20.5.26

Essay 4 - Psikologi Inovasi : My Best Coping Behavior - Ainun Awanda Frisca (24310430013)

 Strategi Coping dalam Menghadapi Trauma Akademik

Nama : Ainun Awanda Frisca

NIM : 24310430013

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 4

My Best Coping Behavior

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Mei 2026

Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan, tetapi juga memiliki akal dan hati nurani untuk belajar dan memperbaiki diri. Dalam kehidupan, pikiran dan perasaan sering tidak sejalan sehingga seseorang bisa mengalami kebingungan, kecewa, atau penyesalan. Karena itu, seseorang tidak bisa dinilai hanya dari satu kesalahan atau dari pandangan orang lain, melainkan dari prosesnya dalam bertumbuh dan memperbaiki diri.

Sebelumnya, saya pernah menempuh pendidikan di bidang kesehatan hingga lulus. Saat itu saya merasa bangga karena bisa masuk ke jurusan yang sangat diidamkan oleh orang tua saya. Saya berusaha menjalani semuanya dengan baik, meskipun di dalam perjalanan perkuliahan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Menjelang akhir masa studi, saya mengalami sebuah masa yang cukup berat dan menyakitkan bagi diri saya sendiri. Pengalaman itu sempat membuat saya merasa sedih, kecewa, bingung, dan mempertanyakan kemampuan diri saya.

Hal itu terjadi saat praktikum, di bulan Oktober 2012 saya tidak sengaja menjatuhkan dan merusak phantom bayi karena penempatan yang kurang tepat. Dosen merasa kecewa dan melaporkan kejadian itu ke laboratorium, namun pihak laboratorium tidak meminta ganti rugi, dan saya hanya diminta bertanggung jawab untuk memperbaiki. Namun, dosen kemudian membagikan kejadian tersebut di media sosial pribainya sehingga menimbulkan komentar negatif dari mahasiswa lain, termasuk tuduhan berlebihan seperti malpraktik dan usulan untuk tidak meluluskan saya. Hal ini membuat saya sedih, malu, dan kehilangan kepercayaan diri hingga saya berhari-hari mengurung diri di kamar kost. Respon ini menunjukkan bahwa saya sedang mengalami emotion focused coping yang berasal dari emosi negatif. Meski begitu, pada akhirnya saya mulai bangkit berkat dukungan dari teman-teman dekat dan keluarga (Lazarus dan Folkman, 1984).

Kejadian tersebut membuat saya sempat merasa rendah diri untuk kembali menekuni pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi yang pernah saya tempuh. Di sisi lain, saya tidak menyerah. Setelah lulus, saya tetap menjalani magang di bidang kesehatan, dan pada saat itu bidan senior serta perawat menilai bahwa kinerja saya sudah cukup baik. Namun, saya masih merasa kurang percaya diri untuk menggunakan alat medis dan melakukan tindakan medis secara langsung. Karena hal tersebut, saya memilih untuk tetap bekerja di bidang kesehatan, tetapi tidak terlibat secara langsung dalam penggunaan alat maupun tindakan medis. Apa yang saya lakukan merupakan bagian dari active coping (Carver, Scheier, & Weintraub, 1989). Akhirnya, pada tahun 2019 saya memutuskan untuk bekerja sebagai caregiver. Saya bersyukur karena dalam pekerjaan tersebut saya mendapatkan kepercayaan dari pengguna jasa untuk mendampingi beliau saat berobat ke luar negeri. Pengalaman ini memberikan banyak pembelajaran, baik mengenai aspek medis maupun budaya. Selain itu, tenaga kesehatan di sana juga banyak memberikan ilmu dan bimbingan agar saya dapat menjadi caregiver yang lebih kompeten dalam merawat klien.

Daftar Pustaka :

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York: Springer Publishing Company.

Carver, C. S., Scheier, M. F., & Weintraub, J. K. (1989). Assessing coping strategies: A theoretically based approach. Journal of Personality and Social Psychology, 56(2), 267–283. https://doi.org/10.1037/0022-3514.56.2.267

  




0 komentar:

Posting Komentar