19.5.26

ESSAY 4 Fairus Adhytia - MY BEST COPING BEHAVIOR

 

Fairus Adhytia Setiawan

23310410112 (Kelas Karyawan)

Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.

Mei 2026


MY BEST COPING BEHAVIOR


Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi tekanan dan masalah dalam hidup. Beberapa orang berpaling menuju keramaian, sementara yang lain justru mencari keheningan. Dalam perjalanan pengenalan diri sendiri, saya menemukan bahwa dua hal selalu berhasil membawa saya kembali ke keseimbangan yaitu berada di alam dan bergerak secara fisik. Ketika ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, kaki saya mulai ingin melangkah di atas tanah yang lapang, udara segar masuk ke paru-paru, dan pemandang yang bebas. Bagi saya, itu bukan sekadar rekreasi tetap reset total pikiran secara penuh. Kapan pun saya merasa overwhelmed oleh tugas, tenggat waktu, atau konflik interpersonal, langkah pertama yang saya lakukan adalah keluar. Bisa sekadar berjalan di sekitar lingkungan, mendatangi taman kota, atau sesekali berjalan dengan tujuan yang cukup jauh. Konsistensinya selalu sama, setelah kembali saya merasa lebih jernih.

Penelitian dalam bidang environmental psychology menunjukkan bahwa paparan terhadap lingkungan alam pohon, air, langit terbuka secara signifikan menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dan aktivitas di prefrontal cortex yang terkait dengan rumination atau pikiran berulang yang negatif (Bratman et al., 2015). Teori Attention Restoration (Kaplan. 1989) menjelaskan bahwa alam membantu memulihkan kapasitas perhatian yang terkuras oleh aktivitas kognitif intens.

Lalu, coping behavior saya yang paling jujur yaitu olahraga, ketika tubuh bergerak dengan sungguh-sungguh, beban pikiran tidak punya ruang untuk melarikan diri ke kekhawatiran. Tubuh membutuhkan seluruh perhatian. Ada kepuasan yang berbeda ketika tubuh mencapai sesuatu yang tadi terasa berat. Itu bukan hanya soal fisik, ada rasa mampu, rasa berdaya, yang kemudian merembes ke cara saya menghadapi tantangan.  Pasca olahraga juga memperbaiki kualitas tidur saya yang berdampak pada stabilitas emosi, pikiran terasa lebih tenang dan produktif, dan bila konsisten saya lakukan, olahraga juga dapat berdampak pada peningkatan rasa disiplin dalam hidup.

Aktivitas fisik aerobik terbukti meningkatkan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dan endorfin, dua senyawa yang berperan besar dalam regulasi suasana hati dan pengurangan gejala depresi dan kecemasan (Ratey & Loehr, 2011). Meta-analisis oleh Rebar et al. (2015) menemukan efek signifikan olahraga dalam menurunkan gejala depresi bahkan tanpa intervensi psikologis tambahan. Olahraga bagi saya bukan tentang penampilan fisik, olahraga adalah cara saya mengelola tekanan secara harfiah membakar hormon stres yang menumpuk, dan menggantinya dengan energi yang lebih bersih.

Menurut saya coping behavior yang sehat dan baik, bukan tentang melarikan diri dari masalah, melainkan tentang membangun kapasitas diri untuk kembali menghadapinya dengan lebih utuh. Kedua hal diatas bukan pelarian, tetapi adalah cara saya mengisi ulang diri agar bisa terus hadir dan berfungsi dengan baik. Dari pengalaman yang saya rasakan, menjaga pikiran tetap tenang dan memberi ruang untuk diri sendiri merupakan cara coping yang paling efektif dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.


Daftar Pustaka

- Bratman, G. N., Hamilton, J. P., Hahn, K. S., Daily, G. C., & Gross, J. J. (2015). Nature experience reduces rumination and subgenual prefrontal cortex activation. PNAS, 112(28), 8567–8572.

- Kaplan, R., & Kaplan, S. (1989). The experience of nature: A psychological perspective. Cambridge University Press.

Ratey, J. J., & Loehr, J. E. (2011). The positive impact of physical activity on cognition during adulthood: a review of underlying mechanisms, evidence and recommendations. Reviews in the Neurosciences, 22(2), 171–185.

Rebar, A. L., Stanton, R., Geard, D., Short, C., Duncan, M. J., & Vandelanotte, C. (2015). A meta-meta-analysis of the effect of physical activity on depression and anxiety in non-clinical adult populations. Health Psychology Review, 9(3), 366–378.


0 komentar:

Posting Komentar