29.5.26

UTS Psi. Inovasi - Fairus Adhytia S (23310410112) / Dosen: Arundati Shinta (29-05-2026)

Fairus Adhytia Setiawan (23310410112)

Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.

Jum'at, 29 Mei 2026

UJIAN TENGAH SEMESTER

SOAL 1

Perkembangan Artificial Intelligence atau AI memberikan banyak manfaat dalam dunia pendidikan karena membantu mahasiswa memperoleh informasi dengan cepat dan mudah. Namun, penggunaan AI yang berlebihan juga dapat membuat mahasiswa menjadi malas berpikir, kurang kritis, dan terlalu bergantung pada teknologi. Akibatnya, kemampuan analisis, kreativitas, serta tanggung jawab akademik dapat menurun. Hal ini menjadi tantangan serius, mengingat perguruan tinggi bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan juga wadah pembentukan karakter. Oleh karena itu, dosen memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa agar tetap berkembang secara optimal di era AI.

Apabila saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya akan menanamkan pemahaman bahwa AI hanyalah alat bantu belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Mahasiswa perlu menyadari bahwa tujuan kuliah bukan sekadar mendapatkan nilai, tetapi juga melatih kemampuan berpikir, menyelesaikan masalah, dan membangun karakter yang baik. Pemahaman ini penting ditanamkan sejak awal perkuliahan agar mahasiswa tidak terjebak dalam pola belajar yang pasif dan instan.

Saya juga akan menggunakan metode pembelajaran yang lebih aktif, seperti diskusi, presentasi, dan refleksi pengalaman pribadi. Metode ini sejalan dengan prinsip pembelajaran konstruktivistik, di mana pengetahuan dibangun secara aktif oleh mahasiswa melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menerima informasi. Dengan cara tersebut, mahasiswa akan terdorong untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapatnya sendiri. Selain itu, saya akan memberikan tugas yang lebih dekat dengan kehidupan nyata agar mahasiswa tidak hanya bergantung pada jawaban instan dari AI.

Dalam menghadapi mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI, saya tidak akan langsung memberikan hukuman keras. Saya lebih memilih memberikan sanksi yang bersifat mendidik, misalnya meminta mahasiswa menjelaskan kembali hasil pekerjaannya atau memperbaiki tugas dengan analisis pribadi. Pendekatan ini sejalan dengan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 yang menegaskan bahwa sanksi harus bersifat mendidik, bukan menghukum semata. Menurut saya, pendekatan seperti ini lebih efektif untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab akademik.

Selain kemampuan akademik, saya juga akan menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Karakter yang baik sangat penting karena mahasiswa merupakan calon pemimpin masa depan. AI memang mampu memberikan informasi dengan cepat, tetapi AI tidak memiliki moral, empati, dan hati nurani seperti manusia. Dengan pendidikan karakter yang kuat, mahasiswa tidak hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas yang dapat diandalkan di tengah masyarakat.


SOAL 2

Pada film yang berjudul "Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week. Only One Survived. Here's What He Did With It", sedikit pemahaman saya mengenai film tersebut, yaitu menceritakan tiga anak dari keluarga kaya yang diminta untuk bertahan hidup dengan uang yang terbatas selama satu minggu. Film ini menunjukkan bagaimana seseorang menghadapi kesulitan, perubahan, dan tekanan hidup, sehingga film ini dapat dikatakan sangat relevan dengan materi Psikologi Inovasi.

Pendapat singkat saya mengenai hubungan film tersebut dengan materi perkuliahan pertemuan 1 sampai 7:

  • Kuliah ke-2: Membahas tentang output Psikologi Inovasi, individu yang mampu berpikir tenang dan analitis dalam mencari solusi terbukti lebih mudah bertahan, hal ini menggambarkan bahwa kreativitas dan ketangguhan mental adalah hasil nyata dari proses belajar berinovasi.
  • Kuliah ke-3: Membahas pengangguran di Indonesia. Film ini relevan karena menggambarkan tidak mudahnya mencari uang dan bertahan hidup, yang mencerminkan kondisi nyata banyaknya masyarakat yang berjuang mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Banyak orang menginginkan pekerjaan nyaman dengan penghasilan tinggi, tetapi tidak semua mau menghadapi kesulitan dan risiko
  • Kuliah ke-4: Tentang mengatasi pengangguran dengan menjual diri tercermin ketika salah satu tokoh terlihat mencoba membangun relasi dan mempromosikan potensi dirinya untuk mendapat peluang, sebuah keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Film ini mengajarkan bahwa seseorang tidak cukup hanya memiliki kemampuan, tetapi harus mampu membangun relasi, percaya diri, dan menunjukkan kualitas dirinya.
  • Kuliah ke-5: Membahas teori keengganan untuk berubah. Pada awal tantangan, beberapa tokoh sulit melepaskan gaya hidup nyaman mereka, yang menggambarkan resistensi alami manusia terhadap perubahan. Pesan penting dari bagian ini adalah bahwa kemampuan menerima perubahan merupakan salah satu kunci keberhasilan hidup di era modern.
  • Kuliah ke-7: Ketika pengalaman hidup sederhana menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka, mengajarkan nilai kerja keras, penghargaan terhadap uang, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan. Inilah inti dari materi Back to the Future, yaitu belajar dari pengalaman saat ini untuk membentuk masa depan yang lebih matang dan bijaksana.

Secara keseluruhan, film tersebut mengajarkan pentingnya kemampuan beradaptasi, berpikir kreatif, dan berani menghadapi perubahan. Selain itu, film tersebut juga menunjukkan bahwa kesulitan hidup dapat menjadi proses pembelajaran untuk membentuk karakter yang lebih kuat dan mandiri.


Daftar Pustaka

Permendikbud RI Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of innovations (5th ed.). Free Press.

Santrock, J. W. (2018). Educational psychology (6th ed.). McGraw-Hill Education.


0 komentar:

Posting Komentar