ESSAI 6 - BELAJAR PENGELOLAAN SAMPAH DI TPST RANDU ALAS
BAYU PRASETYA RESTU AJI
23310410087
MATA KULIAH PSIKOLOGI LINGKUNGAN
DOSEN PENGAMPU : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Ilmu yang tak pernah saya lupakan saat pertama kali saya mengunjungi sebuah TPST besar di Sleman. TPST tersebut bernama TPST Randu Alas. Kami mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Proklamasi 45, pada tanggal 12 Oktober 2024, sekitar pukul 12.00 bersama - sama berkunjung untuk kegiatan di luar kelas ke TPST Randu Alas. TPST Randu Alas ini beralamat di Candi Karang, Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sesampainya di sana, Dosen pengampu mata kuliah Psikologi Lingkungan, Ibu Arundati Shinta sudah hadir di sana. Sesampainya kami di sana, telah hadir pula bapak Mujiyono yang merupakan wakil ketua dari TPST Randu Alas. Bapak Mujiono memberikan beberapa penjelasan terkait dengan adanya TPST tersebut, TPST Randu Alas ini dibangun dikarenakan adanya keresahan dan keprihatinan beberapa warga yang masih terbiasa untuk membuang sampah sembarangan di lingkungan tersebut yang berakibat adanya penumpukan sampah dan bisa mencemari lingkungan.
Sebelum itu, saya akan memberikan penjelasan singkat mengenai TPST. TPST ( Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) merupakan tempat yang berfungsi untuk mengolah sampah (segala macam sampah ) secara menyeluruh dan merupakan sebuah komponen utama dalam sistem pengelolaan sampah bersama dengan TPS ( Tempat Pembuangan Sementara ) dan juga TPA ( Tempat PEmbuangan Akhir ). TPST memiliki fungsi - fungsi yaitu antara lain mengumpulkan sampah, memilah sampah, mendaur ulang sampah, mengolah sampah, dan memproses sampah hingga akhir.
Dalam kunjungan ke TPST Randu Alas saat itu, banyak hal baru yang baru saya ketahui mengenai proses pengolahan sampah yang sebenarnya. Dimulai dari awal pertama sampah - sampah datang ke TPST untuk diolah. sampah - sampah tersebut harus dipilah terlebih dahulu antara sampah organik dan anorganik. Tentu saja sampah organik dilakukan pengolahan terlebih dahulu dikarenakan sampah organik akan lebih cepat membusuk dan menimbulkan bau menyengat jika tidak langsung diproses. Hasil pengolahan sampah organik ini bisa dijadikan berbagai macam hal yang berguna seperti pupuk kompos, pupuk organik cair (POC) dan diolah menjadi pakan ternak untuk warga sekitar.
Pengolahan selanjutnya adalah pengolahan sampah anorganik seperti plantik, botol, kaca, kardus dan lain sebagainya yang tidak bisa terurai. Sampah anorganis ini pun juga masih dikelompokkan sesuai dengan materialnya. Sampah - sampah yang bisa diproses kembali akan dikirim pada pengepul untuk diolah sesuai dengan bahan atau material yang dibutuhkan, sedangkan sampah anorganik lain yang tidak dapat diolah lagi akan dilakukan proses pembakaran hingga hancur.
Berkunjung ke TPST Randu Alas ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya menjadi tahu bagaimana pengelolaan sampah yang sebenarnya. Kita sebelumnya hanya tahu membuang sampah saja dan kemudian kita pasrahkan kepada petugas pengambil sampah tanpa tahu proses setelahnya. Setelah mengetahui bagaimana cara kerja sebuah TPST dalam mengelola sampah, terbersit pada diri sendiri untuk lebih perhatian dan peka pada diri sendir dan lingkungan. Jika memang belum bisa untuk mengedukasi banyak orang, setidaknya kita bisa mengedukasi diri sendiri dan lingkungan keluarga agar bisa mencintai lingkungan dan membantu mengelola sampah sendiri sebelum diserahkan pada petugas kebersihan. Kita bisa mulai dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Hal ini sudah mulai saya lakukan sekitar satu bulan yang lalu dan juga mengedukasi keluarga di rumah. Hal kecil yang bisa kita lakukan itu adalah merupakan hal besar bagi mereka yang telah berusaha menjaga lingkungan dan mengolah sampah dengan baik.
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar