31.12.25

Psi Lingkungan - Esai 9 – Partisipasi Lomba - Dr. A. Shinta, M. A - SPSJ - Desember 2025 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Merawat Rasa dalam Proses Berkarya: Pengalaman Mengikuti Dua Lomba Menulis 


Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001) – Psi. Lingkungan – Essai 9

Fakultas Psikoligi, Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta




Mengikuti lomba menulis bukan sekadar tentang mengejar kemenangan, tetapi menjadi ruang untuk merawat rasa, mengolah emosi, dan melatih kejujuran dalam berkarya. Pengalaman mengikuti dua lomba menulis yang berbeda tema dan bentuk karya memberikan pelajaran penting tentang proses kreativitas yang lahir dari perenungan dan latihan yang tidak singkat.


Lomba pertama yang saya ikuti adalah Lomba Cipta Puisi & Cerpen yang diselenggarakan oleh PT Bara Pustaka Group dengan batas waktu pengumpulan karya hingga 3 Desember 2025. Saya memilih menulis puisi dengan tema “Hujan”. Dalam proses kreatifnya, saya tidak langsung menulis, tetapi terlebih dahulu mengendapkan ide. Hujan saya maknai sebagai simbol kenangan dan perasaan yang turun perlahan, membawa ingatan tentang seseorang yang pernah singgah dalam hidup. Puisi ini bercerita tentang dua insan yang saling mencintai, namun harus berpisah karena pilihan dan jalan hidup yang berbeda. Saya berlatih menulis dengan membaca ulang puisi-puisi bertema kehilangan, kemudian menuliskan kembali pengalaman emosional dalam bahasa metaforis. Proses revisi dilakukan berulang kali, terutama dalam memilih diksi agar kesedihan tidak terdengar berlebihan, tetapi tetap lembut dan ikhlas. Hujan dalam puisi tersebut menjadi pengingat akan kenangan bahagia yang tidak disesali, sekaligus simbol kerelaan untuk melepaskan.


Lomba kedua adalah Cipta Karya 2025: Gen Z Menulis yang diadakan oleh Penerbit Generasi Indonesia dan berlangsung hingga 7 Desember. Pada lomba ini, saya memilih menulis dalam bentuk surat dengan tema “Sedih”. Surat tersebut saya tulis dari sudut pandang seorang putri kecil yang merindukan ayahnya yang telah lama tiada. Proses kreatifnya terasa lebih emosional karena saya harus masuk ke dalam perasaan kehilangan yang mendalam. Saya melatih empati dengan membayangkan bagaimana seorang anak memahami kehilangan, bukan sebagai akhir, tetapi sebagai kehadiran yang berubah bentuk. Dalam surat itu, saya berusaha menekankan bahwa meskipun sang ayah telah tiada, kasih sayang, kenangan, dan nasihatnya tetap hidup dan menjadi sumber kekuatan bagi sang putri dalam menjalani kehidupan.


Melalui dua lomba ini, saya belajar bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari imajinasi semata, tetapi dari keberanian untuk jujur pada rasa. Proses latihan, perenungan, dan revisi menjadi bagian penting yang membentuk kedalaman karya. Menulis bagi saya akhirnya bukan hanya soal kompetisi, tetapi tentang memahami diri, merawat emosi, dan memberi makna pada pengalaman hidup.


DAFTAR PUSTAKA:

Dalman. (2016). Keterampilan Menulis. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Emzir. (2015). Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: Rajawali Pers.

Keraf, G. (2010). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sujana, N., & Rivai, A. (2014). Media Pengajaran dan Proses Kreatif. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Tarigan, H. G. (2013). Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

0 komentar:

Posting Komentar