DARI SAMPAH MENJADI KOMPOS
![]() |
| Arina Millataka, Mahasiswi Psikologi UP45 Yogyakarta |
Meski kebanyakan orang menyebutnya "sampah", namun bukan berarti ia tidak lagi berguna dan hanya akan memberi dampak negatif saja. Dengan ilmu dan kemauan mengelola, sampah mampu menjadi hal-hal yang berguna dan bahkan memberi dampak positif jangka panjang untuk kehidupan.
Ibu Sinta Arundati, dosen Psikologi Lingkungan UP45 mengajak mahasiswanya termasuk saya untuk melakukan eksperimen pengelolaan serta pengolahan sampah di kediamannya. Dimulai dengan menciptakan sampah, baru kemudian kami diajarkan untuk bertanggung jawab dengan sampah yang kami ciptakan sendiri tadi. Sampah-sampah itu, dikelompokkan sesuai kategorinya. Setelah dikelompokkan, sampah-sampah itu kemudian diolah untuk dijadikan sabun, pupuk, kerajinan dan lain sebagainya.
Kami dibagi menjadi beberapa kelompok, dan saya berada di kelompok membuat pupuk organik atau kompos.
Bermodalkan sisa makanan juga sampah organik yang kami cincang halus dan campur menjadi satu dengan sampah daun kering, tetes tebu, EM4, dedak, serbuk gergaji kayu, pupuk organik cair, yang kami aduk di baskom besar hingga merata dengan takaran komposisi bakal kompos tidak terlalu lembab dan juga tidak terlalu kering.
Setelah selesai dicampur, bakal kompos kemudian dipindahkan di gentong tanah liat dengan memberi bantalan di lapisan paling bawah gentong guna untuk menyerap kadar air yang masih ada di bakal kompos. Setelah dimasukkan ke dalam gentong tersebut, kemudian ditutup untuk kemudian didiamkan selama dua minggu dan disimpan di tempat yang teduh atau tidak terkena sinar matahari langsung.
Dari kegiatan ini, kami menjadi semakin sadar akan pentingnya bertanggungjawab dengan sampah sendiri dengan lebih bijak dan tepat. Tidak lagi mudah membuang makanan atau bahkan membuang sisa makanan yang kemudian menciptakan bau tidak sedap di lingkungan sekitar.



0 komentar:
Posting Komentar