Esai ini ditujukan untuk dipublikasikan di Klinik Psikologi atau Klinik Karir sebelum UTS.
Nama: Nunung Setyowati
NIM: 24310430208
Mata Kuliah: Psikologi Inovasi
Topik Utama: Menonjolkan coping behavior terbaik yang paling dibanggakan
My Best Coping Behavior
Dalam dinamika kehidupan, tekanan psikologis adalah sebuah keniscayaan yang akan terus menguji daya lenting manusia. Sebagai pembelajar di bidang psikologi, saya kerap bersinggungan dengan berbagai teori mengenai stres dan resiliensi di dalam kelas. Namun, pemahaman akademis saya baru benar-benar teruji ketika saya dihadapkan pada sebuah krisis nyata yang menjadi salah satu peristiwa paling menyakitkan secara emosional dan finansial dalam hidup saya. Esai ini merefleksikan perjalanan saya dalam mengelola krisis tersebut menggunakan strategi coping yang kini menjadi kebanggaan personal saya.
Peristiwa ini bermula dari bisnis penyewaan villa yang saya jalankan. Awalnya, segalanya berjalan ideal; seorang penyewa menunjukkan itikad baik dengan histori pembayaran yang lancar. Namun, stabilitas ini runtuh semenjak bulan September ketika pembayaran mulai terhenti. Situasi diperparah oleh kelalaian fatal di pihak internal kami. Bagian akuntansi terlambat menyadari dan melaporkan akumulasi tunggakan tersebut selama kurang lebih tiga bulan. Ketika saya menyadari kebocoran ini, upaya penagihan menjadi sangat rumit. Penerbitan invoice hingga langkah somasi tidak berjalan efektif karena kendala administratif dan komunikasi yang terputus. Puncak dari rasa frustrasi saya terjadi ketika terungkap sebuah fakta mengejutkan: penyewa tersebut ternyata adalah seorang penipu ulung yang juga beraksi di berbagai tempat lain, dan pelariannya berakhir di sebuah penjara di Kalimantan. Kerugian finansial yang masif, ditambah rasa dikhianati dan kebingungan menghadapi birokrasi, menciptakan tekanan emosional yang sangat menguras tenaga.
Pada fase awal, saya sempat mengalami kelumpuhan emosional akibat kecemasan. Namun, saya menyadari perlunya intervensi kognitif yang cepat. Coping behavior terbaik yang saya aplikasikan adalah kombinasi antara problem-focused coping dan meaning-focused coping. Menurut Carver dan Connor-Smith (2010), problem-focused coping berpusat pada tindakan aktif individu untuk memanipulasi atau mengubah sumber stres itu sendiri. Alih-alih meratapi kerugian finansial, saya mengarahkan energi untuk membenahi celah kelemahan operasional. Saya mereformasi sistem pelaporan akuntansi agar lebih real-time dan memperketat prosedur seleksi penyewa. Secara bersamaan, saya menggunakan meaning-focused coping untuk merekonstruksi makna dari musibah ini (Folkman, 2008). Saya memilih untuk melihat kerugian finansial tersebut sebagai "biaya pendidikan" manajemen krisis yang berharga. Layaknya filosofi kuda-kuda dan keseimbangan yang selalu saya pegang teguh dalam berlatih ketangkasan fisik, saya belajar untuk menyerap benturan realitas yang keras agar bisa menyusun kembali fondasi pertahanan yang jauh lebih kokoh.
Proses bangkit kembali (recovery) tentu tidak instan. Penerimaan atas keadaan yang sudah terjadi adalah langkah pertama yang paling berat. Namun, melalui penerimaan tersebut, saya mulai memupuk growth mindset, meyakini bahwa kapasitas psikologis saya untuk mengelola krisis akan berkembang seiring berjalannya waktu. Hal ini sangat sejalan dengan konsep resiliensi yang dikemukakan oleh Fletcher dan Sarkar (2013), yang menegaskan bahwa resiliensi psikologis bukanlah kemampuan ajaib untuk menghindari stres, melainkan kapasitas dinamis untuk menavigasi, beradaptasi, dan pada akhirnya bangkit menjadi lebih tangguh dari pengalaman traumatis.
Sebagai penutup, kemampuan untuk mengombinasikan tindakan taktis (problem-focused) dengan pemaknaan positif (meaning-focused) adalah the best coping behavior yang pernah saya lakukan. Pendekatan ini tidak hanya menyelamatkan kesehatan mental saya dari jurang keputusasaan, tetapi juga menghasilkan perbaikan nyata pada sistem kerja yang saya jalankan. Pengalaman menyakitkan ini memberikan wawasan mendalam (insight) untuk masa depan: bahwa ketangguhan psikologis sejati tidak pernah lahir dari kenyamanan, melainkan ditempa dari keberanian untuk merangkai ulang sebuah kegagalan menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi.
Daftar Pustaka
Carver, C. S., & Connor-Smith, J. (2010). Personality and coping. Annual Review of Psychology, 61, 679–704. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.093008.100352
Fletcher, D., & Sarkar, M. (2013). Psychological resilience: A review and critique of definitions, concepts, and theory. European Psychologist, 18(1), 12–23. https://doi.org/10.1027/1016-9040/a000124
Folkman, S. (2008). The case for positive emotions in the stress process. Anxiety, Stress, & Coping, 21(1), 3–14. https://doi.org/10.1080/10615800701740457
0 komentar:
Posting Komentar