27.10.26

ESAI KE - 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR ( Heni Dwi Anggreani / 2531044001)

 


Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essai Ke- 4

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

( Oktober 2026)

 

Bangkit dari Kehilangan dan Mempertahankan Integritas dalam Kehidupan (Peristiwa Menyakitkan dan Proses Bangkit Kembali )

Salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup saya adalah kehilangan ayah pada tahun 2020, kemudian disusul kehilangan anak saya yang baru lahir pada tahun 2021. Dua peristiwa tersebut memberikan tekanan emosional yang sangat besar bagi saya. Saya merasa putus asa, kehilangan semangat, dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Saya lebih banyak ingin tidur, melamun, dan tidak memiliki motivasi untuk kembali bekerja. Pada saat itu, saya merasa kehilangan arah dan sulit membayangkan bagaimana saya dapat menjalani kehidupan seperti sebelumnya.

Situasi tersebut menjadi sumber stres yang memengaruhi kehidupan pribadi maupun pekerjaan saya. Namun, secara perlahan, saya mulai menyadari bahwa masih ada orang-orang yang membutuhkan kehadiran dan tanggung jawab saya. Saya masih memiliki seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian saya, serta ibu yang perlu saya bantu memenuhi kebutuhannya. Kesadaran tersebut menjadi titik awal bagi saya untuk kembali bangkit. Saya mulai meyakinkan diri bahwa saya harus kembali berjuang, bekerja, dan menjalankan kehidupan sehari-hari, meskipun rasa kehilangan itu tidak sepenuhnya hilang.

Coping behavior yang paling saya banggakan adalah kemampuan untuk menerima kenyataan, menguatkan diri melalui keyakinan kepada Allah, dan menemukan kembali tujuan hidup. Saya belajar bahwa tidak semua hal yang kita inginkan dapat terwujud sesuai harapan. Ada hal-hal yang berada di luar kendali manusia dan harus diterima sebagai bagian dari takdir. Penerimaan tersebut bukan berarti saya melupakan ayah dan anak saya, melainkan belajar melanjutkan kehidupan tanpa menyangkal kesedihan yang pernah saya alami. Saya juga mengingat tanggung jawab saya terhadap keluarga sebagai alasan untuk kembali beraktivitas dan bekerja.

Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara saya menghadapi tekanan dalam pekerjaan sebagai seorang pengacara. Saya pernah merasa dilematis ketika berhadapan dengan praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip kejujuran dan hati nurani saya. Saya bahkan beberapa kali mempertimbangkan untuk meninggalkan profesi tersebut. Namun, dukungan suami membantu saya melihat bahwa saya masih dapat menjalankan profesi ini dengan mempertahankan integritas dan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak harus diperoleh melalui kecurangan. Saya memilih untuk tetap berjuang sesuai prinsip yang saya yakini.

Hikmah yang saya peroleh adalah bahwa bangkit bukan berarti tidak pernah merasa sedih, kecewa, atau ingin menyerah. Bangkit berarti belajar menerima hal-hal yang tidak dapat diubah dan tetap berusaha memperbaiki hal-hal yang masih dapat kita kendalikan. Saya juga menyadari bahwa tekanan dapat mendorong saya untuk mengevaluasi cara berpikir dan menentukan langkah yang lebih sesuai dengan nilai-nilai pribadi. Hingga saat ini, saya merasa bangga karena dapat menjalankan profesi dengan integritas dan menangani perkara dengan hasil yang baik tanpa harus mengorbankan prinsip kejujuran. Bagi saya, keberhasilan bukan hanya tentang hasil yang dicapai, tetapi juga tentang cara mencapainya. Pengalaman ini mengajarkan saya untuk terus beradaptasi, mempertahankan prinsip, dan menemukan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan meskipun tidak semua hal berjalan sesuai harapan.

 

Daftar Pustaka

Ø Lutfi, S. A., & Asyanti, S. (2023). Strategi spiritual coping pada remaja yang mengalami kedukaan. Jurnal Psikologi, 16(2), 112–125. https://eprints.ums.ac.id/116401/

Ø Putri, A. R., Kusuma, S. W., & Firmansyah, Y. (2026). Kode etik dan integritas profesi advokat: Hubungan antara etika, pengawasan, dan pembelaan diri dalam praktik hukum. Jurnal Mahasiswa Hukum, 1(1), 1–11.https://jumas.ourhope.biz.id/ojs/index.php/JM/article/view/183

Ø Winta, M. V. I., & Syafitri, A. K. (2015). Coping stress pada ibu yang mengalami kematian anak. Jurnal Psikologi Philanthropy, 1(1), 77–88.  (DOI: https://doi.org/10.26623/philanthropy.v3i1.1513 )

0 komentar:

Posting Komentar