KETEKUNAN DAN
KETELADANAN: DUA KUNCI MENJADI PRIBADI YANG TANGGUH DAN DIPERCAYA
Galuh Sekar Anindita
NIM 24310410027
Kelas Karyawan
Mata Kuliah Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
ESAI 3 : MENJADI SURI
TAULADAN
Banyak orang beranggapan
bahwa keberhasilan seseorang hanya ditentukan oleh bakat yang dimilikinya.
Padahal, dalam psikologi terdapat faktor lain yang juga berperan penting, yaitu
ketekunan dan kemampuan menjadi teladan bagi orang lain. Meskipun keduanya
terlihat berbeda, ketekunan lebih berkaitan dengan usaha pribadi, sedangkan
keteladanan berhubungan dengan pengaruh terhadap lingkungan sekitar, keduanya sebenarnya
memiliki hubungan yang erat. Ketekunan membantu seseorang memberikan contoh
nyata melalui tindakan, sementara keteladanan dapat mendorong orang lain untuk
ikut berusaha dan tidak mudah menyerah.
Duckworth, Peterson,
Matthews, dan Kelly (2007) menjelaskan bahwa grit merupakan perpaduan
antara kegigihan dan semangat dalam mencapai tujuan jangka panjang. Hasil
penelitian mereka menunjukkan bahwa grit tidak memiliki hubungan positif dengan
IQ, tetapi dapat memprediksi pencapaian seseorang, seperti tingkat pendidikan
dan keberhasilan akademik, bahkan ketika IQ dan sifat konsientius telah
diperhitungkan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung
pada kecerdasan atau bakat, tetapi juga pada kemampuan untuk terus
mengembangkan potensi secara konsisten. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan
untuk melatih ketekunan. Pertama, menentukan tujuan jangka panjang yang penting
bagi diri sendiri dan membaginya menjadi target-target kecil setiap minggu.
Kedua, menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki diri,
bukan sebagai alasan untuk merasa tidak mampu. Ketiga, membiasakan diri untuk
tetap berlatih dan berusaha meskipun motivasi sedang menurun atau tidak
mendapatkan apresiasi dari orang lain. Dengan demikian, seseorang yang merasa
tidak memiliki bakat istimewa tetap mempunyai kesempatan untuk berhasil selama
bersedia belajar dan berusaha secara berkelanjutan.
Selain ketekunan, keteladanan
juga menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku seseorang. Hal ini
didukung oleh penelitian Bandura, Ross, dan Ross (1961), yang menunjukkan bahwa
anak-anak dapat meniru perilaku orang dewasa yang mereka amati, bahkan setelah
orang tersebut tidak lagi berada di hadapan mereka. Walaupun penelitian
tersebut berfokus pada perilaku agresif, temuannya memperlihatkan bahwa
pengamatan terhadap orang lain dapat memengaruhi perilaku seseorang. Oleh
karena itu, orang tua, guru, kakak tingkat, pemimpin organisasi, maupun rekan
kerja dapat menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarnya. Untuk menjadi teladan
yang baik, seseorang perlu memastikan bahwa perkataan sesuai dengan tindakan
yang dilakukan. Selain itu, penting untuk menunjukkan proses dalam mencapai
keberhasilan, termasuk kesalahan yang pernah dilakukan dan usaha untuk
memperbaikinya. Hal sederhana lainnya adalah menepati janji, datang tepat
waktu, dan bersikap jujur. Kebiasaan tersebut dapat membangun kepercayaan
sekaligus memberikan contoh positif bagi orang lain. Misalnya, mahasiswa yang
selalu mengerjakan dan mengumpulkan tugas tepat waktu dapat menunjukkan kepada
teman-temannya bahwa kedisiplinan dapat dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari.
Keterkaitan antara ketekunan
dan keteladanan juga dapat dipahami melalui teori efikasi diri yang dikemukakan
oleh Bandura (1977). Teori ini menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap
kemampuannya dipengaruhi oleh empat sumber, yaitu pengalaman keberhasilan
pribadi, pengalaman vikarius atau pengamatan terhadap keberhasilan orang lain,
persuasi verbal, serta kondisi fisiologis dan emosional. Pengalaman vikarius
terjadi ketika seseorang melihat orang lain berhasil, kemudian memperoleh
keyakinan bahwa dirinya juga mampu mencapai hal serupa. Dalam hal ini,
ketekunan dan keteladanan saling mendukung. Seseorang yang terus berusaha dan
bersedia menunjukkan proses perjuangannya dapat memberikan inspirasi kepada
orang lain. Di sisi lain, kesadaran bahwa perilakunya dapat diamati juga dapat
mendorong seseorang untuk mempertahankan sikap konsisten, terutama ketika
menghadapi kesulitan atau keinginan untuk menyerah.
Berdasarkan penjelasan
tersebut, ketekunan dan keteladanan merupakan dua hal yang saling melengkapi.
Ketekunan membantu seseorang membangun karakter yang kuat dan pantang menyerah,
sedangkan keteladanan membuat sikap tersebut memberikan dampak positif bagi orang
lain. Untuk menerapkannya, seseorang tidak harus menunggu sampai menjadi
pribadi yang sempurna atau mencapai kesuksesan besar. Langkah sederhana yang
dilakukan secara konsisten sudah dapat menjadi awal yang baik. Setiap tindakan
yang kita lakukan berpotensi memberikan pengaruh kepada orang lain, sehingga
penting untuk menyadari bahwa perilaku sehari-hari dapat menjadi contoh bagi
lingkungan sekitar. Pada akhirnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari
kemampuan seseorang mencapai tujuannya sendiri, tetapi juga dari kemampuannya
menunjukkan nilai-nilai positif melalui tindakan nyata yang dapat menginspirasi
orang lain.
Link :
-
https://youtu.be/-gCD0MZ_7XU?si=4s9ctmukOZX9um6X
-
https://youtu.be/CcWg-S_Ly6o?si=-GaJ_87-U_mWrrIN
DAFTAR
PUSTAKA
Bandura, A. (1977). Self-efficacy:
Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2).
Bandura, A., Ross,
D., & Ross, S. A. (1961). Transmission of aggression through imitation of aggressive
models. Journal of Abnormal and Social Psychology, 63(3).
Duckworth, A. L., Peterson, C.,
Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: Perseverance and passion for
long-term goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92(6).