28.12.24

Essay 10 - Persepsi Pentingnya Mengelola Sampah ( Jawaban UAS )

 

Jawaban UAS Psikologi Lingkungan

Mata Kuliah

Psikologi Lingkungan 

Dosen Pengampu

Dr. Dra. Arundati Shinta, MA

Persepsi Pentingnya Mengelola Sampah

Oleh 

Adytya Septriyanto Nugroho

23310410044 / SP

Masalah sampah saat ini memang tidak ada habisnya bagi seluruh masyarakat Indonesia. Penumpukan sampah sendiri merupakan hasil dari banyaknya sampah yang tidak terkelola dengan baik, sehingga menyebabkan sampah-sampah tersebut menjadi menumpuk sangat banyak sampai menyebabkan pencemaran lingkungan. Berbagai upaya mungkin sudah dilakukan oleh sebagian masyarakat untuk menanggulangi banyaknya sampah yang menumpuk disekitar mereka tetapi ada sebagian juga masyarakat yang masih enggan melakukan pengelolaan sampah disekitar mereka dengan baik karena tingkat kepedulian orang-orang yang berbeda-beda terhadap masalah sampah.

Hal seperti ini tentu menyebabkan berbagai jenis masalah pencemaran sampah semakin merajalela. Khusunya untuk jenis sampah anorganik, jenis sampah ini adalah sampah yang membutuhkan waktu lama untuk terurai, contohnya sampah plastik yang membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun supaya terurai dengan baik. Permasalahan pencemaran sampah anorganik bisa menjadi sangat buruk karena jika jenis sampah ini dibiarkan tanpa dikelola dengan baik akan menjadi sebuah bencana besar bagi kondisi lingkungan tersebut. sebuah upaya kesadaran masing-masing orang sangat dibutuhkan supaya masalah pencemaran sampah dan penumpukan sampah ini bisa teratasi dengan baik.

Sampah berserakan di kawasan Malioboro selama libur Lebaran 2023 (zukhronnee muhammad)

Di kota Yogyakarta sendiri misalnya, pencemaran sampah masih belum bisa teratasi dengan baik karena kurangnya kepedulian masyarakat terhadap masalah sampah. Hal ini cenderung disebabkan karena kota Yogyakarta yang sering menjadi destinasi wisata oleh warga kota lain bahkan turis. Walaupun sudah banyak larangan membuang sampah sembarangan dan juga penempatan tong-tong sampah di pinggir jalan Kota Yogyakarta, hal tersebut nyatanya masih kurang memadai dalam mengubah persepsi masyarakat terhadap sampah. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih ditemukanya sampah di pinggir jalan, misalnya kertas tisu bekas, bungkus permen, bahkan sampai kardus bekas makanan yang tercecer di pinggir jalan

Sebagai upaya dalam mengatasi pencemaran dan penumpukan sampah, kita sebagai warga negara Indonesia seharusnya wajib mulai belajar dari hal kecil untuk mengelola sampah dengan baik , misalnya dengan membuang sampah ditempatnya, mengadakan berbagai kegiatan untuk meminimalkan penumpukan sampah ( plogging, gotong royong membersihkan sampah seminggu sekali, menjadi nasabah bank sampah supaya sampah kita bisa didaur ulang dan bermanfaat ). Semua upaya itu tidaklah berarti jika persepsi kita sendiri terhadap sampah masih sebatas angan-angan saja. Jika kita ingin mempunyai lingkungan bebas sampah, upaya kecil kita saat ini dalam menangani sampah sangatlah berati untuk masa depan bebas sampah dan terbebas dari pencemaran lingkungan


0 komentar:

Posting Komentar