"TPST RANDU ALAS DAN PAHLAWAN TANPA TANDA JASA"
![]() |
| Arina Millataka, Mahasiswi Psikologi UP45 Yogyakarta |
Berkunjung dan belajar langsung di TPST Randu Alas Yogyakarta membuat mata kami melek dan malu dengan polah tingkah yang masih abai dengan sampah. Jangankan untuk memilah sampah, untuk menaruh sampah pada tempat sampah saja masih enggan. Satu hal yang saya garis bawahi ialah bahwa selama ini yang menjadi masalah utama hingga menjadikan Indonesia menjadi negara penghasil sampah terbesar di dunia ialah perilaku "penghasil sampah" bukan sampahnya. Jika perilaku penghasil sampah sudah betul-betul sadar akan bahayanya penumpukan sampah tentu akan lebih mampu bijak dalam menghasilkan sampah.
Memang tidak mungkin jika tidak menghasilkan sampah satu pun dalam sehari, namun selama mampu mengelolanya dengan baik sampah itu masih berguna dan tidak menjadi "akhir" dari sebuah keberadaan. Contohnya seperti sampah plastik yang sangat amat dekat dengan kita. Jika kita mampu merawatnya, tidak langsung membuangnya atau membiarkannya basah atau sobek, nilai dan harga plastik itu tidak berubah lantas langsung menjadi "sampah", ia masih bisa kita gunakan untuk kita pakai dikemudian hari sebagai "kantong" atau kita ubah menjadi kreasi yang indah, dan atau bisa kita jual ke bank sampah.
TPST Randu Alas juga mencontohkan bagaimana botol air mineral dimanfaatkan menjadi pot tanaman. Selain berguna, ia juga tetap estetik untuk ditempatkan di pekarangan rumah kita.
Dalam kesempatan itu, kami tidak hanya diberi kesempatan untuk memilah sampah sesuai kategorinya, basah atau kering, organik atau anorganik. Juga tidak hanya bagaimana mengelola barang bekas menjadi sesuatu yang berguna dan indah. Lebih dari itu, kami belajar tentang perjuangan Pak Tujono selaku wakil ketua TPST Randu Alas beserta tim untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan bersedia menampung, memilah dan mengelola sampah warga setempat. Mulai dari sukarela dan belum ada yang membayar sekalipun menjadi kepala keluarga. Kemudian bagaimana meperjuangkan legalitas, alat dan kebutuhan TPST yang juga tidak mudah dan harus bersinggungan dengan pemerintahan yang belum tentu mampu diajak bekerjasama. "Padahal, yang saya lakukan ini juga untuk kebaikan dan kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan saya sendiri." keluh Pak Tujono.
Menurutnya, selama ini kita keliru dalam menanamkan nilai akan sampah. Slogan "Buanglah sampah pada tempatnya" ternyata keliru, membuat kita terbiasa melihat sampah sebagai sesuatu yang tidak lagi berguna, merugikan dan hanya pantas untuk dibuang saja. Ditambah dengan kemalasan kita untuk memilah sampah membuat sampah itu dengan mudahnya menumpuk bahkan hingga menggunung, sebab yang tertanam dalam kepala kita "yang penting terbuang" lalu sudah. Padahal kenyataannya di TPST tidak sesederhana itu.
Sampah-sampah itu masih dipilah ulang, baru kemudian diolah sesuai dengan sifat dan karakternya. Sampah organik diolah menjadi pupuk atau eco enzim untuk kemudian dibagikan kepada warga. Sampah anorganik dibuat kreasi yang juga dikembalikan untuk warga jika membutuhkan. Baru sampah yang tidak lagi mampu diolah akan dibakar. Betapa tim TPST ini menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Apa yang dikerjakannya sangat besar dan beresiko sebagaimana bersinggungan dengan sesuatu yang cenderung bau dan kotor setiap hari juga akan membuat tubuh rentan akan sakit.
Pak Tujono menyampaikan, bahwa urusan sampah ini membutuhkan kerja sama dari semua pihak. Tidak hanya antara perngahasil sampah dan tim TPST, namun juga pemerintahan dan dinas-dinas terkait. Sampah itu akan ada terus setiap hari, maka jika tidak disikapi setiap hari ia akan semakin menumpuk dan membahayakan. Selain menjadi sumber penyakit, dan pencemaran lingkungan, penumpukan sampah juga akan mengahasilkan gas metana yang kemudian akan menimbulkan ledakan yang berbahasa seperti yang sudah-sudah. Maka dari itu, mulai hari ini mari lebih bijak akan sampah kita sendiri. Bukan lagi perihal buanglah sampah pada tempatnya, namun juga tempatkan dan kelola sampah sebagaimana mestinya.





0 komentar:
Posting Komentar