EMILIA SINTA MAHARANI
PSIKOLOGI SJ
23310410180
MATA KULIAH PSIKOLOGI INOVASI
DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA, M.A
Antara Logika dan Kebiasaan
Studi Kasus Disonansi Kognitif pada Atlet Perokok
Disonansi kognitif adalah ketegangan psikologis yang muncul ketika seseorang memiliki dua pikiran atau sikap yang saling bertentangan. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kondisi ini dapat diamati pada individu yang tahu apa yang seharusnya dilakukan tetapi tidak melakukannya. Untuk mengeksplorasi hal ini, saya melakukan wawancara dengan seorang atlet berinisial RZ (28 tahun), seorang instruktur gym sekaligus perokok aktif.
Wawancara ini dilakukan pada bulan Mei 2025 di sebuah pusat kebugaran di Yogyakarta. RZ telah menjadi pelatih pribadi selama 6 tahun dan dikenal memiliki tubuh yang bugar serta sangat disiplin dalam olahraga. Namun, di sela istirahat latihan, ia tampak merokok bersama rekan-rekannya. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab:
"Saya sadar sih, ngerokok itu jelas-jelas bertolak belakang dengan gaya hidup sehat. Tapi ya gimana, udah kebiasaan dari lama. Nggak gampang langsung berhenti begitu aja."
Pernyataan ini menunjukkan adanya disonansi antara pengetahuan kesehatan dan perilaku nyata. Menurut teori disonansi kognitif dari Leon Festinger (1957), ketegangan seperti ini mendorong individu untuk mereduksinya, biasanya dengan mengubah keyakinan, menambah informasi pembenaran, atau mengubah perilaku. Dalam kasus RZ, ia memilih pembenaran, seperti:
"Saya kompensasi kok. Saya olahraga lebih keras daripada orang lain, jadi efek rokok bisa saya lawan dengan itu."
Pernyataan ini mencerminkan mekanisme pertahanan diri rasionalisasi, yaitu strategi untuk mengurangi ketegangan psikologis dengan membuat alasan yang tampak logis meskipun bertentangan dengan kenyataan objektif. Rasionalisasi ini bisa menahan seseorang untuk melakukan perubahan perilaku, sehingga disonansi tidak terselesaikan, hanya disangkal.
Dari perspektif psikologi inovasi, perilaku seperti ini menjadi hambatan dalam mengadopsi gaya hidup sehat secara konsisten. Individu yang mengalami disonansi kognitif cenderung stagnan dan sulit berkembang, karena menolak informasi baru yang menantang zona nyamannya. Padahal, inovasi pribadi termasuk berhenti merokok membutuhkan kesadaran diri, ketegasan nilai, dan keberanian menghadapi ketidaknyamanan.
Temuan ini memberi pelajaran penting: edukasi kesehatan tidak cukup hanya bersifat informatif, namun juga harus menyentuh sisi emosional dan psikologis dari individu, termasuk bagaimana mereka memaknai perubahan.

0 komentar:
Posting Komentar