25.4.26

Esai 2 - Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 2 – WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

APRIL, 2026

Wawancara dilakukan pada 21 April 2026 dengan subjek berinisial N (28 tahun), seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja freelance di Magelang. Subjek diketahui memiliki kebiasaan merokok sejak tahun 2017. Meskipun demikian, ia memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahaya merokok, baik bagi dirinya maupun orang lain. Subjek menyatakan bahwa merokok dapat menyebabkan “batuk” dan “penyakit paru-paru”, serta mengakui bahwa kebiasaan tersebut tetap berdampak pada anak meskipun dilakukan jauh dari rumah.

Kondisi ini menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu ketidaksesuaian antara pengetahuan dan perilaku. Subjek menyadari bahwa merokok berbahaya, bahkan mengaku “agak takut, tapi sudah kecanduan”. Ia juga mengakui adanya konflik dalam dirinya serta rasa khawatir sebagai seorang ibu. Namun, ia tetap mempertahankan kebiasaan tersebut dengan alasan kecanduan dan kondisi stres.

Dalam konteks psikologi inovasi, kondisi ini menunjukkan bahwa individu sulit untuk berubah karena mampu menciptakan berbagai bentuk mekanisme pembenaran diri. Salah satunya adalah rasionalisasi, di mana subjek menyatakan bahwa merokok “masih bisa ditoleransi karena banyak yang merokok”. Pernyataan ini menunjukkan upaya untuk menyesuaikan perilaku dengan lingkungan sosial agar tetap merasa nyaman. Selain itu, terdapat bentuk self-justification, yaitu ketika subjek merasa bahwa gaya hidup sehat yang dijalani, seperti olahraga dan mengurangi makanan berlemak, dapat “mengimbangi dampak merokok”. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk mengurangi rasa bersalah tanpa benar-benar menghentikan perilaku merokok.

Di sisi lain, subjek juga menunjukkan kesadaran akan ketidaksesuaian perilaku tersebut. Ia mengaku “merasa aneh, karena berolahraga tapi tetap merokok” serta merasa “ilfeel karena bikin batuk”. Hal ini memperkuat adanya konflik internal yang belum terselesaikan. Namun, meskipun menyadari risiko dan ketidaksesuaian tersebut, subjek belum mampu berubah secara signifikan karena faktor kecanduan dan kebiasaan yang sudah terbentuk.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa disonansi kognitif membuat individu tidak mudah untuk berubah, karena adanya mekanisme pembenaran diri yang terus dipertahankan. Individu menjadi kreatif dalam mencari alasan agar tetap merasa nyaman dengan perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menyasar perubahan perilaku dan pengelolaan kebiasaan secara lebih mendalam.

 

Referensi

Harmon-Jones, E., & Mills, J. (2019). An Introduction to Cognitive Dissonance Theory and an Overview of Current Perspectives on the Theory. DOI: https://doi.org/10.1037/0000135-001

McLeod, S. (2023). Cognitive Dissonance Theory. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/cognitive-dissonance.html

0 komentar:

Posting Komentar