25.4.26

Esai 1 - Meringkas Jurnal Motivasi

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL MOTIVASI

TECHNOPRENEURIAL INTENTION: PERAN SELF-EFFICACY, ENTREPRENEURSHIP EDUCATION, DAN RELATION SUPPORT

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118


FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

APRIL, 2026

Topik

dukungan relasi; efikasi diri; intensi teknopreneurial; pendidikan kewirausahaan

Sumber

Alamsyahrir, D., & Ie, M. (2022). Technopreneurial Intention: Peran self-efficacy, entrepreneurship education, dan relation support. Jurnal Manajemen Maranatha (JMM), 21(2), Mei 2022, 135-144 https://doi.org/10.28932/jmm.v21i2.4532

Permasalahan

Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih rendahnya minat mahasiswa untuk menjadi technopreneur, meskipun peluang di bidang teknologi semakin luas. Banyak mahasiswa yang lebih memilih menjadi pekerja dibandingkan menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini diduga karena:

  1. Kurangnya kepercayaan diri (self-efficacy) dalam memulai usaha
  2. Pendidikan kewirausahaan yang belum optimal dalam membentuk mindset bisnis
  3. Minimnya dukungan dari lingkungan sosial seperti keluarga dan teman
  4. Permasalahan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peluang yang tersedia dengan kesiapan individu dalam memanfaatkannya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menganalisis pengaruh self-efficacy terhadap technopreneurial intention
  2. Menganalisis pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap technopreneurial intention
  3. Menganalisis pengaruh dukungan relasi terhadap technopreneurial intention
  4. Mengetahui seberapa besar kontribusi ketiga variabel tersebut dalam meningkatkan minat mahasiswa menjadi technopreneur

Isi

Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa technopreneurial intention merupakan bentuk kesiapan psikologis individu untuk memulai usaha berbasis teknologi. Niat ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Pertama, self-efficacy menjadi faktor penting karena berkaitan dengan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengelola usaha, menghadapi risiko, dan menyelesaikan masalah. Mahasiswa dengan tingkat self-efficacy tinggi cenderung lebih berani mengambil peluang dan tidak mudah menyerah.

Kedua, pendidikan kewirausahaan berperan dalam membentuk pola pikir, keterampilan, serta pengetahuan yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. Melalui pendidikan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dilatih untuk berpikir kreatif dan inovatif.

Ketiga, dukungan relasi (relation support) seperti keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Dukungan ini dapat berupa motivasi, bantuan moral, maupun akses terhadap jaringan yang dapat membantu pengembangan usaha.

Ketiga faktor tersebut saling melengkapi dalam membentuk niat mahasiswa untuk menjadi technopreneur.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal, karena bertujuan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat antar variabel.

Subjek penelitian adalah 125 mahasiswa aktif program S-1 dari Fakultas Teknologi Informasi dan Fakultas Ekonomi Universitas XYZ yang telah mendapatkan pembelajaran kewirausahaan. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dengan menggunakan skala Likert untuk mengukur variabel penelitian.

Teknik analisis data menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) atau PLS-SEM. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan software SmartPLS versi 3.2.8. Metode ini dipilih karena mampu menganalisis hubungan antar variabel secara simultan dan kompleks.

Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

  1. Self-efficacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap technopreneurial intention. Artinya, semakin tinggi kepercayaan diri mahasiswa, semakin besar keinginannya untuk menjadi technopreneur
  2. Pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif terhadap technopreneurial intention. Mahasiswa yang mendapatkan pendidikan kewirausahaan cenderung lebih siap dan tertarik untuk berwirausaha
  3. Dukungan relasi juga berpengaruh positif. Lingkungan yang suportif dapat meningkatkan motivasi dan keberanian mahasiswa untuk memulai usaha

Secara keseluruhan, ketiga variabel tersebut terbukti memiliki kontribusi dalam meningkatkan niat menjadi technopreneur.

Diskusi

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa niat berwirausaha berbasis teknologi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh faktor pendidikan dan lingkungan sosial.

Self-efficacy menjadi faktor dominan karena berkaitan langsung dengan kesiapan mental individu dalam menghadapi risiko dan tantangan. Tanpa kepercayaan diri, mahasiswa cenderung ragu untuk memulai usaha, meskipun memiliki peluang.

Pendidikan kewirausahaan juga memiliki peran strategis dalam membentuk mindset inovatif. Namun, pendidikan tidak cukup hanya bersifat teoritis, melainkan harus disertai praktik nyata agar mahasiswa lebih siap menghadapi dunia bisnis.

Sementara itu, dukungan relasi berfungsi sebagai penguat eksternal yang dapat meningkatkan motivasi individu. Lingkungan yang positif akan memberikan rasa aman dan dorongan untuk mencoba.

Dengan demikian, peningkatan jumlah technopreneur di kalangan mahasiswa memerlukan sinergi antara faktor internal (kepercayaan diri), faktor pendidikan, dan faktor sosial.

 

0 komentar:

Posting Komentar