|
Topik
|
Entrepreneurship,
Entrepreneurial Action, Reality Enhancement
|
|
Sumber
|
Mui, A. (2010).
Entrepreneurship: The Act of Enhancing One's Reality. Entrepreneurship-The
Act of Enhancing One's Reality.
|
|
Per-masalahan
|
Saat ini belum
terdapat kesepakatan mengenai definisi konseptual yang paling tepat mengenai
entrepreneurship. Penelitian sebelumnya banyak berfokus pada trait
approach yang melihat siapa entrepreneur dan behavioural approach yang
melihat apa yang dilakukan entrepreneur. Namun, kedua pendekatan tersebut
belum mampu memberikan penjelasan yang jelas mengenai keseluruhan fenomena
entrepreneurship. Selain itu, entrepreneurship sering kali hanya dikaitkan
dengan pendirian perusahaan baru dan pencarian keuntungan, sehingga tindakan
inovatif yang tidak menghasilkan organisasi baru menjadi kurang terakomodasi.
|
|
Tujuan
Penelitian
|
Mengembangkan
definisi dan kerangka konseptual baru mengenai entrepreneurship yang dapat
menghubungkan trait approach dan behavioural approach, menghubungkan
entrepreneurship dengan ilmu sosial lainnya, menjelaskan bagaimana peluang
muncul dan dikenali, menjelaskan hubungan antara tindakan entrepreneurship
pada tingkat individu dengan perkembangan ekonomi pada tingkat negara, serta
membentuk bidang kajian baru mengenai reality enhancement.
|
|
Isi
|
§ Penulis mengusulkan definisi baru bahwa
entrepreneurship adalah “the act of enhancing one’s reality”, yaitu
seseorang yang melakukan tindakan untuk meningkatkan realitasnya, sedangkan entrepreneurial
act adalah tindakan yang menghasilkan peningkatan realitas.
§ Konsep entrepreneurship terdiri dari
tiga komponen utama, yaitu “one’s reality”, “to enhance”, dan “the act”.
Ketiga komponen tersebut masing-masing dikaitkan dengan tiga disiplin, yaitu
History, Psychology, dan Economics.
§ One’s reality berkaitan dengan kondisi dan pengalaman masa
lalu individu maupun kondisi negara tempat individu berada. Sejarah individu
menjadi dasar dari kemampuan, sumber daya, pengalaman, dan keputusan yang
dibuatnya, sedangkan sejarah negara membentuk kondisi ekonomi dan lingkungan
tempat individu beroperasi.
§ To enhance berkaitan dengan motivasi psikologis seseorang
untuk meningkatkan realitasnya. Penulis menggunakan Maslow’s hierarchy of
needs untuk menjelaskan bahwa kebutuhan manusia dapat berkembang mulai
dari kebutuhan fisiologis, keamanan, belonging, esteem, hingga
self-actualization.
§ The act berkaitan dengan tindakan nyata yang dilakukan
individu untuk meningkatkan realitasnya. Entrepreneurship tidak harus selalu
berbentuk pendirian perusahaan baru, tetapi dapat berupa berbagai tindakan
yang memberikan perubahan atau peningkatan terhadp realitas individu maupun
lingkungan.
§ Konsep entrepreneurship yang diajukan
bersifat universal. Siapa saja dapat menjadi entrepreneur karena
entrepreneurship tidak ditentukan oleh profesi, tingkat pendidikan, status,
ataupun kepemilikan perusahaan, namun juga oleh tindakan seseorang dalam meningkatkan
realitasnya.
|
|
Metode
|
§ Penelitian ini merupakan conceptual
paper, sehingga tidak menggunakan penelitian dengan subjek, sampel, atau
eksperimen seperti penelitian kuantitatif maupun kualitatif pada umumnya.
§ Penulis mengintegrasikan berbagai
pendekatan sebelumnya, terutama trait approach yang berfokus pada
individu dan behavioural approach yang berfokus pada tindakan untuk
membentuk organisasi. Individu, organisasi, dan motivasi kemudian dipandang
sebagai komponen yang saling berhubungan.
§ Kerangka yang dikembangkan dibahas
melalui tiga aspek utama, yaitu aspek historical, psychological, dan
economical, untuk mengevaluasi konsistensi, applicability, dan explanatory
power dari definisi entrepreneurship yang baru
|
|
Hasil
|
§ Entrepreneurship menurut konsep yang
diajukan tidak merupakan kondisi yang menetap. Ketika seseorang sudah tidak
lagi melakukan tindakan untuk meningkatkan realitasnya, ia tidak lagi
berada dalam kondisi sebagai entrepreneur.
§ Everyone can be an entrepreneur, karena tidak terdapat satu
karakteristik, profesi, ataupun tindakan tertentu yang secara mutlak
menentukan seseorang sebagai entrepreneur. Seseorang dapat menjadi
entrepreneur melalui tindakannya sendiri untuk meningkatkan realitas.
§ Berdasarkan Maslow’s hierarchy of
needs, penulis mengusulkan tiga level entrepreneurship, yaitu necessity
entrepreneurship, independence entrepreneurship, dan self-actualizing
entrepreneurship. Necessity entrepreneur berusaha memenuhi
kebutuhan dasar, independence entrepreneur berusaha memenuhi kebutuhan
esteem dan independence, sedangkan self-actualizing entrepreneur
berusaha mencapai kebutuhan tingkat tertinggi dan terus meningkatkan
realitasnya.
§ Entrepreneurship dapat diukur dengan
melihat perubahan realitas sebelum dan sesudah entrepreneurial action. Pada
tingkat individu, reality enhancement dapat berupa peningkatan
pendapatan atau job satisfaction, sedangkan pada tingkat negara dapat berupa
peningkatan GDP, GDP per capita, maupun kepuasan hidup atau kerja masyarakat.
§ Entrepreneurial action dapat
menghasilkan exponential growth, karena peningkatan pada satu aspek
realitas dapat memengaruhi keseluruhan realitas dan menciptakan realitas
baru. Namun, pertumbuhan tersebut juga berhenti ketika tindakan
entrepreneurship berhenti.
|
|
Diskusi
|
§ Konsep “the act of enhancing one’s
reality” berusaha menyatukan trait approach dan behavioural approach. “One’s
reality” menggambarkan kondisi dan karakteristik yang menjadi dasar
individu, “the act” menggambarkan tindakan yang dilakukan, sedangkan “to
enhance” menjelaskan bagaimana dan mengapa individu melakukan tindakan
tersebut.
§ Entrepreneurship tidak hanya
menghasilkan perubahan pada tingkat individu (micro-level), tetapi juga dapat
memberikan pengaruh pada tingkat negara (macro-level). Realitas individu yang
meningkat secara bersama-sama dapat membentuk perubahan pada realitas ekonomi
suatu negara.
§ Necessity entrepreneurship cenderung memberikan peningkatan pada
tingkat individu dan kontribusi sosial yang lebih kecil, sedangkan independence
entrepreneurship lebih inovatif dan memberikan kontribusi yang lebih
besar. Self-actualizing entrepreneurship dipandang paling inovatif dan
memiliki potensi terbesar untuk memberikan kontribusi pada pertumbuhan
ekonomi karena tidak hanya berusaha meningkatkan realitas individu tetapi
juga realitas lingkungan yang lebih luas.
§ Dari keseluruhan pembahasan, terdapat
tiga implikasi yang dianggap paling penting, yaitu entrepreneurship
exhibits exponential growth, there exists a hierarchy of entrepreneurship,
dan there exists a pathway to the enhancement of reality. Ketiganya
menjadi dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai
entrepreneurship.
§ Meskipun demikian, penulis menyebutkan
bahwa keterbatasan penelitian ini terletak pada kedalamannya. Karena paper
bersifat konseptual dan berusaha membahas entrepreneurship secara luas,
beberapa implikasi belum diuji secara empiris dan masih membutuhkan penelitian
lebih lanjut, terutama mengenai tingkatan entrepreneurship dan hubungan
antara micro-level dengan macro-level
|
0 komentar:
Posting Komentar