4.10.26

Psi Inovasi - Esai 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneruship - Dr. A. Shinta, M. A - Kelas B - 4 Oktober 2026 - Hana Fardilla (24310410048)

 Entrepreneurship: The Act of Enhancing One’s Reality

Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 1 -  Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Topik

Entrepreneurship, Entrepreneurial Action, Reality Enhancement

Sumber

Mui, A. (2010). Entrepreneurship: The Act of Enhancing One's Reality. Entrepreneurship-The Act of Enhancing One's Reality.

Per-masalahan

Saat ini belum terdapat kesepakatan mengenai definisi konseptual yang paling tepat mengenai entrepreneurship. Penelitian sebelumnya banyak berfokus pada trait approach yang melihat siapa entrepreneur dan behavioural approach yang melihat apa yang dilakukan entrepreneur. Namun, kedua pendekatan tersebut belum mampu memberikan penjelasan yang jelas mengenai keseluruhan fenomena entrepreneurship. Selain itu, entrepreneurship sering kali hanya dikaitkan dengan pendirian perusahaan baru dan pencarian keuntungan, sehingga tindakan inovatif yang tidak menghasilkan organisasi baru menjadi kurang terakomodasi.

Tujuan Penelitian

Mengembangkan definisi dan kerangka konseptual baru mengenai entrepreneurship yang dapat menghubungkan trait approach dan behavioural approach, menghubungkan entrepreneurship dengan ilmu sosial lainnya, menjelaskan bagaimana peluang muncul dan dikenali, menjelaskan hubungan antara tindakan entrepreneurship pada tingkat individu dengan perkembangan ekonomi pada tingkat negara, serta membentuk bidang kajian baru mengenai reality enhancement.

Isi   


§ 
Penulis mengusulkan definisi baru bahwa entrepreneurship adalah “the act of enhancing one’s reality”, yaitu seseorang yang melakukan tindakan untuk meningkatkan realitasnya, sedangkan entrepreneurial act adalah tindakan yang menghasilkan peningkatan realitas.

§ 
Konsep entrepreneurship terdiri dari tiga komponen utama, yaitu “one’s reality”, “to enhance”, dan “the act”. Ketiga komponen tersebut masing-masing dikaitkan dengan tiga disiplin, yaitu History, Psychology, dan Economics.

§ 
One’s reality berkaitan dengan kondisi dan pengalaman masa lalu individu maupun kondisi negara tempat individu berada. Sejarah individu menjadi dasar dari kemampuan, sumber daya, pengalaman, dan keputusan yang dibuatnya, sedangkan sejarah negara membentuk kondisi ekonomi dan lingkungan tempat individu beroperasi.

§ 
To enhance berkaitan dengan motivasi psikologis seseorang untuk meningkatkan realitasnya. Penulis menggunakan Maslow’s hierarchy of needs untuk menjelaskan bahwa kebutuhan manusia dapat berkembang mulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan, belonging, esteem, hingga self-actualization.

§  
The act berkaitan dengan tindakan nyata yang dilakukan individu untuk meningkatkan realitasnya. Entrepreneurship tidak harus selalu berbentuk pendirian perusahaan baru, tetapi dapat berupa berbagai tindakan yang memberikan perubahan atau peningkatan terhadp realitas individu maupun lingkungan.

§ 
Konsep entrepreneurship yang diajukan bersifat universal. Siapa saja dapat menjadi entrepreneur karena entrepreneurship tidak ditentukan oleh profesi, tingkat pendidikan, status, ataupun kepemilikan perusahaan, namun juga oleh tindakan seseorang dalam meningkatkan realitasnya.

Metode


§ 
Penelitian ini merupakan conceptual paper, sehingga tidak menggunakan penelitian dengan subjek, sampel, atau eksperimen seperti penelitian kuantitatif maupun kualitatif pada umumnya.

§ 
Penulis mengintegrasikan berbagai pendekatan sebelumnya, terutama trait approach yang berfokus pada individu dan behavioural approach yang berfokus pada tindakan untuk membentuk organisasi. Individu, organisasi, dan motivasi kemudian dipandang sebagai komponen yang saling berhubungan.

§ 
Kerangka yang dikembangkan dibahas melalui tiga aspek utama, yaitu aspek historical, psychological, dan economical, untuk mengevaluasi konsistensi, applicability, dan explanatory power dari definisi entrepreneurship yang baru

Hasil


§ 
Entrepreneurship menurut konsep yang diajukan tidak merupakan kondisi yang menetap. Ketika seseorang sudah tidak lagi melakukan tindakan untuk meningkatkan realitasnya, ia tidak lagi berada dalam kondisi sebagai entrepreneur.

§ 
Everyone can be an entrepreneur, karena tidak terdapat satu karakteristik, profesi, ataupun tindakan tertentu yang secara mutlak menentukan seseorang sebagai entrepreneur. Seseorang dapat menjadi entrepreneur melalui tindakannya sendiri untuk meningkatkan realitas.

§ 
Berdasarkan Maslow’s hierarchy of needs, penulis mengusulkan tiga level entrepreneurship, yaitu necessity entrepreneurship, independence entrepreneurship, dan self-actualizing entrepreneurship. Necessity entrepreneur berusaha memenuhi kebutuhan dasar, independence entrepreneur berusaha memenuhi kebutuhan esteem dan independence, sedangkan self-actualizing entrepreneur berusaha mencapai kebutuhan tingkat tertinggi dan terus meningkatkan realitasnya.

§  Entrepreneurship dapat diukur dengan melihat perubahan realitas sebelum dan sesudah entrepreneurial action. Pada tingkat individu, reality enhancement dapat berupa peningkatan pendapatan atau job satisfaction, sedangkan pada tingkat negara dapat berupa peningkatan GDP, GDP per capita, maupun kepuasan hidup atau kerja masyarakat.

§ 
Entrepreneurial action dapat menghasilkan exponential growth, karena peningkatan pada satu aspek realitas dapat memengaruhi keseluruhan realitas dan menciptakan realitas baru. Namun, pertumbuhan tersebut juga berhenti ketika tindakan entrepreneurship berhenti.

Diskusi


§ 
Konsep “the act of enhancing one’s reality” berusaha menyatukan trait approach dan behavioural approach. “One’s reality” menggambarkan kondisi dan karakteristik yang menjadi dasar individu, “the act” menggambarkan tindakan yang dilakukan, sedangkan “to enhance” menjelaskan bagaimana dan mengapa individu melakukan tindakan tersebut.

§ 
Entrepreneurship tidak hanya menghasilkan perubahan pada tingkat individu (micro-level), tetapi juga dapat memberikan pengaruh pada tingkat negara (macro-level). Realitas individu yang meningkat secara bersama-sama dapat membentuk perubahan pada realitas ekonomi suatu negara.

§ 
Necessity entrepreneurship cenderung memberikan peningkatan pada tingkat individu dan kontribusi sosial yang lebih kecil, sedangkan independence entrepreneurship lebih inovatif dan memberikan kontribusi yang lebih besar. Self-actualizing entrepreneurship dipandang paling inovatif dan memiliki potensi terbesar untuk memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi karena tidak hanya berusaha meningkatkan realitas individu tetapi juga realitas lingkungan yang lebih luas.

§ 
Dari keseluruhan pembahasan, terdapat tiga implikasi yang dianggap paling penting, yaitu entrepreneurship exhibits exponential growth, there exists a hierarchy of entrepreneurship, dan there exists a pathway to the enhancement of reality. Ketiganya menjadi dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai entrepreneurship.

§ 
Meskipun demikian, penulis menyebutkan bahwa keterbatasan penelitian ini terletak pada kedalamannya. Karena paper bersifat konseptual dan berusaha membahas entrepreneurship secara luas, beberapa implikasi belum diuji secara empiris dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama mengenai tingkatan entrepreneurship dan hubungan antara micro-level dengan macro-level

 Jurnal ini sangat menarik bagi saya, karena menyebutkan bahwa “entrepreneurship bukan hanya aksi membuat badan usaha baru, tetapi termasuk melakukan perubahan pada level realitas individu,” sehingga kesan yang diberikan adalah benar-benar, setiap orang dapat menjadi entrepreneurship.


0 komentar:

Posting Komentar