4.11.26

ESAI 6 partisipasi lomba

 



Baiq muthia syafitri 

24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A

 

 Dari Malas Menjadi Semangat


 

Dari Malas Menjadi Semangat


Sebagai mahasiswa, saya mengakui bahwa pada awalnya saya sangat malas berpartisipasi dalam lomba, baik akademik maupun nonakademik. Saya selalu berpikir bahwa mengikuti lomba hanya akan membuat saya lelah, sibuk, dan takut gagal. Ketika melihat pengumuman lomba di kampus atau media sosial, saya biasanya membiarkannya lewat. Saya merasa tidak percaya diri dengan kemampuan yang saya miliki, sehingga lebih memilih menjadi penonton daripada peserta.

Namun, sikap itu perlahan berubah sejak saya mengikuti lomba menulis puisi dengan karya berjudul “Rindu yang Tak Kunjung Temu”. Saya mengikuti lomba tersebut karena ingin mencoba sesuatu yang baru dan meluapkan perasaan yang selama ini saya simpan sendiri. Melalui puisi, saya dapat menyampaikan rasa rindu, harapan, dan pengalaman pribadi dengan bahasa yang lebih indah. Proses menyusun kata demi kata terasa menyenangkan, meskipun saya juga merasa gugup karena karya tersebut akan dinilai oleh juri.

Sayangnya, saya tidak memenangkan lomba tersebut. Awalnya, saya merasa kecewa karena usaha saya tidak menghasilkan kemenangan. Namun, setelah memikirkannya kembali, saya menyadari bahwa tidak menang bukan berarti gagal sepenuhnya. Pengalaman itu justru memberikan banyak hal berharga. Saya belajar berani mencoba, menerima hasil, dan tidak takut menunjukkan karya kepada orang lain.

Hal yang paling berkesan adalah saya dapat bertemu dengan banyak peserta dari berbagai daerah. Kami saling berkenalan, berbagi cerita, dan menukar pengalaman setelah lomba. Mereka bercerita tentang alasan menulis, kesulitan yang dihadapi, serta harapan terhadap karya masing-masing. Dari situ, saya merasa tidak sendirian. Banyak orang juga merasa takut dan ragu, tetapi tetap memilih mencoba. Suasana lomba terasa seru karena kami tidak hanya bersaing, tetapi juga saling mendukung.

Sejak mengikuti lomba itu, jiwa semangat saya bangkit kembali. Saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas, tetapi juga mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman. Saya menjadi lebih terbuka terhadap peluang baru, lebih percaya diri mengekspresikan ide, dan lebih berani keluar dari zona nyaman.

Kini, saya tidak lagi mudah menyerah atau menghindari tantangan. Saya ingin terus mengikuti lomba lain agar dapat belajar lebih banyak, menambah teman, dan mengasah kemampuan menulis. Pengalaman tersebut menjadi titik awal perubahan dalam diri saya, dari mahasiswa yang malas berpartisipasi menjadi pribadi yang lebih aktif dan bersemangat.



Pengalaman kedua adalah ketika saya mengikuti lomba fiqih. Lomba ini membuat saya lebih termotivasi untuk mempelajari ajaran Islam, terutama mengenai hukum dan ketentuan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum lomba, saya mempersiapkan diri dengan membaca materi, mengulang pelajaran, dan berdiskusi dengan teman. Meskipun proses persiapannya tidak mudah, saya merasa senang karena dapat menambah wawasan keagamaan. Lomba fiqih juga melatih saya untuk berpikir lebih kritis, teliti, dan percaya diri dalam menjawab pertanyaan.

Melalui kedua lomba tersebut, jiwa semangat saya bangkit kembali. Saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas, tetapi juga mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman. Saya menjadi lebih terbuka terhadap peluang baru, lebih percaya diri mengekspresikan ide, dan lebih berani keluar dari zona nyaman.

Kini, saya tidak lagi mudah menyerah atau menghindari tantangan. Saya ingin terus mengikuti lomba lain agar dapat belajar lebih banyak, menambah teman, mengasah kemampuan menulis, dan memperdalam ilmu agama. Pengalaman tersebut menjadi titik awal perubahan dalam diri saya, dari mahasiswa yang malas berpartisipasi menjadi pribadi yang lebih aktif, bersemangat, dan percaya bahwa setiap kesempatan dapat membawa pertumbuhan.



0 komentar:

Posting Komentar