Peristiwa
Menyakitkan: Kegagalan di Tes IPDN
Situasi
yang Membuat Stres
Peristiwa
paling menyakitkan dalam hidup saya terjadi pada Mei 2024. Saat itu,
saya mengikuti seleksi sekolah kedinasan Institut Pemerintahan Dalam Negeri
(IPDN). Saya sudah mempersiapkan diri, namun hasil Seleksi Kompetensi Dasar
(SKD) menyatakan saya gugur. Dari target 400 poin yang harus dicapai untuk
aman, saya hanya memperoleh 380 poin. Kegagalan tersebut menjadi pukulan yang
sangat berat. Rasa kecewa, sedih, dan putus asa membuat saya kehilangan tekad.
Ketika orang tua mendorong saya untuk mendaftar dan mencoba kembali, saya
menolak keras karena merasa mental saya sudah hancur dan tidak sanggat untuk
melangkah lagi.
Proses
Bangkit dan Coping Behavior
Keterpurukan
tersebut berlangsung cukup lama hingga memasuki tahun 2026. Titik balik
semangat saya bangkit kembali ketika menerima ejekan dan sikap merendahkan dari
seorang oknum Tamtama Prada. Kata-kata yang meremehkan tersebut membakar harga
diri saya. Daripada membiarkan rasa sakit hati melumpuhkan diri, saya memilih
menggunakan strategi coping behavior berfokus pada tindakan konkret (problem-focused
coping) yang dikombinasikan dengan pembuktian diri. Saya membuktikan bahwa
cercaan tersebut justru menjadi bahan bakar terbesar untuk bangkit.
Langkah
nyata yang paling saya banggakan dalam proses pemulihan ini meliputi:
- Disiplin
Pembelajaran:
Saya mengalihkan fokus target dari IPDN ke seleksi CPNS Kejaksaan. Saya
secara konsisten membuka dan mempelajari kembali materi-materi di buku
Kamus SKD.
- Perubahan
Gaya Hidup:
Saya membangun rutinitas baru dengan rajin bangun pagi, menjaga kebugaran
fisik melalui olahraga teratur, serta menumbuhkan kegemaran baru membaca
buku-buku sejarah untuk memperluas wawasan.
Rasa
tidak terima diremehkan saya ubah menjadi dorongan positif untuk membuktikan
bahwa saya mampu menyaingi mereka yang merendahkan, sekaligus mengangkat
derajat kedua orang tua saya.
Hikmah
(Reward) dari Peristiwa Menyakitkan
Hikmah
terbesar dari kegagalan dan rasa sakit ini adalah terbentuknya mentalitas yang
jauh lebih kuat dan tahan banting. Kegagalan di IPDN mengajarkan saya arti
kerendahan hati, sedangkan ejekan yang diterima membentuk kedisiplinan dan
ambisi yang terarah. Saya menyadari bahwa kegagalan di masa lalu bukanlah akhir
dari segalanya, melainkan cara Tuhan mengalihkan saya ke jalan yang lebih
tepat. Kini, dengan persiapan yang jauh lebih matang dan jiwa yang pantang menyerah,
saya siap memperjuangkan seleksi CPNS Kejaksaan demi mewujudkan impian dan
membanggakan orang tua pada tahun 2027.

0 komentar:
Posting Komentar