Tugas Esai 6 : Belajar Kelola Sampah di TPST Randu Alas
Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, MA
Naeri Khasna (23310410046)
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
TPST Randu Alas menjadi salah satu contoh nyata bagaimana petugas sampah berupaya mengelola sampah untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. TPSP Randu Alas ini dipimpin oleh Pak Joko dan dibantu oleh tiga tetangganya yaitu Pak Tujono, Pak Heru, dan Pak Waris. Dengan biaya pengambilan sampah sebesar Rp50.000 per bulan, warga dapat menikmati layanan pengangkutan dan pengelolaan sampah. Harga ini relatif terjangkau, meskipun ada rencana kenaikan. Namun, rencana ini ditolak sebagian warga karena dianggap memberatkan, sehingga kebijakan tersebut tidak dilanjutkan. Dalam operasional sehari-hari, petugas TPST Randu Alas menjalankan tugas berat memilah sampah yang diterima. Sampah organik diolah menjadi kompos kering dan cair, sebuah langkah positif untuk mengurangi limbah dan menghasilkan produk yang bermanfaat. Proses ini sejalan dengan slogan TPST Randu Alas, yaitu 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yang diterapkan dalam setiap langkah pengelolaan sampah. Petugas berusaha meminimalkan sampah yang dihasilkan, memanfaatkan kembali bahan yang masih berguna, dan mendaur ulang sebanyak mungkin. Namun, tantangan besar muncul karena volume sampah yang terlalu membeludak. Dalam situasi tertentu, petugas bahkan terpaksa membakar sampah yang sulit dipilah. Praktik ini tidak ideal karena dapat mencemari udara, tetapi dilakukan sebagai solusi sementara untuk mengatasi akumulasi sampah.
Selain memproduksi kompos, TPST Randu Alas sebelumnya juga mengembangkan budidaya magot. Magot, dikenal sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengurai sampah organik. Sayangnya, budidaya magot ini terpaksa dihentikan. Hal ini terjadi karena sumber sampah organik tambahan, seperti buah busuk dari pedagang, tidak didukung oleh kerjasama yang memadai. Pedagang buah yang diandalkan tidak bersedia memberikan kontribusi untuk biaya operasional, sehingga budidaya magot menjadi tidak berkelanjutan.
Meskipun menghadapi berbagai kendala, TPST Randu Alas tetap memberikan pelajaran penting mengenai manajemen sampah. Pertama, pentingnya dukungan masyarakat untuk keberlangsungan program. Ketika biaya operasional dianggap terlalu tinggi, resistensi warga menjadi hambatan yang mempersulit upaya perbaikan layanan. Kedua, kolaborasi dengan pihak ketiga, seperti pedagang buah, memerlukan pendekatan yang saling menguntungkan agar program dapat berjalan tanpa hambatan finansial. Untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah, TPST Randu Alas dapat mengeksplorasi beberapa langkah perbaikan. Pertama, edukasi masyarakat mengenai manfaat layanan pengelolaan sampah yang lebih baik perlu ditingkatkan. Warga dapat diajak untuk melihat dampak positif dari kenaikan harga, seperti pengurangan pembakaran sampah dan peningkatan kualitas layanan. Kedua, inovasi pengolahan sampah organik dapat dilakukan dengan mencari mitra baru untuk mendukung budidaya magot atau solusi lain yang lebih berkelanjutan. Dalam jangka panjang, pengelolaan sampah di TPST Randu Alas menunjukkan bahwa keberlanjutan program lingkungan memerlukan keseimbangan antara inovasi, partisipasi masyarakat, dan dukungan finansial. Dengan komitmen bersama, tantangan yang ada dapat diatasi, menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat untuk generasi mendatang.
(N.B : Klik buka gambar untuk mendapatkan hasil jernih)




0 komentar:
Posting Komentar