WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF
Nama : Brigita Celzy Deivia
NIM : 23310410111
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M. A
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dalam tugas wawancara ini saya mewawancara seorang laki-laki
berusia 21 Tahun berinisial R, seorang mahasiswi yang menjalani hubungan selama
9 tahun mengalami diselingkuhi berkali kali, namun selalu memaafkan dengan
alasan keteulusan, investasi emosi dan keyakinan bahwa pasanganya akan berubah.
"Betul. Kalau aku akuin dia jahat murni, berarti aku
mengakui kalau aku bodoh karena bertahan sama orang jahat. Aku gak mau dianggap
bodoh. Jadi aku ubah narasinya di kepala aku: 'Aku bukan bodoh, aku hanya
seorang penyabar yang sedang berjuang demi cinta'. Itu bikin nyeseknya agak
berkurang."
Berdasarkan hasil
wawancara saya menyimpulkan beberapa poin utama mengenai dinamika disonansi
kognitif dalam sebuah hubungan yang toxic yaitu subjek mengalami benturan
psikologis yang hebat antara aspek kognitif/keyakinan dengan realitas perilau
pasanganya. untuk meredakan tekanan mental dan mempertahankan hubunganya
subjek melaukan modifikasi atau adaptasi pada cara berpikirnya yaitu dengan
cara mencari alasan pembenaran atas kesalahan pasangan yaitu “khilaf” atau
menyalahkan diri sendiri karena kurang memberikan apa yang dimau pasanganya.
Subjek terjebak dalam Sunk Cost Fallacy subjek merasa
investasi emosi,waktu dan air mata yang telah dikorbankan selama 9 tahun akan
menjadi sia-sia jika subjek memutuskan hubungan tersebut
Menurut saya dalam wawancara ini dapat disimpulkan bahwa
hubungan toxic memberikan dampak desktruktif yang massif bagi korban. Senada dengan
temuan (Forth dkk., 2022).
Daftar Pustaka :
Forth, A., Melamud, R., & McIntyre, C. (2022). Toxic relationships: The experiences and effects of psychopathy in romantic relationships. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(21), Article 14030.
0 komentar:
Posting Komentar