18.6.26

ESAI 2 WAWANCARA TENTANG DISONASI KOGNITIF-MUHAMMAD FIRDAUS(23310410131)

Disonansi Kognitif dalam Perilaku Membuang Sampah Sembarangan

Nama : Muhammad Firdaus

NIM : 23310410131

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 2

Wawancara tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A



 Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika individu mengalami pertentangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku yang dilakukan. Menurut Harmon-Jones dan Mills (2019), individu akan berusaha mengurangi ketidaknyamanan tersebut dengan mencari pembenaran atas perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuannya.

Fenomena ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya pada perilaku membuang sampah sembarangan. Banyak orang mengetahui bahwa membuang sampah tidak pada tempatnya dapat merusak lingkungan, menyebabkan banjir, dan mencemari lingkungan. Namun, pada kenyataannya perilaku tersebut masih sering dilakukan. Oleh karena itu, dilakukan wawancara terhadap seorang individu untuk memahami bentuk disonansi kognitif yang terjadi.

Wawancara dilakukan kepada subjek berinisial “AR”, seorang laki-laki berusia 24 tahun yang bekerja sebagai karyawan swasta. Subjek mengaku sering membuang sampah sembarangan, terutama ketika berada di jalan atau tempat umum yang tidak tersedia tempat sampah. Menurutnya, kebiasaan tersebut sudah dilakukan sejak lama dan menjadi hal yang dianggap biasa.

Subjek sebenarnya memahami bahwa membuang sampah sembarangan memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. Ia mengetahui bahwa sampah dapat menyebabkan banjir dan mencemari lingkungan sekitar. Pengetahuan tersebut diperoleh dari pendidikan sekolah dan media sosial. Namun, subjek tetap melakukan perilaku tersebut dengan alasan praktis, seperti tidak ingin repot membawa sampah atau sulit menemukan tempat sampah.

Bentuk disonansi kognitif terlihat dari cara subjek membenarkan perilakunya. Ia beranggapan bahwa satu sampah kecil yang dibuang tidak akan memberikan dampak besar. Selain itu, subjek juga menyatakan bahwa banyak orang lain yang melakukan hal yang sama, sehingga ia merasa perilakunya masih wajar. Pernyataan ini menunjukkan adanya mekanisme pembenaran diri untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat konflik antara pengetahuan dan tindakan.

Subjek juga menyatakan bahwa pemerintah dan lingkungan sekitar kurang menyediakan fasilitas tempat sampah yang memadai. Hal ini dijadikan alasan tambahan untuk membenarkan perilakunya. Ia merasa bahwa tanggung jawab kebersihan tidak sepenuhnya berada pada individu, tetapi juga pada pihak lain. Dengan demikian, subjek dapat mempertahankan perilaku tersebut tanpa merasa terlalu bersalah.

Meskipun demikian, subjek mengaku merasa tidak nyaman ketika melihat lingkungan yang sangat kotor. Ia juga menyatakan bahwa dirinya akan membuang sampah pada tempatnya jika tersedia fasilitas yang mudah dijangkau. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya terdapat kesadaran dalam diri subjek, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah kebiasaan secara konsisten.

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami disonansi kognitif. Ia mengetahui dampak negatif dari membuang sampah sembarangan, tetapi tetap melakukannya dengan berbagai bentuk pembenaran, seperti menganggap dampaknya kecil, mengikuti kebiasaan orang lain, serta menyalahkan kurangnya fasilitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh kebiasaan, lingkungan, dan kenyamanan individu.

Daftar Pustaka

Harmon-Jones, E., & Mills, J. (2019). An Introduction to Cognitive Dissonance Theory and an Overview of Current Perspectives on the Theory. https://doi.org/10.1037/0000135-001

0 komentar:

Posting Komentar