ESSAY 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR
Dosen
Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Nama:
Cholifahtun Pratista Dewi
NIM:
23310410120
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
2026
Pada bulan Februari 2021, saya
mengalami salah satu peristiwa yang paling berat dan menyakitkan dalam hidup
saya. Saat itu saya sedang berjuang mengikuti tes mendaftar pekerjaan, yang
merupakan cita-cita besar saya sejak lama. Menjadi seorang polisi wanita adalah
impian yang ingin saya wujudkan karena saya ingin membanggakan kedua orang tua
saya, terutama ayah saya yang selalu mendukung dan memberi semangat dalam
setiap langkah hidup saya. Saya sudah mempersiapkan diri dengan
sungguh-sungguh, baik secara fisik maupun mental, karena saya tahu proses
seleksinya tidak mudah.
Namun, di tengah perjuangan
tersebut, saya mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami kecelakaan. Saat
mendengar kabar itu, saya benar-benar merasa dunia saya seperti berhenti
sejenak. Saya sangat terkejut, panik, sedih, dan tidak bisa berpikir dengan
tenang. Pikiran saya langsung tertuju pada kondisi ayah. Saya merasa takut
kehilangan beliau karena ayah adalah sosok yang sangat penting dalam hidup
saya. Beliau bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga tempat saya bercerita,
meminta nasihat, dan mendapatkan kekuatan.
Situasi itu membuat saya
mengalami stres yang cukup berat. Di satu sisi, saya harus tetap fokus
menjalani tes yang sudah saya persiapkan sejak lama. Di sisi lain, hati dan
pikiran saya selalu tertuju pada kondisi ayah yang sedang dirawat. Saya sering
merasa cemas, sulit tidur, mudah menangis, dan tidak bersemangat menjalani
aktivitas sehari-hari. Bahkan saya sempat berpikir untuk menyerah dan berhenti
mengikuti tes karena merasa tidak sanggup menghadapi semuanya sekaligus.
Tetapi setelah saya pikirkan
kembali, saya sadar bahwa menyerah bukanlah solusi. Saya yakin ayah saya juga
tidak ingin melihat saya berhenti di tengah jalan. Dari situ saya mulai mencoba
bangkit dan mengatur diri saya dengan menggunakan coping behavior yang paling
membantu saya, yaitu problem focused coping dan emotional coping.
Problem focused coping saya
lakukan dengan cara tetap menjalani tes secara maksimal sambil berusaha
membantu keluarga dan menjaga ayah. Saya mencoba mengatur waktu sebaik mungkin
antara belajar, latihan fisik, dan menemani keluarga. Saya tetap berusaha disiplin,
menjaga kesehatan, dan tidak membiarkan kesedihan menghancurkan fokus saya.
Saya juga aktif mencari informasi tentang kondisi ayah agar saya tidak terlalu
larut dalam kecemasan yang berlebihan.
Selain itu, saya juga menggunakan
emotional coping untuk menenangkan diri secara emosional. Saya lebih banyak
berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan berusaha menerima bahwa setiap
manusia pasti diuji dengan cara yang berbeda. Saya mencoba berpikir positif
bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Saya juga sering berbicara dengan ibu dan
keluarga agar beban pikiran saya terasa lebih ringan. Dukungan dari mereka
membuat saya merasa lebih kuat dan tidak sendirian menghadapi keadaan sulit
ini.
Hari yang paling saya tunggu
akhirnya datang, yaitu hari pengumuman hasil tes. Saat itu saya dinyatakan
diterima, dan pada waktu yang hampir bersamaan kondisi ayah saya juga mulai
membaik hingga akhirnya sembuh. Perasaan saya saat itu benar-benar campur aduk
antara bahagia, haru, lega, dan syukur. Saya merasa semua perjuangan, air mata,
rasa takut, dan stres yang saya alami akhirnya terbayar dengan hasil yang
indah.
Dari peristiwa ini, saya belajar
bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi kita harus tetap kuat
menghadapinya. Saya juga belajar bahwa stres bukan akhir dari segalanya,
melainkan bagian dari proses pendewasaan diri. Coping behavior yang baik sangat
membantu saya untuk tetap bertahan dan bangkit. Saya semakin memahami bahwa
keluarga adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidup saya. Pengalaman ini akan
selalu saya ingat sebagai pelajaran berharga bahwa selama kita berusaha,
berdoa, dan tidak menyerah, selalu ada jalan terbaik yang Tuhan siapkan.
0 komentar:
Posting Komentar