8.10.26

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 2 – Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


“Mengetahui Dampak Kopi terhadap Asam Lambung, tetapi Tetap Meminumnya”

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang mengetahui bahwa suatu perilaku kurang baik bagi dirinya, tetapi tetap melakukannya. Salah satu contohnya adalah kebiasaan minum kopi pada seseorang yang memiliki masalah asam lambung. Dalam wawancara ini, saya memilih subjek yang mengetahui bahwa kopi dapat memperburuk kondisi lambungnya, tetapi tetap mengonsumsi kopi karena menyukai rasanya dan sudah terbiasa meminumnya. Inisial nama SL jabatan CS.

Berdasarkan hasil wawancara dengan SL jabatan CS, diketahui bahwa subjek memiliki kebiasaan minum kopi meskipun mengetahui bahwa kopi dapat menimbulkan masalah pada lambungnya. Subjek mengatakan, “Saya tahu kopi bisa membuat lambung saya sakit, tapi saya tetap minum kopi karena sudah terbiasa dan suka.” Subjek juga mengungkapkan “yang penting tidak terlalu banyak minumnya” atau “kalau lambung lagi ngga bermasalah, saya masih bisa minum kopi.”

Kondisi tersebut menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu keadaan ketika terdapat ketidaksesuaian antara pengetahuan atau keyakinan seseorang dengan perilaku yang dilakukannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Fadholi et al. (2020) yang menunjukkan bahwa individu dapat tetap melakukan suatu perilaku meskipun mengetahui bahwa perilaku tersebut memiliki dampak negatif. Dalam penelitian tersebut, individu menggunakan informasi atau alasan tertentu untuk memberikan pembenaran terhadap perilakunya.

Pada subjek, bentuk pembenaran terlihat ketika ia menganggap bahwa mengurangi jumlah kopi sudah cukup untuk menghindari masalah pada lambung. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu ketika individu memberikan alasan yang dapat diterima untuk menjelaskan atau membenarkan perilakunya. Penelitian Khoirunnisa dan Nugroho (2023) menemukan bahwa rasionalisasi termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang digunakan individu dalam menghadapi konflik atau permasalahan.

Permasalahan yang terlihat adalah subjek sudah memiliki pengetahuan mengenai dampak konsumsi kopi, tetapi pengetahuan tersebut belum sepenuhnya mendorong perubahan perilaku. Hal ini juga sejalan dengan Alfitman (2017) yang menjelaskan bahwa disonansi kognitif dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan ketegangan yang berpotensi mendorong individu untuk mengubah sikap atau perilakunya.

Jika dikaitkan dengan Psikologi Inovasi, kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk mencari cara baru dalam mengubah kebiasaan. Misalnya, subjek tidak harus langsung berhenti minum kopi, tetapi dapat mencoba mengurangi frekuensi secara bertahap atau mencari minuman alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi tubuhnya. Dengan demikian, perubahan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemauan untuk mencoba cara baru dalam menghadapi kebiasaan yang sulit diubah..

 

Daftar Pustaka:

Alfitman. (2017). Konstruk disonansi kognitif dalam penelitian perilaku konsumen: Apakah popularitasnya memang sudah meredup? Ekonomi Bisnis, 22(1), 44–57. https://doi.org/10.17977/um042v22i1p44-57

Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas, N. F., Irwansyah, & Hasna, S. (2020). Disonansi kognitif perokok aktif di Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 11(1), 1–14. https://doi.org/10.24036/rapun.v11i1.108039

Khoirunnisa, A. S., & Nugroho, R. A. (2023). Mekanisme pertahanan diri dan coping stress tokoh utama dalam antologi cerpen “Malam Terakhir” karya Leila S. Chudori: Kajian psikologi sastra. Jurnal Sastra Indonesia, 12(3), 197–205.

0 komentar:

Posting Komentar