15.5.26

Esai 2 - Wawancara Tentang Disonasi Kognitif

 PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 2 - Wawancara Tentang Disonasi Kognitif

Disonansi Kognitif Pada Perokok Aktif

 




Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama : Annisa Septiana Putri

NIM : 23310410108


 


Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta



2026

 

 

  

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau keyakinan yang bertentangan, tetapi tetap mempertahankan perilaku yang dilakukannya. Menurut Harmon-Jones dan Mills (2019), disonansi kognitif merupakan kondisi ketika individu cenderung mencari pembenaran diri untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat pertentangan antara pengetahuan dan perilaku yang dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu contoh yang sering ditemukan adalah perilaku merokok. Banyak perokok mengetahui bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, tetapi tetap melanjutkan kebiasaan tersebut dengan berbagai alasan pembenaran diri. Oleh karena itu, saya melakukan wawancara terhadap seorang perokok aktif untuk memahami bentuk disonansi kognitif yang dialami.

 

Wawancara dilakukan kepada subjek berinisial DR, seorang laki-laki berusia 29 tahun yang mulai merokok sejak usia 16 tahun akibat pengaruh pergaulan masa muda. Dalam sehari, subjek bisa menghabiskan rokok setengah bungkus hingga satu bungkus tergantung situasi yang dihadapi. Subjek mengaku paling sering merokok ketika sedang banyak pikiran karena menurutnya merokok dapat membuat perasaan menjadi lebih lega.

 

Subjek sebenarnya mengetahui dampak buruk merokok bagi kesehatan, terutama kerusakan paru-paru. Informasi tersebut diperoleh dari internet maupun dokter secara langsung. Namun, subjek tidak sepenuhnya percaya bahwa merokok merupakan penyebab utama penyakit serius. Ia mengatakan bahwa penyakit juga bisa berasal dari pikiran, bahkan menurutnya banyak orang lanjut usia yang tetap sehat walaupun merokok. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya mekanisme pembenaran diri untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat pertentangan antara pengetahuan dan perilaku yang dilakukan.

 

Bentuk disonansi kognitif juga terlihat ketika subjek mengaku tetap merasa biasa saja meskipun mengetahui rokok berbahaya. Ia merasa dampak rokok dapat dikurangi dengan olahraga dan minum air putih yang cukup. Selain itu, subjek juga menyatakan bahwa merokok dapat membantu mengurangi beban pikiran yang menumpuk. Pernyataan seperti merokok benar-benar membantu mengurangi beban pikiran” menjadi alasan utama subjek tetap mempertahankan kebiasaan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Harmon-Jones dan Mills (2019) bahwa individu akan berusaha mencari pembenaran agar tetap merasa nyaman dengan perilaku yang dilakukan.

 

Walaupun demikian, subjek masih memiliki rasa khawatir terhadap dampak asap rokok bagi orang lain, terutama anak kecil. Ia mengaku tidak merokok ketika berada di dekat anak-anak karena takut asap rokok bisa menyebabkan penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa subjek memahami adanya bahaya rokok, tetapi belum memiliki keinginan kuat untuk berhenti sepenuhnya. Subjek hanya ingin mengurangi intensitas merokok karena merasa kebiasaan tersebut sudah melekat dalam dirinya dan sulit dihentikan.

 

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami disonansi kognitif. Subjek mengetahui bahaya merokok, tetapi tetap melakukannya dengan berbagai bentuk pembenaran diri, seperti menganggap rokok dapat mengurangi stres dan merasa dampaknya dapat diseimbangkan dengan pola hidup sehat. Kondisi ini menunjukkan bahwa individu sering kali sulit berubah karena lebih memilih mempertahankan kenyamanan perilaku lama dibandingkan menghadapi ketidaknyamanan untuk berubah.

 

Daftar Pustaka

 

Harmon-Jones, E., & Mills, J. (2019). An Introduction to Cognitive Dissonance Theory and an Overview of Current Perspectives on the Theory. DOI: 10.1037/0000135-001

0 komentar:

Posting Komentar