9.7.26

ESSAY 6: Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 6 : PARTISIPASI LOMBA

Menjemput Sehat di Kota Gudeg: Cerita dari Garis Belakang Milo Fun Run dan Jogja 10K

 

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

    

Bagi sebagian orang, ajang lari adalah panggung untuk memburu podium, memecahkan rekor waktu pribadi, atau mengalungkan medali kemenangan. Namun bagi saya, berlari di Yogyakarta pada dua bulan berturut-turut Milo ACTIV Indonesia Race pada akhir April dan Jogja 10K pada awal Mei adalah tentang merayakan langkah kaki, menikmati atmosfer kota, dan menuntaskan garis finish dengan senyuman, tanpa peduli di urutan berapa saya mendarat.

Petualangan lari ini dimulai pada akhir April di Jogja Expo Center (JEC) dalam gelaran Milo Fun Run. Sejak pagi buta, JEC sudah berubah menjadi lautan warna hijau khas Milo. Ribuan pelari dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, berkumpul dengan satu energi yang sama: bersenang-senang. Mengambil kategori 5K, saya sama sekali tidak memasang target waktu. Benar saja, sepanjang rute, alih-alih fokus pada kecepatan napas, saya justru larut dalam keseruan berinteraksi dengan sesama pelari, berswafoto di photo booth unik di sepanjang jalan, dan menyemangati anak-anak kecil yang berlari riang bersama orang tua mereka. Memasuki garis finish, hadiah terbesar bagi saya bukanlah podium, melainkan segelas es Milo dingin legendaris yang sukses menuntaskan dahaga setelah berpeluh keringat.

     

Belum hilang rasa semarak dari bulan April, awal Mei kembali memanggil saya ke aspal Yogyakarta, kali ini melalui ajang Jogja 10K yang ikonik di sepanjang kawasan Malioboro. Jika Milo Run terasa seperti pesta keluarga yang santai, Jogja 10K menawarkan sensasi sport tourism yang kental dengan budaya. Berlari sejauh 10 kilometer melintasi bangunan-bangunan bersejarah kota Jogja memberikan kepuasan tersendiri. Di rute ini, saya berkali-kali disalip oleh para pelari cepat dan atlet profesional yang melesat bagai anak panah. Alih-alih merasa minder, saya justru menikmati ritme lari santai saya sambil mengagumi arsitektur kota yang dilewati. Sorak-sorai warga lokal di pinggir jalan yang menyemangati para peserta menjadi bahan bakar emosional yang luar biasa bagi para pelari di barisan belakang seperti saya.

Melalui dua event besar di Yogyakarta ini, saya belajar bahwa esensi dari fun run dan lari jalan raya bukan melulu soal kompetisi. Berada di barisan tengah atau belakang tidak mengurangi nilai dari medali finisher yang menggantung di leher. Menuntaskan jarak 5K di bulan April dan bergerak naik ke 10K di bulan Mei adalah kemenangan pribadi atas rasa malas diri sendiri. Yogyakarta, dengan segala keramahan dan keindahan jalannya, telah sukses menjadi latar belakang yang sempurna bagi saya untuk merayakan hidup sehat lewat cara yang paling membahagiakan: berlari tanpa beban.

0 komentar:

Posting Komentar