13.10.26

ESAI 3 Dua Kunci Sukses Masa Depan: Pentingnya Konsistensi dan Sifat Mau Belajar


Baiq muthia syafitri 

24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A


Dua Kunci Sukses Masa Depan: Pentingnya Konsistensi dan Sifat Mau Belajar

Setiap orang tentu memiliki impian dan cita-cita yang ingin diwujudkan, baik dalam bidang akademis, karir, hobi, maupun pengembangan diri. Namun, jalan menuju keberhasilan sering kali terasa rumit dan membingungkan. Banyak orang terjebak dalam pencarian strategi rahasia atau Rumus instan untuk sukses. Padahal, pondasi utama dari pencapaian yang bertahan lama sebenarnya sangat sederhana, yaitu kombinasi antara konsistensi dan sifat mau belajar. Kedua fondasi ini bekerja saling melengkapi dalam membentuk karakter unggul seseorang.

Kunci sukses pertama yang sangat krusial adalah konsistensi. Konsistensi merupakan kemampuan untuk terus berkomitmen melakukan suatu tindakan secara teratur, sedikit demi sedikit, tanpa terpengaruh oleh rasa bosan atau lelah. Banyak orang mampu memulai sesuatu dengan antusiasme yang membara, tetapi sedikit yang bertahan ketika rasa jenuh mulai menghampiri. Rahasia di balik pencapaian orang-orang hebat sejatinya bukan terletak pada bakat alami sejak lahir, melainkan pada ketekunan mereka untuk berlatih dan berusaha setiap hari.

Prinsip compound effect sangat berlaku dalam hal ini. Sebagai contoh, berlatih sebuah keterampilan baru—seperti bermain musik, olahraga, atau menguasai bahasa asing—selama 15 menit setiap hari jauh lebih efektif daripada berlatih selama 5 jam sekaligus namun hanya seminggu sekali. Latihan harian yang terus-menerus akan membentuk kebiasaan (habit). Ketika suatu aktivitas sudah menjadi bagian dari rutinitas harian, otak dan tubuh kita tidak lagi menganggapnya sebagai beban yang berat. Tanpa adanya konsistensi, impian setinggi apa pun hanya akan berakhir sebagai wacana tanpa bentuk nyata.

Meski demikian, sekadar konsisten saja tidaklah cukup. Berusaha keras tanpa arah yang tepat hanya akan menguras energi. Di sinilah peran kunci sukses kedua, yaitu sifat mau belajar. Dunia bergerak dan berubah dengan sangat cepat; keahlian yang relevan hari ini belum tentu masih berguna di masa depan. Oleh karena itu, kita tidak boleh cepat merasa puas dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Membuka diri terhadap hal-hal baru adalah syarat mutlak agar kita tidak tertinggal.

Memiliki sifat mau belajar berarti rendah hati untuk bertanya saat tidak tahu, mau mendengarkan kritik serta saran dari orang lain, dan berani mengakui kekurangan diri. Orang yang memiliki growth mindset ini akan memandang kegagalan bukan sebagai akhir dari perjalanan, melainkan sebagai proses evaluasi dan bahan pelajaran bernilai tinggi untuk menjadi lebih baik pada kesempatan berikutnya.

Kedua sikap ini merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Konsistensi bertindak sebagai mesin pendorong yang memberikan kita energi dan daya tahan untuk terus berjalan maju. Sementara itu, sifat mau belajar berperan sebagai kompas yang mengarahkan agar langkah kita tidak salah jalan. Apabila seseorang hanya konsisten tanpa mau belajar, ia berisiko terjebak melakukan kesalahan yang sama berulang kali dalam jangka panjang. Sebaliknya, jika seseorang gemar belajar namun tidak konsisten, pengetahuan yang ia miliki hanya akan mengendap sebagai teori tanpa pernah menghasilkan karya nyata.

Kesimpulannya, perjalanan menuju sukses di masa depan tidak membutuhkan rumus yang terlampau rumit. Cukup mulailah dengan disiplin dan terus berusaha secara konsisten setiap hari, lalu imbangi dengan niat tulus untuk selalu belajar dari siapa saja dan di mana saja. Kombinasi sederhana namun berdaya ubah tinggi inilah yang akan menjadi bekal paling berharga untuk membimbing kita mencapai puncak keberhasilan.


 

Psikologi Inovasi- Essay 2- Wawancara Tentang Analisis Disonansi Kognitif

 


Keinginan Menjalani Hidup Sehat tetapi Sulit Mengubah Kebiasaan

Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


     Menjalani pola hidup sehat merupakan hal yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang mengetahui bahwa kebiasaan sehat perlu dilakukan, tetapi masih kesulitan menerapkannya. Misalnya, seseorang ingin tidur cukup, rutin berolahraga, dan mengurangi konsumsi makanan yang kurang sehat, tetapi masih sering tidur larut malam dan menunda olahraga karena kesibukan atau rasa malas.

       Kondisi tersebut dapat dikaji melalui konsep disonansi kognitif, yaitu keadaan ketika terdapat ketidaksesuaian antara keyakinan, pengetahuan, atau sikap seseorang dengan perilakunya. Untuk memahami kondisi tersebut, dilakukan wawancara mengenai pengalaman seseorang yang ingin menjalani hidup sehat, tetapi mengalami kesulitan mengubah kebiasaannya.

        Berdasarkan hasil wawancara kepada rekan kerja saya berinisial A.K menyampaikan bahwa hidup sehat penting untuk menjaga kondisi tubuh agar tidak mudah sakit. A.K ingin memiliki pola tidur yang teratur dan lebih rutin berolahraga. Namun, keinginan tersebut belum sepenuhnya diterapkan karena kesibukan sehari-hari dan kebiasaan menunda aktivitas. Ketika ditanya mengenai perasaannya, A.K mengaku terkadang merasa bersalah karena mengetahui bahwa kebiasaannya kurang baik bagi kesehatan.

      Meskipun demikian, A.K sering berpikir bahwa dirinya masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki kebiasaan tersebut. A.K juga merasa bahwa perubahan pola hidup sulit dilakukan sekaligus sehingga terkadang memilih mempertahankan kebiasaan lama.

      Pengalaman dalam wawancara tersebut dapat dikaitkan dengan konsep disonansi kognitif dari Leon Festinger. Disonansi kognitif muncul ketika keyakinan seseorang tidak sesuai dengan perilakunya. Dalam kasus ini, narasumber memahami pentingnya hidup sehat, tetapi belum konsisten menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan.

          Pikiran seperti merasa masih memiliki banyak waktu untuk berubah dapat menjadi bentuk rasionalisasi apabila digunakan untuk membenarkan perilaku yang bertentangan dengan keinginannya. Namun, hal tersebut perlu dipastikan melalui jawaban narasumber dan tidak dapat langsung dianggap sebagai mekanisme pertahanan diri tanpa bukti yang cukup.

           Menurut saya, kesulitan mengubah kebiasaan tidak selalu berarti seseorang tidak peduli terhadap kesehatannya. Seseorang mungkin sudah memahami manfaat hidup sehat, tetapi masih menghadapi hambatan berupa kesibukan, rasa malas, atau kebiasaan yang telah berlangsung lama. Ketidaksesuaian antara pengetahuan dan perilaku dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, tetapi perasaan tersebut juga dapat menjadi awal untuk melakukan perubahan. 

          Perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memperbaiki waktu tidur, mengurangi kebiasaan begadang, dan menyediakan waktu untuk berolahraga secara bertahap. Dengan demikian, seseorang tidak hanya memahami pentingnya hidup sehat, tetapi juga berusaha menyesuaikan perilakunya dengan keyakinan yang dimiliki.



Daftar Pustaka

Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.

Freud, A. (1966). The ego and the mechanisms of defense. International Universities Press.

Harmon-Jones, E., Amodio, D. M., & Harmon-Jones, C. (2009). Action-based model of dissonance: A review, integration, and expansion of conceptions of cognitive conflict. Advances in Experimental Social Psychology, 41, 119–166.


Psikologi Inovasi- Essay 1- Meringkas jurnal entrepreneurship



Fear of Failure and Entrepreneurial Intentions in University Students

Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


 
Topik : Hubungan antara ketakutan terhadap kegagalan (fear of failure) dan niat berwirausaha (entrepreneurial intentions) pada mahasiswa.

Sumber : Mutmainnah, M., Muis, I., & Hamid, A. N. (2024). Fear of Failure and Entrepreneurial Intentions in University Students. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 13(2), 531–554. https://doi.org/10.12928/jehcp.v13i2.28074

Permasalahan : Mahasiswa yang ingin memulai usaha dapat mengalami ketakutan terhadap kegagalan. Ketakutan ini dapat berupa rasa malu ketika gagal, kekhawatiran terhadap penilaian diri sendiri, dan kecemasan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Hal tersebut dapat menjadi hambatan psikologis bagi mahasiswa yang ingin berwirausaha.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara ketakutan terhadap kegagalan dan niat berwirausaha pada mahasiswa, termasuk hubungan beberapa aspek ketakutan terhadap kegagalan dengan niat tersebut.

Isi : Penelitian melibatkan 288 mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia. Peneliti menggunakan kuesioner Entrepreneurial Intention Questionnaire untuk mengukur niat berwirausaha dan Performance Failure Appraisal Inventory untuk mengukur ketakutan terhadap kegagalan. Data dianalisis menggunakan korelasi Spearman-Rho.

Hasil : Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara ketakutan terhadap kegagalan dan niat berwirausaha. Ketakutan akan rasa malu, penilaian negatif terhadap diri sendiri, dan ketidakpastian masa depan berhubungan negatif secara signifikan dengan niat berwirausaha. Sementara itu, ketakutan kehilangan ketertarikan dari orang-orang penting dan ketakutan mengecewakan orang lain tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.

Diskusi : Menurut saya, penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapan psikologis penting dalam berwirausaha. Ketakutan terhadap kegagalan dapat membuat mahasiswa ragu memulai usaha. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun kepercayaan diri, membuat perencanaan yang matang, dan belajar dari kesalahan. Kegagalan sebaiknya dipandang sebagai pengalaman untuk memperbaiki strategi dan mengembangkan usaha.






Mengubah yang Terbuang Menjadi Uang - Essay 5

Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | Psikologi Inovasi | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A



 

Ekonomi sirkular adalah sistem ekonomi yang menjadi bagian dari akhir material produk kemudian memanfaatkannya atau diolah kembali menjadi produk yang bernilai (Kirchherr et al., 2023).  Konsep dari ekonomi sirkular dapat diadopsi dalam segala industri, tujuannya menjadi tanggung jawab manusia untuk menjaga dan menciptakan lingkungan menjadi lebih baik. Ekonomi sirkular juga merupakan model yang mana seluruh proses perencanaan dirancang untuk menghasilkan fungsi sumber daya bagi kesejahteraan manusia (Murray et al., 2017). Jadi kesimpulannya, tujuan dari ekonomi sirkular adalah untuk mendaur ulang barang atau material yang sudah tidak terpakai menjadi barang berguna dan bernilai. Hal ini guna meningkatkan kesadaran manusia akan pentingnya menjaga lingkungan agar terhindar dari tumpukan limbah.

Limbah sangat banyak jenisnya, dua klasifikasi limbah; limbah rumahan dan limbah industri. Limbah industri memiliki empat jenis, yaitu limbah padat, limbah cair, limbah gas, dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) (Nanda et al., 2024). Banyak sekali limbah yang dihasilkan dari berbagai sektor. Jika limbah-limbah tidak diolah kembali, hanya akan menjadi gundukan sampah yang mencemari dan merusak lingkungan.

Salah satu upaya yang saya lakukan untuk mendaur ulang limbah. Saya memilih limbah minyak jelantah rumahan dan tempat makan diolah menjadi barang yang estetika dan bermanfaat bagi psikis konsumen. Limbah minyak jelantah bisa diolah menjadi lilin, namun saya memadukan lilin itu supaya memiliki manfaat bagi konsumen dengan cara memberikan campuran essential oil alami yang dapat meredakan stres dan membuat rileks. Jadi bukan hanya sekedar lilin saja tetapi ada manfaat yang bisa diambil dari mengonsumsi produk tersebut. Minyak jelantah selain diolah menjadi lilin, sekarang dapat diolah menjadi sabun dan biodiesel. Namun saya memilih lilin karena ini menjadi olahan yang mudah dibuat dan mendapatkan izin yang tidak sulit, sehingga saya memilih usaha ditahap awal dengan lilin aroma terapi.

            Langkah-langkah dalam membuat lilin aroma terapi dari minyak jelantah:

Langkah 1 Menyaring minyak jelantah

Diamkan minyak hingga dingin, kemudian saring menggunakan kain bersih atau saringan halus untuk memisahkan sisa makanan dan kotoran. Jangan gunakan minyak yang bercampur air.

Langkah 2 Menjernihkan minyak

Jika diperlukan, gunakan arang aktif untuk membantu mengurangi warna dan sebagian bau minyak. Setelah itu, saring kembali sampai tidak ada partikel arang yang tertinggal. Minyak yang jernih belum tentu bebas dari seluruh kontaminan.

Langkah 3 Melelehkan bahan pembentuk lilin

Panaskan bahan pembentuk lilin, seperti stearin atau lilin nabati, menggunakan metode tim (wadah di atas air panas). Ikuti suhu yang disarankan oleh pemasok bahan. Jangan memanaskan minyak jelantah secara langsung di atas api.

Langkah 4 Mencampurkan minyak jelantah

Campurkan minyak jelantah yang sudah disaring ke bahan pembentuk lilin sesuai formulasi yang telah diuji. Minyak jelantah saja tidak akan memadat seperti lilin, sehingga komposisinya perlu disesuaikan agar hasilnya cukup kokoh dan dapat terbakar dengan baik.

Langkah 5 Menambahkan aroma

Setelah campuran mencapai suhu penambahan pewangi yang direkomendasikan pemasok, tambahkan minyak esensial yang memang sesuai untuk lilin. Aduk perlahan agar tercampur merata. Jangan menganggap semua minyak esensial aman untuk dibakar.

Langkah 6 Menyiapkan wadah dan sumbu

Pasang sumbu khusus lilin di tengah wadah tahan panas. Pastikan sumbu berdiri tegak dan tidak mudah bergeser saat campuran dituangkan.

Langkah 7 Menuangkan campuran

Tuangkan campuran lilin secara perlahan ke dalam wadah yang telah disiapkan. Jaga agar sumbu tetap berada di tengah dan hindari mengisi wadah sampai terlalu penuh.

Langkah 8 Mendinginkan dan menguji produk

Biarkan lilin mengeras secara alami di tempat yang aman. Rapikan sumbu setelah lilin dingin. Sebelum digunakan atau dijual, lakukan pengujian pembakaran secara terkontrol untuk menilai kestabilan api, asap, bau, dan keamanan wadah.

 

Mari menjaga bumi dengan menyadari hal-hal kecil dari diri. Sampah menjadi tanggung jawab diri sendiri, bukan tanggung jawab pemerintah semata.  

 

Jika ingin membeli produk kami silahkan hubungi WA dan sosial media di bawah ini:

WA: +62 889-7230-0635 

IG : @jelagrow



Referensi:

Kirchherr, J., Yang, N.-H. N., Schulze-Spüntrup, F., Heerink, M. J., & Hartley, K. (2023). Conceptualizing the Circular Economy (Revisited): An Analysis of 221 Definitions. Resources, Conservation and Recycling, 194, 107001. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2023.107001

Murray, A., Skene, K., & Haynes, K. (2017). The Circular Economy: An Interdisciplinary Exploration of the Concept and Application in a Global Context. Journal of Business Ethics. https://doi.org/10.1007/s10551-015-2693-2

Nanda, M. F., Maulanah, S., & Hidayah, T. N. (2024). Analisis Pentingnya Pengelolaan Limbah TerhadapKehidupan Sosial Bermasyarakat. 2(2).

 

 

 

 

12.10.26

ESAI 1 Berani Memulai Usaha, Berani Mengambil Risiko

 



Baiq muthia syafitri 
24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A


Berani Memulai Usaha, Berani Mengambil Risiko

 Kewirausahaan merupakan kemampuan seseorang dalam menciptakan, mengelola, dan mengembangkan usaha dengan memanfaatkan peluang yang tersedia. Menurut saya, kewirausahaan bukan hanya tentang berjualan untuk mendapatkan keuntungan, tetapi juga tentang keberanian mengambil langkah, kreativitas dalam mencari ide, serta tanggung jawab dalam mengelola usaha. Kewirausahaan penting dipelajari karena dapat melatih seseorang agar lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain.

Saat ini, peluang usaha cukup luas karena perkembangan teknologi dan media sosial. Seseorang dapat memulai usaha dari rumah dengan modal yang tidak terlalu besar. Contohnya seperti menjual makanan ringan, minuman kekinian, pakaian, aksesoris, atau menawarkan jasa desain dan promosi. Media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok dapat digunakan untuk mengenalkan produk kepada banyak orang. Dengan cara tersebut, usaha kecil pun dapat berkembang apabila dikelola dengan baik dan konsisten.

Menurut saya, seorang wirausahawan harus peka terhadap kebutuhan masyarakat. Misalnya, banyak mahasiswa dan pekerja yang memiliki jadwal padat sehingga tidak sempat memasak sendiri. Keadaan tersebut dapat menjadi peluang untuk menjual makanan siap saji dengan harga yang sesuai. Selain itu, produk yang dijual juga harus memiliki keunikan agar berbeda dari produk pesaing. Keunikan dapat berupa rasa, kemasan, pelayanan, harga, maupun cara promosi yang menarik.

Dalam menjalankan usaha, tentu ada risiko yang harus dihadapi Dalam menjalankan usaha, mungkin produk belum laku di pasaran, modal belum kembali, atau muncul pesaing dengan produk yang hampir sama. Meskipun demikian, menurut saya kegagalan bukan alasan untuk menyerah dan menghentikan usaha. Kegagalan bisa menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki kualitas produk, strategi pemasaran, serta pelayanan kepada pelanggan. Seorang wirausahawan perlu sabar, disiplin, dan mau menerima kritik agar usahanya dapat berkembang.

Kewirausahaan juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Jika usaha semakin besar, pemilik usaha dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Dengan begitu, kewirausahaan tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga membantu masyarakat. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa kewirausahaan perlu ditanamkan sejak muda agar generasi muda lebih kreatif, berani, dan mampu menciptakan peluang kerja di masa depan.

Coping Behavior: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang - Essay 4

Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | Psikologi Inovasi | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A

 


Coping behavior adalah strategi individu dalam mengatasi permasalahannya baik diinternal maupun dieksternal. Strategi coping berfungsi dalam mengatasi masalah dalam situasi tekanan, menantang, dan membebani diri individu (Maryam, 2017). Coping memiliki banyak jenis, diantaranya:  Problem-solving Coping, Emotion-focused Coping, Avoidant Coping, Adaptive Coping, Maladaptive Coping, Social Coping, Cognitive Coping, Physical Coping, dan Spiritual Coping. Jenis-jenis tersebut menjadi strategi setiap individu dalam menghadapi masalah yang sedang terjadi pada dirinya. Jadi setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menghadapi masalah atau tekanan yang dialami.

Ketika menjalani kehidupan bersosial tentu akan ada hambatan, tekanan, dan masalah yang akan dihadapi. Tentu saja setiap situasi akan menghadapi permasalahan dan tantangan yang berbeda. Namun semua itu kembali lagi pada individu bagaimana strategi dalam menghadapinya. Seseorang dalam menjalani hidup pasti memiliki masalah yang mana bagi setiap orang tingkatan permasalahan itu berbeda-beda. Saya pernah membaca buku Psikologi, karya dari Fitri Ayu Mustika, M.Psi, bahwa “Masalah yang dihadapi menjadikan seseorang semakin berkembang dalam menangani permasalahan ke depannya atau problem solving akan meningkat”. Saya meyakini dari setiap masalah yang telah, sedang, dan akan saya hadapi justru akan membuat diri saya semakin berkembang dan membuat emosi saya semakin stabil ketika menghadapi tekanan ke depannya.

Hal yang paling membuat saya berkesan dalam menghadapi masalah adalah ketika merintis usaha dibidang industri dan kreatif bersama empat teman pada 25 Februari 2026. Ketika ingin merintis hal yang terberat dikala itu adalah modal usaha. Setiap dari kami berusaha memecahkan permasalahan ini. Ada yang mengusulkan untuk patungan per orang lima ratus ribu untuk modal usaha, mencari investor, bahkan hingga  mencari pinjaman modal ke bank. Pada akhirnya saya berpikir bagaimana mempunyai modal usaha tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Akhirnya muncul ide untuk mengikuti business plan competition dan kebetulan dari pihak kampus membuka pendanaan untuk mahasiswa yang ingin membuka usaha dengan mengikuti kompetisi yang tersedia. Kami pun mendaftar dan singkat cerita kami lolos dan menang dalam tahap pendanaan. Dari sini kami bisa memulai usaha dari nol, dan menyusun semua anggaran yang dibutuhkan untuk ke depannya.

Pengalaman dari masalah yang telah saya hadapi bersama teman-teman membuat kami semakin berkembang dalam menghadapi permasalahan usaha yang sedang kami jalani. Jenis coping mechanisme saya termasuk pada problem-solving Coping yang mana alih-alih menghindari permasalahan tersebut, justru menghadapi dan mencari solusi dari permasalahan yang terjadi (Setiawati & Rosyidah, 2025). Dari sini saya bisa terus tumbuh dan berkembang, setiap masalah pasti ada solusi dan setiap solusi yang dihadirkan tentu memiliki risikonya tersendiri. Namun untuk menghadapi risiko tersebut dapat dipertimbangkan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas diri.

Solusi bukan hadir dengan sendirinya, justru solusi seharusnya dihadirkan dalam keadaan pikiran dan emosi yang stabil. Jika kita tidak berani dalam menghadapi permasalahan yang terjadi maka ketika ada permasalahan ke depannya tidak akan bisa menghadirkan solusi, justru hanya membuat kita terjebak dengan fokusnya permasalahan tanpa menghadirkan solusi nyata.  Namun bukan berarti kita serta-merta menyalahkan atau menghakimi dari cara orang menghadapi masalahnya. Justru dengan belajar dan memahami jenis-jenis coping seharusnya membuat kita mengenali diri sendiri, apa coping yang biasa muncul ketika kita menghadapi masalah?. Bukan mencari tahu apa kekurangan dan menilai coping behavior nya orang lain. Semakin tinggi dan banyaknya masalah yang dihadapi semakin mengasah diri untuk memiliki problem solving yang lebih baik lagi.

 

Referensi:

Maryam, S. (2017). Strategi Coping : Teori Dan Sumberdayanya. Jurnal Konseling Andi Matappa, 1, 101–107. https://media.neliti.com/media/publications/177181-ID-strategi-coping-teori-dan-sumberdayanya.pdfexp=1791805356&kid=1&sig=JQBgF4VNUM2ot0AAhSGrxgiVR5COMrn1SfGG_V06Gk

Setiawati, R., & Rosyidah, H. (2025). Strategi Coping Stres Mahasiswa Baru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan : Studi Kuantitatif Berbasis Survei. 7(1).

 

 

 

 

 

 

 

 

Membangun Jiwa Entrepreneur yang Kreatif dan Gigih - Essay 3a dan 3b

Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | Psikologi Inovasi | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A


Berwirausaha tentu memiliki tantangan yang sangat besar. Tantangan yang sering dihadapi bagi seorang wirausaha adalah kompetitor yang cukup kuat dan perubahan tren yang begitu cepat. Alih-alih menyerah seorang wirausaha yang mencapai kesuksesan akan dihantam kegagalan berkali-kali. Secara realitas di lapangan UMKM yang sulit berkembang dan stuck bahkan bangkrut dikarenakan sulitnya berinovasi pada produk yang ditawarkan pada para konsumen. Diera digital yang mudah viral menjadikan tren pada usaha-usaha yang khususnya F&B semakin cepatnya perubahan tren terjadi.

Wirausaha yang berhasil menangani dari permasalahan perubahan tren dikarenakan memiliki jiwa yang kreatif. Salah satu jiwa tersebut, sangat diperlukan di zaman yang canggih ini. Banyak wirausaha yang sangat memperhatikan modal berupa uang di saat memulai usaha. Sebagian dari entrepreneur  ketika memulai usaha tidak memiliki inovasi atau kreativitas pada produk yang ditawarkan ke para konsumen. Padahal kewirausahaan itu sendiri artinya menawarkan sesuatu yang kreatif terhadap permasalahan sosial atau lingkungan yang ada (Nasution, 2023).

Pertama kali yang terlintas dalam memulai usaha adalah modal. Sering disalah pahami modal yang dimaksud adalah uang. Padahal modal bukan hanya sekedar uang bahkan lebih dari uang. Makna modal yang seharusnya ditanamkan pada jiwa entrepreneur  adalah networking,  kreativitas, pengalaman, dan kegigihan. Sangat disayangkan sebagian dari entrepreneur  tidak menyiapkan modal kesuksesan dari usaha adalah berani mengambil risiko (Nugroho, 2025).

Kedua pilar dalam jiwa entrepreneur  yang kreatif dan gigih sudah menjadi modal yang cukup untuk meraih kesuksesan. Meskipun masih banyak yang seharusnya jiwa yang dimiliki seorang entrepreneur. Ketika entrepreneur sudah menyadari kedua ini dan menyiapkan diawal usaha ketika mengalami perubahan tren tidak akan lagi merasa terancam atau menjadi suatu permasalahan yang besar, karena mereka sudah memiliki strategi inovasi yang perlu dikembangkan dari produk yang ditawarkan bahkan memiliki nilai keunikan tersendiri dibanding kompetitor lainnya. Namun, jika entrepreneur tidak memiliki jiwa yang gigih, berani mengambil risiko, serta kreatif ketika menghadapi perubahan tren akan kewalahan bahkan akan ketinggalan dengan perubahan tren yang terjadi.

Salah satu contoh yang saya alami langsung memiliki usaha bersama dengan empat teman saya. Usaha yang bergerak dibidang industri dan kreatif yaitu lilin aroma terapi. Ketika dilihat banyak sekali lilin aroma terapi yang beredar dijual dimasyarakat. Jika tidak memiliki kreativitas maka produk ini tidak akan memiliki nilai jual karena tidak ada value pembeda dengan kompetitor. Lilin aroma terapi yang kami tawarkan memiliki keunikan yaitu sebagian bahan dibuat dari minyak jelantah yang filtrasi dan aman untuk dihirup, aroma yang ditawarkan khas nusantara atau rempah-rempah, racikan essential oil alami yang dibuat sendiri, dan cocok dikonsumsi di saat sedang penat dan stress atau ingin bersantai.

            Jadi jika ingin menjadi seorang entrepreneur perlu menyadari apa saja yang perlu disiapkan ke depannya bukan hanya modal berupa uang saja. Bukan berarti uang tidak penting dalam memulai usaha, tetapi dengan kita memiliki modal networking kita bisa menjalin kerja sama atau mitra serta mendapatkan jejaring investasi dari para investor untuk ke depannya. Pengetahuan dan pengalaman juga menjadi penting agar dapat menilai risiko yang sedang dialami kemudian setelah itu perlu juga berani mengambil risiko dengan kegigihan dan melalui kreativitas yang ditawarkan dari inovasi produk yang telah dilakukan, tentunya berdasarkan hasil riset pasar.

 

Referensi:

Nugroho, W. (2025). Pengaruh Kedisiplinan , Praktik Kerja Industri , dan Motivasi Terhadap Kesiapan Berwirausaha Siswa Kompetensi Keahlian Teknik Pemesinan. 8(1).

Winda Suci Lestari Nasution,  dan P. N. (2023). MEMBENTUK JIWA ENTREPRENEUR BERKARAKTER INOVATIF DAN KREATIF. TRIDHARMADIMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jayakarta, 3(2), 32–41.