Essay 3 Menjadi Suri Tauladan
Psikologi Inovasi
Dosen pengampu : Dr. Shinta Arundati., M.A
Nama : Diah Nurul Khazanah
NIM : 23310410105
Cahaya Penerang Sesudah Badai
Menemukan Kembali Jati Diri Melalui Inovasi Pasca Mengalami KDRT
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah salah satu bentuk trauma paling destruktif bagi jiwa manusia. Ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan paling aman justru berubah menjadi medan perang psikologis dan fisik, fondasi diri seorang korban sering kali runtuh berkeping-keping.
Saya pernah berada di titik keterpurukan ini dan itu membuat dunia terasa sempit, gelap, dan tanpa jalan keluar. Namun, kebangkitan dari KDRT bukan sekadar cerita tentang bertahan hidup, tetapi menjadi awal kehidupan untuk bangkit dan melawan kembali rasa trauma dalam hidup.
Menjadi suri tauladan pasca mengalami KDRT berarti memiliki keberanian untuk mendobrak batasan trauma dan melakukan inovasi terhadap cara berpikir, bertindak, dan memaknai hidup.
Bangkit dari keterpurukan tidak lagi dipandang sebagai proses pemulihan yang pasif, melainkan sebuah tindakan inovatif. Ketika cara-cara lama untuk bahagia dan merasa aman telah dihancurkan oleh pelaku kekerasan, seorang korban penyintas dituntut untuk menciptakan "versi baru" dari dirinya sendiri.
Mereka yang berhasil bangkit menjadi suri tauladan karena mereka tidak memilih untuk larut dalam status sebagai korban. Sebaliknya, mereka berinovasi dengan membangun strategi koping yang baru, merancang ulang masa depan mereka, dan sering kali mengubah luka masa lalu menjadi bahan bakar untuk memberdayakan sesama perempuan atau sesama penyintas.
George Bonanno, seorang tokoh psikologi klinis terkemuka di bidang trauma, mengemukakan bahwa manusia memiliki kapasitas resiliensi yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan. Bonanno memperkenalkan konsep Coping Flexibility. Menurutnya, kemampuan seseorang untuk bangkit dari trauma sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk secara inovatif untuk mengubah dan menyesuaikan strategi koping mereka sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Korban KDRT yang terjebak sering kali menggunakan koping yang pasif menolak kenyataan atau mengisolasi diri karena mekanisme pertahanan yang menggunakan insting. Perubahan terjadi ketika penyintas mulai memetakan kembali strategi mereka. Dari pasif menjadi aktif. Mereka berinovasi dengan cara mencari dukungan profesional, belajar mandiri secara finansial, dan membangun sistem pendukung (support system) yang baru. Fleksibilitas untuk mencoba cara-cara baru inilah yang membedakan seorang korban dengan seorang pemenang yang menginspirasi.
Mengubah Trauma Menjadi Solusi
1. Destruksi Kreatif terhadap Narasi Korban
Penyintas harus bisa meruntuhkan sugesti bahwa "saya tidak berdaya" atau "ini salah saya" yang sering ditanamkan oleh pelaku dan menggantinya dengan sugesti yang baru bahwa "saya adalah arsitek dari masa depan saya sendiri."
2. Inovasi Sosial dan Relasional
Penyintas harus bisa memutus siklus hubungan yang beracun dan secara sadar menata ulang lingkaran sosial mereka dan memilih untuk dikelilingi oleh hubungan yang sehat dan saling menghormati.
3. Pemanfaatan Rasa Sakit
Inovasi tertinggi terjadi ketika trauma diubah menjadi modal sosial. Banyak suri tauladan pasca-KDRT yang akhirnya menjadi konselor, aktivis, atau pengusaha yang membuka lapangan kerja bagi perempuan rentan lainnya.
Daftar Pustaka
Bonanno, G. A. (2004). Loss, trauma, and human resilience: Have we underestimated the human capacity to thrive after extremely aversive events?. American Psychologist, 59(1), 20–28.
DOI: https://doi.org/10.1037/0003-066X.59.1.20
Bonanno, G. A., & Burton, C. L. (2013). Regulatory flexibility: An individual differences perspective on coping and emotion regulation. Perspectives on Psychological Science, 8(6), 591–612.
DOI: https://doi.org/10.1177/1745691613504116
Video :
https://youtu.be/TGZcFfFfUmg?si=m8wxZX_i_jDfa7TZ

0 komentar:
Posting Komentar