Jawaban Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, MA
Liyana Nofiasari (23310410049)
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Transformasi Kepedulian terhadap Lingkungan: Mengurangi Sampah Plastik dengan Tumbler dan Lunch Box
Sampah plastik mengancam keberlanjutan lingkungan dengan mencemari daratan dan lautan. Banyak individu belum menyadari dampaknya dan terus menggunakan plastik sekali pakai. Paul A. Bell dan rekan-rekannya mengembangkan skema persepsi yang menjelaskan perubahan sikap individu menjadi lebih peduli terhadap lingkungan (Bell et al., 2005). Skema ini menunjukkan bahwa perilaku ramah lingkungan, seperti mengganti plastik sekali pakai dengan tumbler dan kotak makan ulang, dapat tercapai melalui perubahan sikap.
Polusi plastik menjadi tantangan besar, dengan sekitar 8 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahun, mencemari biota laut dan merusak ekosistem (Jambeck et al., 2015). Plastik yang dibuang sembarangan sulit terurai, menciptakan tumpukan polusi yang bertahan lama. Produk plastik sekali pakai, seperti botol dan kemasan makanan, merupakan kontributor utama masalah ini. Rendahnya kesadaran masyarakat memperburuk tantangan dalam mengendalikan polusi plastik.
Menurut skema Bell et al., (2006) langkah awal menuju kesadaran lingkungan adalah pemahaman kognitif, yaitu menyadari masalah yang ada. Agar masyarakat dapat menunjukkan perilaku peduli lingkungan, masyarakat perlu memahami dampak negatif dari sampah plastik. Dengan informasi dan bukti nyata tentang polusi plastik, masyarakat akan lebih menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan plastik sekali pakai (PlasticsEurope, 2022). Kesadaran ini menjadi landasan yang memotivasi individu untuk mempertimbangkan pilihan yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan produk yang dapat dipakai berulang kali, seperti tumbler dan tempat makan.
Tahap kedua dalam model Bell et al. adalah reaksi afektif, yakni timbulnya respons emosional terhadap isu lingkungan. Ketika seseorang menyaksikan secara langsung dampak polusi plastik misalnya seperti sungai yang kotor atau hewan laut yang terancam akibat sampah plastik, muncul rasa peduli dan simpati. Emosi ini mendorong munculnya niat untuk mengurangi peran mereka dalam pencemaran lingkungan. Watering et al. (2022) menemukan bahwa perasaan negatif terhadap polusi dapat memotivasi individu untuk mempertimbangkan tindakan yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan tumbler dan kotak makan yang dapat dipakai ulang, menggantikan produk sekali pakai.
Setelah terbentuknya kesadaran dan respons emosional, tahap berikutnya adalah munculnya niat atau dorongan untuk bertindak. Menurut Bell et al., (2006) motivasi ini merupakan langkah penting menuju perubahan perilaku yang nyata. Penggunaan tumbler dan kotak makan sebagai alternatif produk sekali pakai merupakan salah satu solusi yang efektif dalam mengurangi sampah plastik. Allison et al., (2022) menunjukkan bahwa menggantikan produk sekali pakai dengan produk yang dapat digunakan kembali secara signifikan dapat menekan jumlah limbah plastik. Dengan memilih tumbler untuk minuman dan kotak makan untuk makanan, setiap individu dapat berperan dalam upaya mengurangi sampah plastik.
Tahap keempat dalam model ini adalah penerapan tindakan nyata, yaitu adopsi perilaku ramah lingkungan, seperti rutin menggunakan tumbler dan kotak makan. Mengganti plastik sekali pakai dapat mengurangi sampah plastik dan memberikan keuntungan finansial, karena pengguna tidak perlu lagi membeli botol atau wadah plastik sekali pakai. Allison et al. (2022) menegaskan bahwa perilaku ini berdampak besar dalam mengurangi sampah plastik dan biaya.
Langkah terakhir dalam model Bell et al. adalah pemeliharaan perilaku, di mana individu terus mempertahankan kebiasaan yang mendukung keberlanjutan lingkungan. Kebiasaan menggunakan tumbler dan kotak makan akan semakin menguat jika didukung oleh lingkungan sosial yang mendukung. Pendidikan yang berkelanjutan dan sosialisasi mengenai lingkungan hidup yang konsisten memiliki peranan penting dalam menjaga kebiasaan ini. Menurut Barr et al. (2018), dukungan sosial dan pendidikan yang berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi individu untuk terus menjalankan kebiasaan peduli lingkungan. Dengan adanya dukungan sosial, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi norma dalam masyarakat.
Perubahan sikap acuh tak acuh menjadi peduli lingkungan dapat dijelaskan melalui model persepsi Paul A. Bell, yang mencakup tahapan kognitif, afektif, intensi, tindakan, dan pemeliharaan. Masalah sampah plastik memerlukan adanya solusi yang efisien, seperti penggunaan tumbler dan kotak makan ulang. Dengan mengikuti model ini, kita dapat menunjukkan kepedulian melalui tindakan yang nyata dan berkontribusi dalam menjaga lingkungan untuk masa depan yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Allison, A. L., Baird, H. M., Lorencatto, F., Webb, T. L., & Michie, S. (2022). Reducing plastic waste: A meta-analysis of influences on behaviour and interventions. Journal of Cleaner Production, 380(Part 1), 134860. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2022.134860
Barr, S., Shaw, G., & Coles, T. (2011). Sustainable lifestyles: Sites, practices, and policy. Environment and Planning A, 43(12), 3011-3029. https://doi.org/10.1068/a43529
Bell, P. A., Greene, T. C., Fisher, J. D., & Baum, A. S. (2006). Environmental psychology (5th ed.). Psychology Press. https://doi.org/10.4324/9780805860887
Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A., Narayan, R., & Law, K. L. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science, 347(6223), 768-771. https://doi.org/10.1126/science.1260352
PlasticsEurope. (2022). Plastics – the facts 2022. PlasticsEurope.
Wetering, J., Leijten, P., Spitzer, J., & Thomaes, S. (2022). Does environmental education benefit environmental outcomes in children and adolescents? A meta-analysis. Journal of Environmental Psychology, 81, 101782. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2022.101782

0 komentar:
Posting Komentar