ESSAY 9 : UJIAN TENGAH SEMESTER- KARYAWAN
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati
Shinta, MA.
Nama: Cholifahtun Pratista Dewi
NIM: 23310410120
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
2026
Pendapat Tentang Penggunaan AI Dan Pembangunan Karakter Pada Mahasiswa
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) membawa pengaruh besar dalam dunia pendidikan. Saat ini mahasiswa dapat dengan mudah mencari jawaban, membuat tugas, bahkan menyusun essay dengan bantuan AI. Teknologi memang membantu proses belajar karena mempermudah pencarian informasi dan menghemat waktu. Namun, penggunaan AI yang berlebihan juga dapat membuat mahasiswa menjadi malas berpikir dan kurang memiliki kemampuan analisis. Oleh karena itu, dosen memiliki peran penting dalam membangun karakter mahasiswa agar tetap berkembang dengan baik di era AI.
Jika saya menjadi dosen mata kuliah Psikologi Inovasi, saya akan berperan sebagai motivator bagi mahasiswa. Saya akan menjelaskan bahwa AI hanya alat bantu belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Mahasiswa tetap harus memahami materi dan menggunakan pemikirannya sendiri agar kemampuan kognitifnya berkembang. Selain itu, saya akan mengingatkan bahwa tujuan kuliah bukan hanya mencari nilai, tetapi juga membentuk karakter yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
Saya juga akan menjadi inovator dalam proses pembelajaran. Metode belajar akan dibuat lebih aktif seperti diskusi kelompok, presentasi, dan studi kasus. Dengan cara tersebut, mahasiswa akan lebih terbiasa berpikir kritis dan menyampaikan pendapatnya sendiri. Tugas yang diberikan juga lebih menekankan pada hasil analisis dan pengalaman pribadi sehingga tidak mudah sepenuhnya dikerjakan oleh AI.
Selain itu, saya akan membangun hubungan yang baik dengan mahasiswa agar proses belajar lebih nyaman. Jika ada mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI, saya akan memberikan sanksi yang bersifat mendidik, misalnya meminta mahasiswa menjelaskan isi tugasnya di depan kelas. Hal tersebut bertujuan agar mahasiswa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sendiri.
Menurut saya, pendidikan karakter sangat penting pada era AI. Teknologi harus digunakan secara bijak agar membantu proses belajar, bukan membuat mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan nilai kejujuran.
Film “Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week. Only One Survived” menggambarkan bagaimana seseorang diuji untuk bertahan hidup, berpikir kreatif, dan mengambil keputusan dalam kondisi sulit. Film ini sangat berkaitan dengan materi Psikologi Inovasi pertemuan 1 sampai 7.
Pada kuliah ke-1 tentang Psikologi Inovasi, dijelaskan bahwa inovasi muncul ketika seseorang mampu menemukan cara baru untuk menyelesaikan masalah. Dalam film tersebut, ketiga anak miliarder diberikan tantangan hidup hanya dengan uang 50 dolar selama satu minggu. Situasi itu membuat mereka harus berpikir kreatif dan mencari solusi agar dapat bertahan hidup. Anak yang berhasil menunjukkan kemampuan inovasi karena tidak hanya mengandalkan uang, tetapi juga memanfaatkan peluang yang ada.
Pada kuliah ke-2 tentang Output Psikologi Inovasi, dijelaskan bahwa hasil dari inovasi adalah munculnya kreativitas, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan memecahkan masalah. Hal ini terlihat pada anak yang berhasil bertahan karena ia mampu menggunakan keterampilan komunikasi dan berpikir strategis untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ia tidak menyerah dengan keadaan dan terus mencari cara agar dapat memenuhi kebutuhannya.
Materi kuliah ke-3 tentang Pengangguran di Indonesia juga berhubungan dengan film tersebut. Banyak pengangguran terjadi karena kurangnya kemampuan beradaptasi dan rendahnya kreativitas dalam mencari peluang kerja. Dalam film, anak yang berhasil justru mampu menciptakan peluang sendiri meskipun dalam keadaan terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh hanya bergantung pada fasilitas atau kekayaan keluarga.
Pada kuliah ke-4 mengenai Mengatasi Pengangguran dengan “Jual Diri”, dijelaskan bahwa seseorang harus mampu menunjukkan kemampuan dan potensi dirinya kepada orang lain. Dalam film, anak yang bertahan mampu membangun komunikasi dengan orang lain dan memanfaatkan kemampuan dirinya untuk memperoleh bantuan maupun pekerjaan kecil. Ia mampu “menjual diri” dengan sikap percaya diri dan kerja keras.
Kuliah ke-5 tentang Teori Keengganan untuk Berubah terlihat dari sikap dua anak lainnya yang sulit beradaptasi dengan kondisi baru. Mereka terbiasa hidup nyaman sehingga kesulitan menghadapi tantangan. Sedangkan anak yang berhasil menunjukkan sikap terbuka terhadap perubahan dan mau keluar dari zona nyaman
Pada kuliah ke-6 tentang Kesediaan Berubah vs Kesibukan, film ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh alasan sibuk, tetapi oleh kemauan untuk berubah dan bertindak. Anak yang berhasil lebih fokus mencari solusi dibanding mengeluh terhadap keadaan.
Pada kuliah ke-7 Back to the Future, film ini mengajarkan bahwa pengalaman sulit dapat menjadi pelajaran untuk masa depan. Tantangan yang diberikan ayah mereka bertujuan agar anak-anaknya memahami arti kerja keras, tanggung jawab, dan pentingnya inovasi dalam menghadapi kehidupan nyata.
0 komentar:
Posting Komentar