ESAI 4 - My Best Copying Behavior
Badai Pasti Berlalu:
Ikhtiar, Coping, dan Tawakal di Masa Terberat
Nama : Ali Imron
NIM : 23310410123
Kelas : Kariawan
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Tugas : Esai 4 My Best Copying Behavior
Peristiwa paling berat dan menyakitkan yang pernah saya alami adalah saat saya menjadi bintara remaja pada agustus-november 2021. waktu itu adalah waktu bagi saya melaksanakan kegiatan fisik yang intens, mendapatkan tekanan mental yang berat dan dituntut untuk tetap bisa berfikir strategis, serta harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Saya mendapatkan tekanan itu semua dari rekan senior dan komandan saya, saya berkegiatan dari saat matahari belum bersinar sampai matahari sudah tidak terlihat lagi, ada waktu istirahat yang diberikan untuk saya manfaatkan dengan baik, jika tidak tubuh saya bisa drop dan tidak bisa melanjutkan kegiatan
Dalam rentan waktu tersebut saya sempat terfikir menjadi orang paling menderita sedunia dan merasa apakah saya kuat untuk melalui ini semua. Saya sempat bingung strategi coping apa yang bisa saya lakukan untuk melalui waktu tersebut. Sempat beberapa waktu saya hampir menyerah lalu saya mencoba menggunakan ‘reframing’ yang saya sampaikan ke diri saya sendiri, saya merubah kata kata putus asa yang terlintas dikepala menjadi kata kata motivasi, saya meyakinkan diri sendiri bahwa “badai pasti berlalu”, saya juga memperbanyak berserahdiri pada yang maha kuasa dan selalu percaya apa yang Allah sampaikan bahwa “Dia tidak akan menguji hambanya diluar kemampuannya”. Selain itu saya juga menggunakan emotion focused coping yang sehat dengan teman satu angkatan saya, kami saling menguatkan satu sama lain karena kami dituntut untuk bisa menjaga rahasia apa yang kami alami selama masa-masa ini dan harus bisa menyampaikan hal yang positif kepada orang lain selain dari pada angkatan saya. Hal ini menjadi lebih terasa berat karena saat itu kami tidak tahu sampai kapan hal itu akan berhenti.
Seiring berjalannya waktu akhirnya semua bisa terlalui, saya jadi paham kenapa saya harus melalui bulan berat tersebut. Karena pekerjaan saya ini pekerjaan yang memang membutuhkan hati yang kuat, fisik yang tidak gampang lelah, dan otak yang harus bisa diandalkan. Kami di bentuk untuk bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang membutuhkan. Saat kami benar kami tidak dipuji dan saat kami salah kami harus rela menerima konsekuensinya. Ada yang mengatakan ”terlambat bertindak masuk kuburan, terlalu cepat bertindak masuk penjara”.
Pelajaran dari peristiwa itu saya sadar bahwa coping behavior yang tepat dan hati yang berserah diri pada Allah sangat membantu kita pada masa masa sulit. Hal ini tidak didapat secara instan, namun dengan tidak menyerah pada keadaan, lakukan yang terbaik yang kita bisa, dan yakinlah Allah selalu ada dengan kita. Untuk kamu yang sedang masa masa sulit ingatlah pertolongan Allah itu dekat.

0 komentar:
Posting Komentar