Merawat
Rasa dalam Proses Berkarya: Pengalaman Mengikuti Dua Lomba Menulis
Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001) – Psi.
Lingkungan – Essai 9
Mengikuti lomba menulis bukan sekadar
tentang mengejar kemenangan, tetapi menjadi ruang untuk merawat rasa, mengolah
emosi, dan melatih kejujuran dalam berkarya. Pengalaman mengikuti dua lomba
menulis yang berbeda tema dan bentuk karya memberikan pelajaran penting tentang
proses kreativitas yang lahir dari perenungan dan latihan yang tidak singkat.
Lomba pertama yang saya ikuti adalah Lomba
Cipta Puisi & Cerpen yang diselenggarakan oleh PT Bara Pustaka Group dengan
batas waktu pengumpulan karya hingga 3 Desember 2025. Saya memilih menulis
puisi dengan tema “Hujan”. Dalam proses kreatifnya, saya tidak langsung
menulis, tetapi terlebih dahulu mengendapkan ide. Hujan saya maknai sebagai
simbol kenangan dan perasaan yang turun perlahan, membawa ingatan tentang
seseorang yang pernah singgah dalam hidup. Puisi ini bercerita tentang dua
insan yang saling mencintai, namun harus berpisah karena pilihan dan jalan
hidup yang berbeda. Saya berlatih menulis dengan membaca ulang puisi-puisi
bertema kehilangan, kemudian menuliskan kembali pengalaman emosional dalam
bahasa metaforis. Proses revisi dilakukan berulang kali, terutama dalam memilih
diksi agar kesedihan tidak terdengar berlebihan, tetapi tetap lembut dan
ikhlas. Hujan dalam puisi tersebut menjadi pengingat akan kenangan bahagia yang
tidak disesali, sekaligus simbol kerelaan untuk melepaskan.
Lomba kedua adalah Cipta Karya 2025: Gen Z
Menulis yang diadakan oleh Penerbit Generasi Indonesia dan berlangsung hingga 7
Desember. Pada lomba ini, saya memilih menulis dalam bentuk surat dengan tema “Sedih”.
Surat tersebut saya tulis dari sudut pandang seorang putri kecil yang
merindukan ayahnya yang telah lama tiada. Proses kreatifnya terasa lebih
emosional karena saya harus masuk ke dalam perasaan kehilangan yang mendalam.
Saya melatih empati dengan membayangkan bagaimana seorang anak memahami
kehilangan, bukan sebagai akhir, tetapi sebagai kehadiran yang berubah bentuk.
Dalam surat itu, saya berusaha menekankan bahwa meskipun sang ayah telah tiada,
kasih sayang, kenangan, dan nasihatnya tetap hidup dan menjadi sumber kekuatan
bagi sang putri dalam menjalani kehidupan.
Melalui dua lomba ini, saya belajar bahwa
kreativitas tidak selalu lahir dari imajinasi semata, tetapi dari keberanian
untuk jujur pada rasa. Proses latihan, perenungan, dan revisi menjadi bagian
penting yang membentuk kedalaman karya. Menulis bagi saya akhirnya bukan hanya
soal kompetisi, tetapi tentang memahami diri, merawat emosi, dan memberi makna
pada pengalaman hidup.
DAFTAR PUSTAKA:
Dalman. (2016). Keterampilan Menulis. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Emzir. (2015). Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: Rajawali Pers.
Keraf, G. (2010). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sujana, N., & Rivai, A. (2014). Media Pengajaran dan Proses Kreatif. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
0 komentar:
Posting Komentar