Tampilkan postingan dengan label psikologi humanistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi humanistik. Tampilkan semua postingan

10.4.19

MENJADI MANUSIA YANG BAHAGIA




MENJADI MANUSIA YANG BAHAGIA
Martin Elias Pete Seligman



NURUL WIDIASTONI
163104101152
            Siapa sih yang tidak ingin bahagia, pastinya semua orang menginginkan kebahagiaan. orang bekerja siang dan malam tanpa memikirkan waktu, mahasiswa pergi tiap hari ke kampus mengerjakan tugas hingga larut malam dan seorang laki-laki yang mengejar perempuan yang dia sukai, tentu tidak lain dan tidak bukan mereka ingin mencapai kehidupan yang bahagia.
            Salah satu tujuan konseling pendekatan adlerian adalah mengembangkan minat sosial di tiga masalah kehidupan yaitu cinta, persahabatan dan pekerjaan. Tiga bidang masalah kehidupan ini rawan sekali dengan rasa bahagia dan tidak bahagia. Oleh karena itu banyak yang menghalalkan segala cara agar dia bahagia. Memang kebahagiaan tidak bisa di beli dengan uang, tetapi diri sendirilah yang menciptakan kebahagiaan. Bahagia itu ada karena di ciptakan, di samping ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
Martin seligman adalah seorang psikolog klinis dan juga mantan presiden american psychological association (apa). Dia adalah pencetus psikologi positif yang memandang kekuatan dan kebajikan yang bisa membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi berhasil dalam hidup atau meraih tujuan hidupnya sehingga ia menjadi bahagia. Di dalam diri manusia terdapat dua sisi yang berlainan, yakni sisi negatif dan juga sisi positif. Psikologi positif yang di usung seligman  menaruh perhatian besar pada sisi-sisi positif yang di miliki manusia. Memang selama ini, psikologi lebih memandang pada sisi-sisi negatif manusia seperti gangguan jiwa, kecenderungan merusak, egois dan lebih mementingkan diri sendiri dengan mengisolasikan diri dari masyarakat daripada terlibat aktif di dalamnya.
Seligman memandang bahwa manusia itu memiliki dua potensi. Yakni potensi baik dan potensi buruk atau negative. Dimana hal ini ia bermaksud bahwa manusia bisa menjadi baik dan juga bisa menjadi buruk. Menurutnya, dengan mengembangkan potensi posistif dari manusia, maka rasa penderitaan akan berkurang hingga membawanya kepada kebahagiaan. Sehingga kajian kajiannya selama ini ia fokuskan untuk melihat dan mengembangkan potensi manusia. Selain itu, ia juga beranggapan (Seligman, 2002) bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk bahagia dan menjalani hidup yang baik.
Potensi diri manusia yang positif ini dipengaruhi oleh dua aspek yakni institusi positif dan positif self. Institusi positif yang dimaksud oleh Seligman adalah lingkungan yang mendorong individu menjadi individu yang lebih baik, bertanggung jawab, sopan, toleransi, moderat, penuh cinta kasih, peduli dan memiliki etos kerja yang tinggi (Seligman dan Csikszentmihalyi dalam…2012). Sedangkan positif self yang dimaksud adalah factor  internal atau factor yang berada di bawah pengendalian individu yang memiliki dapak positif bagi kehidupan.
Contoh orang yang bahagia dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak sekali dan terlihat sederhana, seperti bisa menyelesaikan tugas kuliah cepat waktu, mempunyai hubungan baik dengan orang lain, mempunyai atasan yang baik, dsb. Artinya banyak di sekitar kita hal-hal yang bisa membuat bahagia. Maka dari itu jangan lupakan potensi-potensi positif yang kita miliki, serta selalu bersyukur dan melakukan kebajikan. Jika semua itu kita lakukan kebahagiaam akan menghampiri kita.
Konsep bahagia, menurut Martin, dapat dilihat dari dua sudut padang, yaitu definisi moral-laden dan morally-neutral. Definisi moral-laden menghendaki bahwa tolak ukur kehagiaan adalah niai-nilai moral, yang pada intinya adalah kebahagiaan berpusat pada pelaksanaan kebaikan (virtue). Di sisi lain, definisi kebahagian secara netral lebih menekankan pada kesejahtraan subjektif dalam bentuk kepuasan penuh terhadap hidup atau pencapaian terhadap kenikmatan yang tinggi.
Kebahagiaan adalah hak dasar bagi manusia atau di sebut sebagai authentic happiness (kebahagiaan sejati). Authentic happiness adalah kebahagian yang abadi dalam segala aspek. Tidak bersifat temporal dan sementara, tidak pula bersifat parsial dalam waktu-waktu tertentu seperti yang dipersepsi sebagaian orang bahwa bersenang-senang dengan mabuk, sex bebas adalah kesenangan. Pandangan tersebut hanyalah kalaupun disebut kebahagian—kebahagian semu dan sementara. Masih menurut Seligman bahwa sejatinya kebahagian yang otentik (sejati) adalah perasaan baik yang ditimbulkan oleh kebaikan yang diperbuat oleh manusia.

Daftar Pustaka
Jusmiati. 2017. Konsep Kebahagian Martin Seligman: Sebuah Penelitian Awal. Rausyan Fikr, Vol. 13 No.2 Desember 2017: 359-374

Semua Manusia adalah Baik


Semua Manusia Adalah Baik
Abraham Maslow


Psikologi Humanistik
Nurul Widiastoni

            Di dalam buku Psikologi Kepribadian 2 yang berjudul Teori-Teori Holistik di sebutkan bahwa Maslow telah mengemukakan sejumlah asumsi  yang menakjubkan tentang kodrat manusia. Manusia memiliki kodrat bawaan yang pada hakikatnya adalah baik atau sekurang-kurangnya netral. Kodrat manusia menurut pembawaanya tidak jahat. Jadi insting manusia itu adalah baik tanpa harus di jinakkan dengan latihan dan sosialisasi.
 Kepribadian berkembang  melalui pematangan dalam lingkungan, daya-daya kreatif manusia akan muncul untuk merealisasikan kodratnya. Jika ada manusia mengalami neurotik itu di sebabkan karena lingkungannya melalui ketidaktahuan dan patologi sosial atau karena terjadi distorsi dalam pikiran mereka.
Maslow juga berpendapat bahwa banyak orang takut akan dan mengundurkan diri  dari menjadi manusia sepenuhnya (diri yang teraktualisasikan). Sifat destruktif dan kekerasan bukan merupakan sifat asli manusia. Manusia menjadi destruktif apabila kodrat batinya di belokkan, di sangkal atau di kecewakan. Ada perbedaan antara Kekerasan patologis dan agresi sehat dalam melawan ketidak adilan, prasangka, dan penyakit sosial lainnya.
Maslow juga pernah mengatakan orang yang hidup sebagai orang primitif adalah sebutan bagi orang yang memiliki tuntutan hidup yang tinggi menjadikan masyarakat modern melakukan pengabaian terhadap potensi-potensi yang  ia miliki. Ia menjadi kurang berani menyuarakan kebenaran demi mengisi perut yang kosong.
Teori ini mengatakan bahwa manusia sebagai makhluk yang tidak akan puas hanya dengan terpenuhi satu kebutuhan, tetapi ia akan puas jika semua kebutuhan terpenuhi. Sobur (2003 dalam Mawaddah 2010: 25 ) mengatakan bahwa Maslow berpendapat bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong (motivator) membentuk suatu hierarki atau jenjang peringkat. Ia membahas lima tingkat kebutuhan yaitu, (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan rasa aman, tidak hanya fisik, tetapi juga mental, psiokologikal dan intelektual, (3) kebutuhan akan kasih sayang, (4) kebutuhan akan harga diri, (5)aktualisasi diri, memiliki arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Orang menjadi jahat bisa di katakan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan. Apalagi kebutuhan dasar yang sangat penting di dahulukan. Mereka tidak memaksimalkan potensi dan daya kreatif yang dimilikinya sehingga berusaha memenuhi kebutuhan dengan jalan yang tidak baik. Misalnya  mencuri barang milik orang lain ataupun  melakukan korupsi (yang dilakukan para pejabat).
Dalam Ilmu Kriminologi di jelaskan bahwa setiap orang  mempunyai potensi untuk berbuat jahat. Potensi itu akan muncul ketika ada pemicunya. Demikian juga dengan anak-anak atau remaja. Seperti berita yang sedang ramai di bicarakan saat ini  tentang pengeroyokan terhadap siswi SMP di Pontianak. Kasus ini mendapat perhatian luas di media sosial sehingga muncul tagar #JusticeForAudrey. Memang begitulah manusia ketika kebutuhan untuk memuaskan nafsu jahatnya mengalahkan akal sehatnya. Apalagi ketika kejahatan dilakukan dengan bersama-sama (kelompok) yang awalnya ketika dilakukan sendirian merasa takut, maka akan menjadi berani ketika di lakukan bersama-sama.
Referensi
Ludiana, fika, dkk. 2017. Motivasi Warga Negara Asing Mengajar di English Fokus Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah Volume 2, Nomor 2:108-132.
Hall, Calvin S., & Lindzey, Gardner (2000), Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), Dr. A. Supratiknya (ed.), Jogjakarta :Kanisius .