NAMA : MARDIANTO TIRO
NIM : 22310410139
MATA KULIAH : PSIKOLOGI INOVASI
DOSEN PENGAMPU : DR. ARUNDATI
SHINTA, M.A.
MEI 2025
Ketekunan
dan Keteladanan: Dua Kunci Mahasiswa Inovatif Zaman Ini
Dalam
dunia yang penuh tantangan, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk berprestasi
secara akademik, tetapi juga mampu memberi dampak positif bagi lingkungan
sekitar. Dua sikap utama yang dapat menjadi pondasi kuat dalam menjawab
tuntutan ini adalah ketekunan dalam belajar dan keteladanan dalam tindakan
nyata. Keduanya adalah kunci untuk menjadi pribadi inovatif yang mampu
menghadapi perubahan sekaligus menginspirasi orang lain.
1. Bangun
Ketekunan melalui Pola Pikir Berkembang
Ketekunan
akademik bukan hanya soal rajin belajar, tetapi juga tentang kemampuan bertahan
menghadapi tekanan, kegagalan, dan rasa lelah secara konsisten dalam jangka
panjang. Dalam penelitian oleh Mayshita, Anggarani, dan Agustina (2023),
ditemukan bahwa mahasiswa yang memiliki growth mindset—yakni keyakinan
bahwa kemampuan bisa terus berkembang lewat usaha—memiliki tingkat grit
akademik yang tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pola pikir berkembang
menyumbang 51,6% terhadap ketekunan akademik mahasiswa.
Dengan
growth mindset, mahasiswa tidak mudah menyerah saat menghadapi nilai rendah,
tekanan tugas, atau konflik antara jadwal kerja dan kuliah. Mereka melihat
kesulitan sebagai proses belajar. Sari dan Royanto (2019) juga menguatkan
temuan ini dengan menyebut bahwa nilai prestasi dapat memperkuat hubungan
antara kegigihan dan keberhasilan. Artinya, ketika mahasiswa memiliki orientasi
kuat terhadap prestasi, ia akan lebih bersemangat dan tekun mengejar targetnya.
2. Jadilah
Teladan melalui Aksi Nyata
Ketika
seseorang telah membentuk ketekunan dalam dirinya, potensi untuk menjadi suri
tauladan akan muncul secara alami. Role model yang baik tidak hanya berbicara,
tetapi menunjukkan konsistensi melalui tindakan. Dalam jurnal oleh Rifayanti et
al. (2018), dijelaskan bahwa role model dapat membentuk perilaku pro-lingkungan
masyarakat melalui tiga mekanisme: modeling, identifikasi, dan internalisasi.
Teladan yang dilakukan secara konsisten akan menular kepada orang lain.
Contoh
nyata dapat dilihat pada kegiatan mahasiswa UPN Veteran Jatim dalam Program
Kampung Zero Waste di Surabaya (Roidah et al., 2024). Mahasiswa dalam program
ini tidak hanya mengedukasi warga, tetapi juga turut mendaur ulang, membuat
ecoenzym, dan menjalani gaya hidup ramah lingkungan. Keteladanan mereka bukan
sekadar ucapan, tapi hadir dalam tindakan yang berkelanjutan. Hal ini
menunjukkan bahwa mahasiswa bisa menjadi agen perubahan hanya dengan memulai
dari langkah kecil namun konsisten.
Penutup:
Dua Tips, Satu Tujuan
Ketekunan
dan keteladanan adalah dua sikap yang saling memperkuat. Ketika mahasiswa mampu
bertahan dalam tekanan akademik dengan semangat belajar yang tinggi, lalu
menerjemahkan nilai-nilai itu dalam bentuk perilaku nyata, maka ia telah
menjelma menjadi pribadi yang menginspirasi. Keteladanan bukan hasil pencitraan
instan, melainkan buah dari proses panjang yang dibangun lewat kegigihan,
nilai, dan komitmen.
Tiga tips
sederhana namun berdampak:
- Bangun growth mindset agar
tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan,
- Internalisasikan nilai
prestasi untuk memperkuat kegigihan dalam belajar,
- Jadilah role model melalui
tindakan nyata yang konsisten dan inspiratif.
Daftar
Pustaka:
- Mayshita, A. A., Anggarani, F.
K., & Agustina, L. S. S. (2023). Hubungan antara Growth Mindset dan
Grit Akademik pada Mahasiswa Bekerja. Jurnal Ilmiah Psikologi
Candrajiwa, 8(1), 34–43.
- Rifayanti, R., Saputri, A.,
Arake, A. K., & Astuti, W. (2018). Peran Role Model dalam Membentuk
Perilaku Pro-Lingkungan. Psikostudia: Jurnal Psikologi, 7(2), 12–23.
- Roidah, I. S., Desynta, A. P.,
Ardiansyah, R., dkk. (2024). Peran Mahasiswa dalam Mengatasi
Permasalahan Sampah di Kota Surabaya Melalui Pendampingan Program Zero
Waste. Manfaat: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Indonesia, 1(3),
15–25.
- Sari, A. A., & Royanto, L.
R. M. (2019). Nilai Prestasi sebagai Moderator Hubungan Kegigihan
dengan Prestasi Akademik. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 9(2),
91-100.
0 komentar:
Posting Komentar