PSIKOLOGI INOVASI
ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL MOTIVASI
TECHNOPRENEURIAL INTENTION: PERAN
SELF-EFFICACY, ENTREPRENEURSHIP EDUCATION, DAN RELATION SUPPORT
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A
Nama: Gunarti
NIM: 23310410118
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
APRIL, 2026
|
Topik |
dukungan relasi; efikasi diri; intensi teknopreneurial;
pendidikan kewirausahaan |
|
Sumber |
Alamsyahrir,
D., & Ie, M. (2022). Technopreneurial Intention: Peran self-efficacy,
entrepreneurship education, dan relation support. Jurnal Manajemen
Maranatha (JMM), 21(2), Mei 2022, 135-144 https://doi.org/10.28932/jmm.v21i2.4532 |
|
Permasalahan |
Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih rendahnya minat mahasiswa untuk menjadi technopreneur, meskipun peluang di bidang teknologi semakin luas. Banyak mahasiswa yang lebih memilih menjadi pekerja dibandingkan menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini diduga karena:
|
|
Tujuan
Penelitian |
Penelitian
ini bertujuan untuk:
|
|
Isi |
Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa technopreneurial intention
merupakan bentuk kesiapan psikologis individu untuk memulai usaha berbasis
teknologi. Niat ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Pertama, self-efficacy menjadi faktor penting karena berkaitan dengan
keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengelola usaha, menghadapi
risiko, dan menyelesaikan masalah. Mahasiswa dengan tingkat self-efficacy
tinggi cenderung lebih berani mengambil peluang dan tidak mudah menyerah. Kedua, pendidikan kewirausahaan berperan dalam membentuk pola pikir,
keterampilan, serta pengetahuan yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. Melalui
pendidikan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dilatih
untuk berpikir kreatif dan inovatif. Ketiga, dukungan relasi (relation support) seperti keluarga, teman, dan
lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Dukungan ini dapat berupa
motivasi, bantuan moral, maupun akses terhadap jaringan yang dapat membantu
pengembangan usaha. Ketiga faktor tersebut saling melengkapi dalam membentuk niat mahasiswa
untuk menjadi technopreneur. |
|
Metode |
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif
kausal, karena bertujuan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat antar
variabel. Subjek penelitian adalah 125 mahasiswa aktif program S-1 dari Fakultas
Teknologi Informasi dan Fakultas Ekonomi Universitas XYZ yang telah
mendapatkan pembelajaran kewirausahaan. Teknik pengambilan sampel menggunakan
non-probability sampling dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan
sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dengan
menggunakan skala Likert untuk mengukur variabel penelitian. Teknik analisis data menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan
pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) atau PLS-SEM. Pengolahan data
dilakukan dengan bantuan software SmartPLS versi 3.2.8. Metode ini dipilih
karena mampu menganalisis hubungan antar variabel secara simultan dan
kompleks. |
|
Hasil |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
Secara keseluruhan, ketiga variabel tersebut terbukti memiliki kontribusi
dalam meningkatkan niat menjadi technopreneur. |
|
Diskusi |
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa niat berwirausaha berbasis
teknologi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh
faktor pendidikan dan lingkungan sosial. Self-efficacy menjadi faktor dominan karena berkaitan langsung dengan
kesiapan mental individu dalam menghadapi risiko dan tantangan. Tanpa
kepercayaan diri, mahasiswa cenderung ragu untuk memulai usaha, meskipun
memiliki peluang. Pendidikan kewirausahaan juga memiliki peran strategis dalam membentuk
mindset inovatif. Namun, pendidikan tidak cukup hanya bersifat teoritis,
melainkan harus disertai praktik nyata agar mahasiswa lebih siap menghadapi
dunia bisnis. Sementara itu, dukungan relasi berfungsi sebagai penguat eksternal yang
dapat meningkatkan motivasi individu. Lingkungan yang positif akan memberikan
rasa aman dan dorongan untuk mencoba. Dengan demikian, peningkatan jumlah technopreneur di kalangan mahasiswa
memerlukan sinergi antara faktor internal (kepercayaan diri), faktor
pendidikan, dan faktor sosial. |

0 komentar:
Posting Komentar