13.5.26

Essay 2- Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 2 : WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF DENGAN PEROKOK BERINISIAL “Y”

 

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau sikap yang bertentangan, namun tetap mempertahankan perilaku tertentu. Dalam wawancara ini, saya mewawancarai seorang laki-laki berinisial Y yang merupakan seorang perokok aktif. Y mengetahui bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit berbahaya seperti gangguan paru-paru, jantung, dan penurunan kesehatan tubuh. Namun, ia tetap melakukan kebiasaan tersebut setiap hari. 

Y mengaku mulai merokok sejak masa sekolah atau (SMP) karena pengaruh lingkungan pertemanan. Menurutnya, merokok membuat dirinya merasa lebih tenang ketika menghadapi tekanan pekerjaan dan masalah pribadi. Dalam wawancara, Y mengatakan, “Saya tahu rokok itu bahaya, tapi kalau tidak merokok saya malah merasa tidak tenang dan sulit fokus.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya pertentangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku yang tetap dilakukan.

Selain itu, Y juga berusaha membenarkan perilakunya dengan berbagai alasan. Ia merasa bahwa banyak orang yang merokok tetap dapat hidup sehat dalam waktu lama. Y juga mengatakan bahwa dirinya belum merasakan dampak serius akibat merokok sehingga ia merasa masih aman untuk terus melanjutkan kebiasaan tersebut. Hal ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan yang dimiliki.

Sepenggal kalimat dari hasil wawancara yang menunjukkan alasan Y tetap merokok adalah: “Saya tetap merokok karena rokok bisa membuat saya rileks dan membantu mengurangi stress saat ada pikiran dan saat bekerja”.

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Y mengalami disonansi kognitif karena ia memahami bahaya rokok, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Kondisi ini membuat Y menciptakan berbagai alasan agar dirinya merasa nyaman dengan perilaku tersebut. Disonansi kognitif yang dialami Y menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku seseorang. Faktor kebiasaan, lingkungan, dan kondisi emosional juga memiliki pengaruh besar terhadap keputusan individu.

 

Daftar Pustaka

Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.

 

0 komentar:

Posting Komentar