Arisyahdan J Hi A Rahim
22310420199
Program Studi: Psikologi
Mata Kuliah: Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Arundati shinta
Karakteristik yang sering dikaitkan dengan seorang entrepreneur adalah kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement atau nAch), yaitu dorongan untuk mencapai hasil yang lebih baik melalui usaha yang sungguh-sungguh. Individu dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi umumnya tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menikmati proses belajar, menghadapi tantangan, serta terus memperbaiki kualitas dirinya. Oleh karena itu, kemampuan menetapkan tujuan yang menantang namun tetap realistis menjadi salah satu faktor penting dalam membangun semangat berprestasi.
Saya sependapat bahwa motivasi berprestasi merupakan modal psikologis yang sangat penting bagi seorang wirausahawan. Seseorang yang memiliki dorongan untuk berkembang akan lebih siap menghadapi kegagalan karena menganggapnya sebagai bagian dari proses belajar. Namun, motivasi tersebut tidak muncul secara otomatis, melainkan perlu dilatih melalui pembiasaan berpikir positif, refleksi diri, serta pengalaman menghadapi tantangan secara bertahap. Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan mengevaluasi diri dan menuliskan target yang jelas dapat membantu seseorang meningkatkan keyakinan terhadap kemampuannya.
Meskipun demikian, terdapat beberapa bagian dari uraian yang menurut saya perlu dipandang secara lebih kritis. Pertama, konsep need for achievement memang telah lama dikembangkan dalam psikologi motivasi, tetapi tokoh yang paling dikenal mengembangkannya adalah David C. McClelland. Ia menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung memilih tugas dengan tingkat kesulitan sedang, bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya, serta membutuhkan umpan balik agar mampu berkembang. Oleh karena itu, latihan berpikir positif memang dapat membantu meningkatkan optimisme, tetapi keberhasilan seseorang tetap dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti lingkungan, kesempatan belajar, dukungan sosial, serta pengalaman hidup.
Kedua, kisah The Crocodile River memberikan pesan moral bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan nilai-nilai yang diyakini. Ruben digambarkan sebagai individu yang fokus pada pekerjaannya, tidak mudah terpengaruh oleh persoalan yang dapat menghambat tujuan hidupnya, serta mampu melihat tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang. Sikap tersebut mencerminkan karakter seorang entrepreneur yang memiliki orientasi jangka panjang dan mampu mengendalikan diri ketika menghadapi godaan yang dapat merugikan masa depannya.
Namun demikian, saya kurang sependapat apabila karakter Lorena hanya dipandang sebagai individu yang tidak memiliki potensi maju karena memilih menjual dirinya demi memperoleh uang. Penilaian tersebut terlalu sederhana apabila tidak mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, maupun tekanan hidup yang mungkin dialaminya. Dalam psikologi, perilaku manusia tidak dapat dipahami hanya dari satu tindakan, tetapi perlu dilihat berdasarkan konteks yang melatarbelakanginya. Seseorang dapat mengambil keputusan yang keliru karena keterbatasan pilihan, kemiskinan, kekerasan, atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Oleh sebab itu, perilaku Lorena tetap dapat dinilai salah secara moral, tetapi penyebabnya perlu dipahami secara lebih komprehensif agar tidak menimbulkan stigma terhadap individu yang berada dalam situasi sulit.
Selanjutnya, teori keberuntungan dari Robert Wiseman memberikan sudut pandang yang menarik bahwa keberuntungan bukan semata-mata hasil kebetulan. Individu yang terbuka terhadap peluang, mampu membangun relasi yang baik, berpikir positif ketika menghadapi kegagalan, serta berani mengambil keputusan secara tepat cenderung memiliki kesempatan sukses yang lebih besar. Dalam praktiknya, seseorang yang aktif membangun jaringan, terus belajar, dan tidak mudah menyerah memang akan lebih sering menemukan peluang dibandingkan individu yang pasif.
Permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan saat ini adalah banyak orang menginginkan hasil yang cepat tanpa melalui proses pengembangan diri. Tidak sedikit mahasiswa maupun calon entrepreneur yang mudah menyerah ketika mengalami kegagalan pertama. Mereka kemudian menyalahkan keadaan atau menganggap dirinya tidak beruntung. Padahal, keberuntungan sering kali merupakan hasil dari kesiapan seseorang dalam memanfaatkan kesempatan yang datang. Tanpa kemampuan belajar dan bekerja keras, peluang yang baik pun dapat terlewat begitu saja.
Menurut saya, solusi yang dapat dilakukan adalah membangun pola pikir berkembang (growth mindset) sejak dini. Individu perlu membiasakan diri menetapkan target yang realistis namun menantang, berani mengevaluasi kesalahan, serta menjadikan kegagalan sebagai pengalaman belajar. Selain itu, penting pula membangun lingkungan yang positif melalui pergaulan dengan orang-orang yang memiliki semangat berkembang. Dukungan keluarga, teman, maupun mentor juga dapat meningkatkan motivasi berprestasi sekaligus membantu individu menghadapi berbagai hambatan secara lebih sehat.
Selain aspek motivasi, entrepreneur juga memerlukan integritas dan empati. Kesuksesan yang dicapai tanpa memperhatikan nilai moral dapat menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan tidak hanya diukur dari keuntungan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kepercayaan, menghargai orang lain, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa motivasi berprestasi memang merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun kesuksesan. Kisah Ruben memberikan inspirasi mengenai pentingnya fokus pada tujuan, menjaga nilai moral, dan mampu melihat sisi positif dari setiap tantangan. Namun, dalam menilai perilaku orang lain, diperlukan sikap yang lebih objektif dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi keputusan seseorang. Dengan memadukan motivasi berprestasi, kerja keras, pembelajaran yang berkelanjutan, integritas, dan kemampuan melihat peluang, seseorang akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih keberhasilan secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Harper, F. D. (1984). The Crocodile River. New York: Human Relations Press.
McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.
Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Four Essential Principles. London: Arrow Books.
0 komentar:
Posting Komentar