26.12.24

Essay 7-Menjadi Nasabah Bank Sampah ( Bank Sampah Sambilegi Lor)

 Essay 7 – Menjadi Nasabah Bank Sampah

 

SOLUSI MENGURANGI KEGELISAHAN TERHADAP SAMPAH

Rizka Latifa  NIM 23310410058

Essay guna memenuhi tugas:

Mata Kuliah    : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu        : Dr. Arundati Shinta, M.A.

 

Awal Kegelisahan

Ketika saya memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta demi melanjutkan pendidikan dan mengejar karier, ada banyak hal yang harus saya adaptasi. Kota ini menawarkan banyak hal menarik, mulai dari budaya, kuliner, hingga lingkungan akademiknya. Namun, di balik kehangatan Yogyakarta, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya contohnya pengelolaan sampah di sekitar kos. Lingkungan tempat tinggal saya cenderung tidak teratur, dengan sampah berserakan dan minimnya kesadaran untuk memilah antara sampah organik dan anorganik. Sebagai pribadi dengan kecenderungan hoarding, di mana saya sering kali sulit membuang barang-barang yang menurut orang lain sudah tidak berguna, situasi ini semakin menambah beban pikiran saya.Kegelisahan tersebut membawa saya pada pencarian solusi. Saya ingin menemukan cara untuk tidak hanya mengatasi permasalahan sampah di lingkungan saya, tetapi juga untuk mengubah kebiasaan buruk saya dalam menimbun barang.



Melepas kegelisahan

Lingkungan kos yang tidak rapi, dipenuhi oleh tumpukan barang yang hampir tidak terpakai, semakin membuat saya merasa tertekan. Kamar yang seharusnya menjadi tempat istirahat dan relaksasi berubah menjadi ruang yang sempit dan penuh sesak. Kegelisahan itu terus menghantui, terutama ketika saya menyadari bahwa kebiasaan buruk ini tidak hanya memengaruhi saya secara pribadi tetapi juga memperburuk kondisi lingkungan sekitar. Sampah yang tidak terkelola dengan baik berpotensi mencemari lingkungan, sementara kebiasaan menimbun barang hanya menambah beban di ruang yang sudah terbatas. Saya sadar, jika ini terus berlanjut, tidak hanya lingkungan fisik yang terganggu, tetapi juga keseimbangan mental saya.

Dalam pencarian solusi, saya mendengar tentang Bank Sampah Restu Ibu di Dusun Sambilegi Lor, Maguwoharjo. Tempat ini menawarkan harapan baru bagi saya yang selama ini kesulitan melepaskan barang-barang yang tidak terpakai. Konsep bank sampah yang memungkinkan saya menabung sampah menjadi daya tarik tersendiri. Saya pun memutuskan untuk mencoba bergabung dan merasakan manfaatnya secara langsung.



Memilih Menjadi Nasabah Bank Sampah

Sebelum mengenal Bank Sampah Restu Ibu, saya sebenarnya sudah memiliki kebiasaan memilah sampah, meskipun hanya sebatas apa yang saya ketahui secara sederhana. Sampah plastik biasanya saya kumpulkan di satu wadah, begitu pula dengan kertas dan barang-barang lainnya. Namun, pemilahan tersebut sering kali tidak sesuai dengan standar yang seharusnya. Pemahaman saya saat itu masih terbatas, dan sering kali usaha saya hanya berhenti di tahap mengelompokkan sampah, tanpa tahu harus berbuat apa selanjutnya. Kebiasaan ini pun akhirnya terasa kurang efektif, terutama karena tidak ada sistem yang mendukungnya. Sampah-sampah yang sudah saya pilah sering kali hanya berakhir di tempat pembuangan biasa, bercampur kembali dengan sampah lainnya. Hal ini membuat saya merasa upaya saya sia-sia, meskipun niat saya baik untuk membantu mengurangi limbah. Kegelisahan ini terus membayangi, hingga akhirnya saya mendengar tentang Bank Sampah Restu Ibu. Ketika bergabung, saya belajar bahwa pemilahan sampah memiliki aturan yang lebih terperinci dan berdampak besar jika dilakukan dengan benar. Di bank sampah ini, saya diajarkan cara memilah plastik berdasarkan jenisnya yang sudah di kodifikasi oleh pengelola bank sampah.




Di Bank Sampah Restu Ibu, warga dapat berpartisipasi dengan dua cara: menjadi nasabah atau bershodaqoh sampah. Sebagai nasabah, hasil dari sampah yang dikumpulkan akan dibagi 75 persen untuk nasabah, sementara 25 persen digunakan untuk kas pengelolaan dan bagi hasil dengan pengurus bank sampah. Ini memberi saya keuntungan langsung dari sampah yang saya pilah, sekaligus mendukung operasional bank sampah. Sementara itu, jika memilih untuk bershodaqoh, hasil penjualan sampah dibagi 50 persen untuk pembangunan masyarakat, 25 persen untuk organisasi pemuda-pemudi, dan 25 persen untuk anggota pengurus. Kedua pilihan ini memberikan dampak positif bagi individu dan masyarakat. Sebagai nasabah, saya mendapatkan manfaat pribadi, sementara dengan bershodaqoh, saya turut berkontribusi pada kemajuan komunitas dan pembangunan lingkungan. Dengan cara ini, Bank Sampah Restu Ibu tidak hanya mengelola sampah, tetapi juga menciptakan kesempatan untuk kontribusi sosial yang lebih besar, memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.


Salah satu kekurangan dari Bank Sampah Restu Ibu adalah ketidakpastian waktu penimbangan sampah setiap bulannya. Penimbangan ini sering kali tidak konsisten karena harus disesuaikan dengan jadwal rapat para pengurus bank sampah, yang melibatkan ibu-ibu sukarelawan dari dusun. Karena ini adalah kegiatan sukarela yang dilakukan dengan penuh kepedulian terhadap lingkungan, pengaturan waktunya tidak selalu teratur. Selain itu, proses pencairan uang dari hasil sampah juga membutuhkan waktu, karena sampah harus diambil terlebih dahulu oleh pengepul. Harga jual sampah pun tergantung pada pengepul dan mengikuti harga pasaran, sehingga harga yang diterima bisa bervariasi. 



Setelah menjadi nasabah di Bank Sampah Restu Ibu, setiap nasabah diharuskan untuk berkomitmen menyetorkan sampah secara rutin setiap bulannya. Untuk memastikan konsistensi dan kelancaran pengelolaan, penting bagi setiap nasabah untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Pembukuan tabungan sampah pun memerlukan pendataan yang mencatat seberapa sering nasabah hadir dan menyetorkan sampah mereka. Selain itu, menjadi nasabah bank sampah ini sebenarnya diperuntukkan bagi penduduk tetap di Dusun Sambilegi Lor, Kalurahan Maguwoharjo. Hal ini bertujuan agar bank sampah dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat.


0 komentar:

Posting Komentar