29.5.26

ESSAY 4 - BRIGITA CELZY DEIVIA

 


MY BEST COPING BEHAVIOR

Nama    : Brigita celzy deivia
NIM    :2331040111
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu    : Dr. Arundati Shinta M. A


Dinamika tuntutan zaman di era modern menuntut setiap individu untuk terus melakukan inovasi diri (self-innovation) agar dapat bertahan di tengah ketatnya persaingan akademis maupun profesional. Namun, proses berinovasi dan keluar dari zona nyaman sering kali memicu tekanan psikologis, kecemasan, hingga kejenuhan (burnout). Dalam ranah psikologi inovasi, kemampuan mengelola tekanan ini ditentukan oleh efektivitas coping behavior—yaitu mekanisme kognitif dan perilaku yang digunakan untuk mengatasi stresor. Bagi saya pribadi, my best coping behavior adalah menerapkan achievement-oriented coping yang diwujudkan melalui tindakan nyata: bekerja keras hingga mampu membeli sepeda motor baru dari hasil keringat sendiri. Strategi ini bukan sekadar bentuk konsumerisme, melainkan sebuah manifestasi dari regulasi diri, pembuktian efikasi diri, dan pemenuhan kebutuhan otonomi yang krusial untuk memicu inovasi berpikir

Secara teoretis, pencapaian ini secara langsung meningkatkan self-efficacy (keyakinan atas kemampuan diri) dan fleksibilitas kognitif. Dalam psikologi inovasi, fleksibilitas kognitif adalah kapasitas seseorang untuk mengalihkan strategi berpikir guna menghasilkan perilaku adaptif di lingkungan yang penuh tantangan (Ganu, 2022). Proses membagi waktu antara belajar, bekerja, mengelola keuangan, hingga mencapai target pembelian motor baru memaksa saya untuk melatih kemampuan manajemen diri yang inovatif. Keberhasilan finansial ini menjadi bukti nyata bagi struktur kognitif saya bahwa hambatan lingkungan dapat ditaklukkan melalui perencanaan yang matang. Efikasi diri yang tinggi yang lahir dari pencapaian ini memicu divergent thinking, yaitu keberanian untuk mengambil risiko dan melahirkan ide-ide baru yang orisinal tanpa takut mengalami kegagalan.

Lebih jauh lagi, kepemilikan motor baru dari hasil kerja sendiri memberikan rasa otonomi (kemandirian) dan mobilitas yang tinggi. Dalam konteks kerja kelompok atau organisasi, fleksibilitas mobilitas ini memungkinkan saya untuk lebih adaptif dalam merespons kebutuhan tim. Menurut Kirton’s Adaption-Innovation (A-I) theory, seseorang dituntut memiliki coping behavior yang lentur di dalam tim kepemimpinan (Awuni, 2025).

Sebagai kesimpulan, my best coping behavior dalam psikologi inovasi adalah achievement-oriented coping yang diwujudkan melalui kemandirian finansial berupa pembelian motor baru dari hasil kerja keras. Strategi adaptif ini terbukti efektif mengubah tekanan psikologis menjadi motivasi berprestasi, meningkatkan efikasi diri, serta melatih fleksibilitas kognitif dalam mengelola sumber daya. Melalui pencapaian yang nyata dan terukur ini, saya tidak hanya berhasil mereduksi stres, tetapi juga membangun pondasi karakter yang mandiri, adaptif, dan siap melahirkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi masa depan.

 

Daftar Pustaka :


(Saleem dkk., 2022). Cognitive flexibility strategies enhance work engagement and individual innovation among corporate employees. Indian Institute of Management Ahmedabad

(Abidin dkk., 2025). Psychological distress and coping strategies among Indonesian psychologists during the COVID-19 pandemic: a two-wave cross-lagged study. Health Psychology and Behavioral Medicine, 13(1).

(Nanjundeswaraswamy dkk., 2024). Psychological distress and coping strategies among Indonesian psychologists during the COVID-19 pandemic: a two-wave cross-lagged study. Health Psychology and Behavioral Medicine, 13(1).

0 komentar:

Posting Komentar