13.5.26

Essay 4: Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Pada bulan Februari 2021, saya mengalami salah satu peristiwa yang paling berat dan menyakitkan dalam hidup saya. Saat itu saya sedang berjuang mengikuti tes mendaftar pekerjaan, yang merupakan cita-cita besar saya sejak lama. Menjadi seorang polisi wanita adalah impian yang ingin saya wujudkan karena saya ingin membanggakan kedua orang tua saya, terutama ayah saya yang selalu mendukung dan memberi semangat dalam setiap langkah hidup saya. Saya sudah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, baik secara fisik maupun mental, karena saya tahu proses seleksinya tidak mudah.

Namun, di tengah perjuangan tersebut, saya mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami kecelakaan. Saat mendengar kabar itu, saya benar-benar merasa dunia saya seperti berhenti sejenak. Saya sangat terkejut, panik, sedih, dan tidak bisa berpikir dengan tenang. Pikiran saya langsung tertuju pada kondisi ayah. Saya merasa takut kehilangan beliau karena ayah adalah sosok yang sangat penting dalam hidup saya. Beliau bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga tempat saya bercerita, meminta nasihat, dan mendapatkan kekuatan.

Situasi itu membuat saya mengalami stres yang cukup berat. Di satu sisi, saya harus tetap fokus menjalani tes yang sudah saya persiapkan sejak lama. Di sisi lain, hati dan pikiran saya selalu tertuju pada kondisi ayah yang sedang dirawat. Saya sering merasa cemas, sulit tidur, mudah menangis, dan tidak bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan saya sempat berpikir untuk menyerah dan berhenti mengikuti tes karena merasa tidak sanggup menghadapi semuanya sekaligus.

Tetapi setelah saya pikirkan kembali, saya sadar bahwa menyerah bukanlah solusi. Saya yakin ayah saya juga tidak ingin melihat saya berhenti di tengah jalan. Dari situ saya mulai mencoba bangkit dan mengatur diri saya dengan menggunakan coping behavior yang paling membantu saya, yaitu problem focused coping dan emotional coping.

Problem focused coping saya lakukan dengan cara tetap menjalani tes secara maksimal sambil berusaha membantu keluarga dan menjaga ayah. Saya mencoba mengatur waktu sebaik mungkin antara belajar, latihan fisik, dan menemani keluarga. Saya tetap berusaha disiplin, menjaga kesehatan, dan tidak membiarkan kesedihan menghancurkan fokus saya. Saya juga aktif mencari informasi tentang kondisi ayah agar saya tidak terlalu larut dalam kecemasan yang berlebihan.

Selain itu, saya juga menggunakan emotional coping untuk menenangkan diri secara emosional. Saya lebih banyak berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan berusaha menerima bahwa setiap manusia pasti diuji dengan cara yang berbeda. Saya mencoba berpikir positif bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Saya juga sering berbicara dengan ibu dan keluarga agar beban pikiran saya terasa lebih ringan. Dukungan dari mereka membuat saya merasa lebih kuat dan tidak sendirian menghadapi keadaan sulit ini.

Hari yang paling saya tunggu akhirnya datang, yaitu hari pengumuman hasil tes. Saat itu saya dinyatakan diterima, dan pada waktu yang hampir bersamaan kondisi ayah saya juga mulai membaik hingga akhirnya sembuh. Perasaan saya saat itu benar-benar campur aduk antara bahagia, haru, lega, dan syukur. Saya merasa semua perjuangan, air mata, rasa takut, dan stres yang saya alami akhirnya terbayar dengan hasil yang indah.

Dari peristiwa ini, saya belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi kita harus tetap kuat menghadapinya. Saya juga belajar bahwa stres bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pendewasaan diri. Coping behavior yang baik sangat membantu saya untuk tetap bertahan dan bangkit. Saya semakin memahami bahwa keluarga adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidup saya. Pengalaman ini akan selalu saya ingat sebagai pelajaran berharga bahwa selama kita berusaha, berdoa, dan tidak menyerah, selalu ada jalan terbaik yang Tuhan siapkan.

 

0 komentar:

Posting Komentar