamannya sendiri (Flavell, 1979).

Bagi saya, pembentukan karakter di era AI bukan tentang membatasi mahasiswa memakai teknologi, melainkan membangun kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Karakter, empati, integritas, dan keberanian berpikir, tetap harus tumbuh dari pengalaman manusia yang nyata. Disitulah Psikologi Inovasi menjadi penting, karena inovasi lahir dari manusia yang mampu berpikir kritis tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya. Mahasiswa akhirnya belajar bahwa kedewasaan intelektual tidak dapat digantikan oleh mesin sepenuhnya.

Daftar Pustaka

Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring: A new area of cognitive-developmental inquiry. American Psychologist, 34(10), 906–911.

Kemendikbud. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.

Piaget, J. (1972). The psychology of the child. Basic Books.

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist’s view of psychotherapy. Houghton Mifflin.


Soal 2 - Relevansi Isi Film dengan Materi Perkuliahan

Kuliah ke-1

Bagian film yang relevan adalah ketika ayah ketiga tokoh meminta anak-anaknya bertahan hidup hanya dengan uang 50 dolar. Alasannya, situasi tersebut menggambarkan bahwa perubahan, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko menjadi syarat utama untuk bertahan hidup. Anak yang berhasil justru mampu berpikir berbeda, tidak pasif, dan berani keluar dari zona nyaman.

Kuliah ke-2

Bagian film yang relevan adalah saat masing-masing anak menunjukkan respons berbeda terhadap tekanan ekonomi. Materi kuliah ke-2 membahas kesiapan menghadapi perubahan, coping behavior, serta kemampuan tetap kreatif dalam situasi tidak menyenangkan. Tokoh yang bertahan memperlihatkan motivasi internal kuat dan tidak takut gagal ketika usahanya beberapa kali ditolak.

Kuliah ke-3

Bagian film yang relevan adalah ketika tokoh utama mulai mencari peluang kerja kecil, membangun relasi, dan memanfaatkan kemampuan komunikasi untuk mendapatkan uang. Materi ke-3 membahas tentang pengangguran, menekankan pentingnya kualitas SDM, fleksibilitas, keberanian mencoba pekerjaan baru, dan kemampuan membaca peluang dalam kondisi sulit.

Kuliah ke-4

Bagian film yang relevan adalah ketika tokoh utama mampu “menjual diri” secara positif melalui kepercayaan diri, sikap sopan, dan kemampuan membangun kesan baik kepada orang lain. Materi ke-4 menjelaskan bahwa potensi diri harus diperlihatkan secara kreatif agar membuka peluang sosial maupun ekonomi.

Kuliah ke-5

Menurut saya, materi ke-5 kurang muncul dalam film. Secara keseluruhan, film tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi canggih, tetapi dari kemampuan manusia menghadapi keterbatasan, mengelola tekanan, serta mengubah kesulitan menjadi kesempatan untuk berkembang secara mental, sosial, dan ekonomi.

Kuliah ke-6

Bagian film yang relevan adalah ketika satu anak mampu bertahan hidup dengan memanfaatkan uang 50 dolar secara kreatif, sedangkan saudara lainnya menyerah pada keadaan. Materi ke-6 membahas kesediaan berubah, resilience, self-leadership, serta keberanian keluar dari zona nyaman demi bertahan menghadapi tekanan hidup yang keras

Kuliah ke-7

Bagian film yang relevan adalah ketika anak ketiga memanfaatkan uang terbatas secara kreatif demi bertahan hidup. Ia menunjukkan optimisme realistis, kemampuan membaca peluang, serta menghindari self-serving bias. Film juga menggambarkan konsep Back to The Future dan Johari Window karena karakter belajar memahami kekuatan, kelemahan, sekaligus pandangan lain terhadap dirinya.

0 komentar:

Posting Komentar