ESSAY 2 : WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF DENGAN PEROKOK BERINISIAL “Y”
Dosen
Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Nama:
Cholifahtun Pratista Dewi
NIM:
23310410120
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
2026
Disonansi kognitif
merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau sikap yang
bertentangan, namun tetap mempertahankan perilaku tertentu. Dalam wawancara
ini, saya mewawancarai seorang laki-laki berinisial Y yang merupakan seorang
perokok aktif. Y mengetahui bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit
berbahaya seperti gangguan paru-paru, jantung, dan penurunan kesehatan tubuh.
Namun, ia tetap melakukan kebiasaan tersebut setiap hari.
Y mengaku mulai
merokok sejak masa sekolah atau (SMP) karena pengaruh lingkungan pertemanan.
Menurutnya, merokok membuat dirinya merasa lebih tenang ketika menghadapi
tekanan pekerjaan dan masalah pribadi. Dalam wawancara, Y mengatakan, “Saya
tahu rokok itu bahaya, tapi kalau tidak merokok saya malah merasa tidak tenang
dan sulit fokus.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya pertentangan antara
pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku yang tetap dilakukan.
Selain itu, Y juga
berusaha membenarkan perilakunya dengan berbagai alasan. Ia merasa bahwa banyak
orang yang merokok tetap dapat hidup sehat dalam waktu lama. Y juga mengatakan
bahwa dirinya belum merasakan dampak serius akibat merokok sehingga ia merasa
masih aman untuk terus melanjutkan kebiasaan tersebut. Hal ini merupakan bentuk
mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu mencari alasan untuk
membenarkan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan yang
dimiliki.
Sepenggal kalimat dari hasil wawancara yang
menunjukkan alasan Y tetap merokok adalah: “Saya tetap merokok karena rokok bisa membuat saya rileks dan membantu
mengurangi stress saat ada pikiran dan saat bekerja”.
Dari hasil
wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Y mengalami disonansi kognitif
karena ia memahami bahaya rokok, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan merokok.
Kondisi ini membuat Y menciptakan berbagai alasan agar dirinya merasa nyaman
dengan perilaku tersebut. Disonansi kognitif yang dialami Y menunjukkan bahwa
pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku seseorang. Faktor
kebiasaan, lingkungan, dan kondisi emosional juga memiliki pengaruh besar
terhadap keputusan individu.
Daftar Pustaka
Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive
Dissonance. Stanford University Press.
0 komentar:
Posting Komentar