Essay 7 – Menjadi Nasabah Bank Sampah
SOLUSI MENGURANGI KEGELISAHAN TERHADAP SAMPAH
Rizka Latifa NIM 23310410058
Essay guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Psikologi
Lingkungan
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta,
M.A.
Awal Kegelisahan
Ketika saya memutuskan untuk merantau ke
Yogyakarta demi melanjutkan pendidikan dan mengejar karier, ada banyak hal yang
harus saya adaptasi. Kota ini menawarkan banyak hal menarik, mulai dari budaya,
kuliner, hingga lingkungan akademiknya. Namun, di balik kehangatan Yogyakarta,
ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya contohnya pengelolaan sampah di
sekitar kos. Lingkungan tempat tinggal saya cenderung tidak teratur, dengan
sampah berserakan dan minimnya kesadaran untuk memilah antara sampah organik
dan anorganik. Sebagai pribadi dengan kecenderungan hoarding, di mana saya sering
kali sulit membuang barang-barang yang menurut orang lain sudah tidak berguna,
situasi ini semakin menambah beban pikiran saya.Kegelisahan tersebut membawa
saya pada pencarian solusi. Saya ingin menemukan cara untuk tidak hanya
mengatasi permasalahan sampah di lingkungan saya, tetapi juga untuk mengubah
kebiasaan buruk saya dalam menimbun barang.
Melepas kegelisahan
Lingkungan kos yang tidak rapi, dipenuhi oleh
tumpukan barang yang hampir tidak terpakai, semakin membuat saya merasa
tertekan. Kamar yang seharusnya menjadi tempat istirahat dan relaksasi berubah
menjadi ruang yang sempit dan penuh sesak. Kegelisahan itu terus menghantui,
terutama ketika saya menyadari bahwa kebiasaan buruk ini tidak hanya
memengaruhi saya secara pribadi tetapi juga memperburuk kondisi lingkungan
sekitar. Sampah yang tidak terkelola dengan baik berpotensi mencemari
lingkungan, sementara kebiasaan menimbun barang hanya menambah beban di ruang
yang sudah terbatas. Saya sadar, jika ini terus berlanjut, tidak hanya
lingkungan fisik yang terganggu, tetapi juga keseimbangan mental saya.
Dalam pencarian solusi, saya mendengar tentang
Bank Sampah Restu Ibu di Dusun Sambilegi Lor, Maguwoharjo. Tempat ini
menawarkan harapan baru bagi saya yang selama ini kesulitan melepaskan
barang-barang yang tidak terpakai. Konsep bank sampah yang memungkinkan saya
menabung sampah menjadi daya tarik tersendiri. Saya pun memutuskan untuk
mencoba bergabung dan merasakan manfaatnya secara langsung.
Memilih Menjadi Nasabah Bank Sampah
Sebelum mengenal Bank Sampah Restu Ibu, saya
sebenarnya sudah memiliki kebiasaan memilah sampah, meskipun hanya sebatas apa
yang saya ketahui secara sederhana. Sampah plastik biasanya saya kumpulkan di
satu wadah, begitu pula dengan kertas dan barang-barang lainnya. Namun,
pemilahan tersebut sering kali tidak sesuai dengan standar yang seharusnya. Pemahaman saya saat itu masih terbatas, dan sering kali usaha saya hanya
berhenti di tahap mengelompokkan sampah, tanpa tahu harus berbuat apa
selanjutnya. Kebiasaan ini pun akhirnya terasa kurang efektif, terutama karena
tidak ada sistem yang mendukungnya. Sampah-sampah yang sudah saya pilah sering
kali hanya berakhir di tempat pembuangan biasa, bercampur kembali dengan sampah
lainnya. Hal ini membuat saya merasa upaya saya sia-sia, meskipun niat saya
baik untuk membantu mengurangi limbah. Kegelisahan ini terus membayangi, hingga
akhirnya saya mendengar tentang Bank Sampah Restu Ibu. Ketika bergabung, saya
belajar bahwa pemilahan sampah memiliki aturan yang lebih terperinci dan
berdampak besar jika dilakukan dengan benar. Di bank sampah ini, saya diajarkan
cara memilah plastik berdasarkan jenisnya yang sudah di kodifikasi oleh pengelola
bank sampah.
Di Bank Sampah Restu Ibu, warga dapat
berpartisipasi dengan dua cara: menjadi nasabah atau bershodaqoh sampah.
Sebagai nasabah, hasil dari sampah yang dikumpulkan akan dibagi 75 persen untuk
nasabah, sementara 25 persen digunakan untuk kas pengelolaan dan bagi hasil
dengan pengurus bank sampah. Ini memberi saya keuntungan langsung dari sampah
yang saya pilah, sekaligus mendukung operasional bank sampah. Sementara itu,
jika memilih untuk bershodaqoh, hasil penjualan sampah dibagi 50 persen untuk
pembangunan masyarakat, 25 persen untuk organisasi pemuda-pemudi, dan 25 persen
untuk anggota pengurus. Kedua pilihan ini memberikan dampak positif bagi
individu dan masyarakat. Sebagai nasabah, saya mendapatkan manfaat pribadi,
sementara dengan bershodaqoh, saya turut berkontribusi pada kemajuan komunitas
dan pembangunan lingkungan. Dengan cara ini, Bank Sampah Restu Ibu tidak hanya
mengelola sampah, tetapi juga menciptakan kesempatan untuk kontribusi sosial
yang lebih besar, memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab bersama dalam
menjaga lingkungan.
Salah satu kekurangan dari Bank Sampah Restu
Ibu adalah ketidakpastian waktu penimbangan sampah setiap bulannya. Penimbangan
ini sering kali tidak konsisten karena harus disesuaikan dengan jadwal rapat
para pengurus bank sampah, yang melibatkan ibu-ibu sukarelawan dari dusun.
Karena ini adalah kegiatan sukarela yang dilakukan dengan penuh kepedulian
terhadap lingkungan, pengaturan waktunya tidak selalu teratur. Selain itu,
proses pencairan uang dari hasil sampah juga membutuhkan waktu, karena sampah
harus diambil terlebih dahulu oleh pengepul. Harga jual sampah pun tergantung
pada pengepul dan mengikuti harga pasaran, sehingga harga yang diterima bisa
bervariasi.
Setelah menjadi nasabah di Bank Sampah Restu Ibu, setiap nasabah diharuskan untuk berkomitmen menyetorkan sampah secara rutin setiap bulannya. Untuk memastikan konsistensi dan kelancaran pengelolaan, penting bagi setiap nasabah untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Pembukuan tabungan sampah pun memerlukan pendataan yang mencatat seberapa sering nasabah hadir dan menyetorkan sampah mereka. Selain itu, menjadi nasabah bank sampah ini sebenarnya diperuntukkan bagi penduduk tetap di Dusun Sambilegi Lor, Kalurahan Maguwoharjo. Hal ini bertujuan agar bank sampah dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat.






0 komentar:
Posting Komentar